Cerpen

Di Antara Dua Amanah

79
×

Di Antara Dua Amanah

Sebarkan artikel ini
Di Antara Dua Amanah

Ilustrasi cerpen Di Antara Dua Amanah (AI)

Pagi itu aku merasa utuh. Bukan karena mampu menyelesaikan semuanya, tetapi karena berani merawat dua amanah dengan seimbang

Cerpen oleh Haryanti Estuningdyah Ketua Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Sidoarjo

Tagar.co – Sore menjelang. Cahaya matahari perlahan meredup, berganti warna jingga yang menempel malu-malu di kaca jendela.

Aku memandang ke luar ketika suara notifikasi WhatsApp memecah keheningan. Dua pesan masuk hampir bersamaan. Dua undangan. Untuk esok hari. Di jam yang sama.

Yang satu dari pimpinan Aisyiyah, tempat aku berkhidmat lebih dari dua puluh tahun. Yang satu lagi pengingat jadwal terapi cucuku.

“Ah, kenapa waktunya harus bersamaan,” gumamku pelan.

Keduanya adalah amanah. Dan amanah tak pernah datang untuk dipilih sesuka hati. Lebih dari dua puluh tahun aku mengabdikan waktu, tenaga, dan pikiran di Aisyiyah.

Di sanalah aku belajar tentang pengabdian, tentang ikhlas, tentang memanfaatkan sisa umur sebagai bekal pulang kepada-Nya. Aku berjuang bersama perempuan-perempuan tangguh, mengurus umat dan masyarakat, tanpa pernah merasa rugi.

Namun sejak kelahiran Zafran tiga tahun lalu, duniaku berubah. Bukan runtuh, hanya bergeser.

Baca Juga:  Buih Sabun Menuju Mimpi

Saat usianya satu tahun, ia didiagnosis ASD—autisme.

“Bu, ini bukan penyakit,” kata dokter waktu itu dengan suara tenang. “ Ini kondisi. Zafran hanya membutuhkan pendampingan yang konsisten.”

Aku mengangguk. Tidak, aku tidak menyesali takdir Allah. Aku tahu, Allah tidak pernah salah menciptakan makhluk-Nya.

Yang sering kali tertatih hanyalah hati manusia dalam menerima. Kami tidak pernah menganggap Zafran sebagai beban. Ia adalah amanah—yang harus dijaga dan dirawat dengan sepenuh hati.

Autisme bukanlah penyakit yang harus disembuhkan. Ia adalah cara berbeda dalam memaknai dunia.Kuminum teh hangat, berharap gundah ikut larut di dalamnya. Pesan kembali masuk di grup pimpinan harian Aisyiyah.

“Bu, hampir semua kita ada kegiatan bersamaan,” tulis salah satu pimpinan.

“Iya, tapi acara tetap berjalan,” sahut yang lain.

“Bu Ketua mohon hadir ya, minimal untuk memberi sambutan.”

Dadaku mengencang. Hadir berarti meninggalkan Zafran lebih lama. Tidak hadir berarti meninggalkan amanah kepemimpinan.

Tiba-tiba Zafran sudah berdiri di sampingku. Rambutnya kusut, matanya bening. Di tangannya ada mobil-mobilan merah kesayangannya.

Baca Juga:  Mi Sahur Pukul 02.10

“Uti bingung, Nak,” bisikku tak berharap jawaban.

Sejenak dia menatapku, tangan mungilnya menyodorkan mobil merah itu ke pangkuanku, lalu bersandar di kakiku. Diam. Namun kehadirannya seperti jawaban yang menenangkan.

Malam itu aku berdoa lebih lama.

“Ya Allah,” bisikku, “Jika ini semua amanah-Mu, tuntun aku agar tidak lalai menjaga keduanya.”

Pagi menyapa dengan cahaya lembut. Aku mengantar Zafran ke tempat terapi lebih awal.

“Uti jemput nanti ya,” kataku sambil mengelus kepala dan menyelipkan doa untuknya.

Seolah paham, Zafran memberikan senyum manisnya dan berjalan digandeng Bu Nike, terapisnya memasuki ruangan.

Kulajukan sepeda motor ke acara Aisyiyah dengan sedikit tergesa. Aku datang sedikit terlambat, acara sudah dimulai.

“Mohon maaf, Bu, kami menunggu sambutannya,” kata panitia.

Aku berdiri di podium. Menatap wajah-wajah yang selama ini berjalan bersamaku dalam pengabdian.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…”

Suaraku terdengar tenang, meski hatiku terbagi. Aku menyampaikan sambutan singkat—tentang kebersamaan, tentang amanah, tentang ikhlas menjalani peran masing-masing.

Selesai memberi sambutan, aku mendekati pimpinan yang duduk di barisan depan.

Baca Juga:  Surat Keterangan Miskin yang Terlambat

“Mohon izin, Bu,” kataku pelan. “Saya tidak bisa lama berada di sini. Ada amanah lain yang menunggu.”

Beliau menggenggam tanganku.

“Kami paham. Terima kasih sudah hadir.”

Aku meninggalkan ruangan sebelum acara selesai, tanpa rasa bersalah. Langkahku kembali menuju tempat terapi.

Sepuluh menit aku menunggu sambil membaca Al-Qur’an,  Zafran keluar dari ruang terapi dengan senyum manisnya

“MasyaAllah,” kata Bu Nike, “Hari ini Zafran fokus sekali uti.” Tidak ada penolakan sama sekali.

Aku menahan haru. Sekecil apapun kemajuannya itu sudah membuatku bahagia. Semoga semakin hari progresnya semakin baik hingga kedepannya dia bisa mandiri.

Dalam perjalanan pulang, aku akhirnya mengerti: berkhidmat tidak selalu tentang hadir sampai akhir acara. Kadang ia tentang tahu kapan harus datang, dan kapan harus kembali.

Pagi itu aku merasa utuh. Bukan karena mampu menyelesaikan semuanya, tetapi karena berani merawat dua amanah dengan seimbang. (#)

Penyunting Ichwan Arif