Cerpen

Secangkir Kopi di Ujung Senja

85
×

Secangkir Kopi di Ujung Senja

Sebarkan artikel ini
Secangkir Kopi di Ujung Senja
Ilustrasi cerpen Secangkir Kopi di Ujung Senja (AI)

Hidupnya memang belum rapi, belum jelas, tapi ia baru saja diingatkan. Bahwa kehancuran bukan akhir, melainkan ruang kosong yang menunggu untuk diisi ulang.

Cerpen oleh Fanisa Dwi Listiani Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Modern Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Tagar.co – Amora menatap layar laptopnya dengan mata menyipit. Alis berkerut dalam dan bibir tertutup rapat, seolah satu kata pun enggan keluar.

Sudah tiga jam ia duduk di warung kopi pinggir jalan, namun proposal yang seharusnya selesai hari ini masih tersangkut di halaman kelima.

Jari-jarinya berhenti mengetik. Ia menghela napas panjang, bahunya turun lemas seperti balon yang kempes.

“Mbak, kopinya sudah dingin. Mau saya buatkan yang baru?” tanya Pak Joko, pemilik warung, dengan senyum ramah yang membuat kerutan di sudut matanya semakin dalam.

Amora menggeleng pelan, tangannya terangkat mengibas-ngibaskan tanda penolakan. “Tidak usah, Pak. Terima kasih.”

Namun Pak Joko sudah terlanjur mengambil cangkir kopinya. Amora hanya tersenyum tipis, lalu kembali menatap layar yang menyilaukan matanya.

Lima tahun. Lima tahun ia bekerja di perusahaan itu. Lima tahun menghabiskan waktu dari pagi hingga larut malam di depan komputer, mengejar target demi target. Dan hari ii, pagi tadi, atasannya memanggilnya ke ruangan dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.

“Amora, perusahaan sedang melakukan efisiensi. Maaf, kontrakmu tidak kami perpanjang.”

Kata-kata itu menghantam dadanya seperti pukulan tak terduga. Matanya membulat lebar, alis terangkat tinggi, mulutnya terbuka sedikit dalam keterkejutan. Tangannya yang sedang memegang pulpen jatuh ke meja dengan bunyi kecil. Napasnya terhenti seketika, seolah-olah udara di ruangan itu tiba-tiba menipis.

“Tapi… tapi saya selalu mencapai target, Pak,” suaranya keluar gemetar, nyaris berbisik.

Atasannya hanya menggelengkan kepala dengan wajah menyesal yang terlihat dipaksakan. “Ini keputusan dari pusat. Bukan tentang kinerjamu.”

Sekarang, di warung kopi Pak Joko, Amora menutup laptopnya dengan pelan. Tangannya bergetar setelah menutup laptop.

Matanya menatap kosong ke arah jalan raya di depannya, menyaksikan kendaraan berlalu-lalang, membawa orang-orang ke tempat tujuan mereka masing-masing. Sementara dirinya sendiri terasa tertinggal.

Baca Juga:  Di Balik Tangis Zafran, Ada Doa yang Tak Pernah Putus

“Ini kopinya, Mbak. Masih hangat,” Pak Joko meletakkan cangkir yang berisikan kopi baru di mejanya.

“Pak Joko,” Amora angkat bicara, suaranya lirih. “Bagaimana Bapak bisa bertahan dengan warung sekecil ini?”

Pak Joko menarik kursi dan duduk di hadapan Amora. Wajahnya yang keriput penuh dengan garis-garis kehidupan memancarkan keteduhan.

Matanya sayu, namun memancarkan kehangatan. Ia tersenyum lebar hingga giginya yang tidak lagi lengkap terlihat, lalu tangannya yang kasar menepuk-nepuk meja kayu dengan lembut.

“Warung kecil ini sudah menghidupi saya dua puluh tahun, Mbak. Dulu istri saya sempat bilang, ‘Jok, jualan kopi kok di pinggir jalan. Mending cari kerja kantoran.’ Tapi saya bilang, rezeki ada di mana-mana. Yang penting kita mau berusaha.”

Amora menunduk, jari-jarinya melingkari cangkir hangat di tangannya, seolah mencari pegangan.

“Sekarang istri Bapak di mana?” tanyanya pelan.

Pak Joko terdiam sebentar. Senyumnya memudar perlahan, seperti Cahaya yang ditarik senja. Wajahnya melembut penuh kenangan.

Matanya berkaca-kaca, tatapannya menerawang jauh ke masa lalu. Ia menarik napas dalam-dalam melalui hidung sebelum mampu bicara.

“Sudah lima tahun almarhumah meninggalkan saya. Tapi sebelum pergi, dia sempat bilang bahwa dia bangga. Bangga karena saya tidak pernah menyerah.”

Suaranya bergetar di akhir kalimat, tetapi menghantam dada Amora dengan keras. Jantung Amora seperti diremas. Tenggorokannya terasa sesak seperti dicekik, dadanya terasa berat seperti ditindih beban yang tak terlihat.

Matanya mulai memanas, air mata menggenang di pelupuk mata. Ia mengedipkan mata cepat-cepat, berusaha menahannya agar tidak jatuh.

“Mbak,” Pak Joko melanjutkan, tangannya yang kurus keriput sekarang menyentuh punggung tangan Amora dengan lembut.

“Saya lihat Mbak ke sini hampir setiap hari. Selalu dengan wajah lelah dan mata sembab. Seperti orang yang sedang mencari sesuatu, tapi tidak tahu apa. Sebenarnya apa yang Mbak sedang cari?”

Pertanyaan itu membuat air mata Amora jatuh, mengalir perlahan di pipinya. Bibirnya yang pucat bergetar, dagunya naik turun berusaha menahan isak. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, tangannya mengepal di atas meja hingga jarinya memutih.

Baca Juga:  Jalan Pulang

“Saya… saya tidak tahu lagi, Pak. Saya sudah bekerja keras. Tapi hari ini saya di-PHK.” Ia terdiam sejenak, menelan sesak. “Saya merasa seperti gagal total.” Suaranya pecah dengan isak tangis yang ditahan.

Pak Joko menggeleng perlahan, kepalanya bergerak dari kiri ke kanan dengan tenang. Ia tersenyum tipis, penuh pengertian. Tangannya menepuk-nepuk punggung tangan Amora seakan-akan itu bisa untuk menenangkan.

“Mbak,” katanya lembut, “kegagalan itu bukan akhir. Itu hanya tikungan. Jalan masih panjang. Istri saya dulu sering bilang, ‘Kalau jatuh, bangun lagi. Kalau capek, istirahat dulu. Tapi jangan pernah berhenti.”

Amora mengangkat wajahnya. Matanya merah dan basah, tapi ada separuh cahaya baru di sana. Alisnya masih berkerut, tapi tidak selemas tadi.

Ia menyeka air matanya dengan punggung tangannya, lalu menarik napas dalam-dalam. Dadanya naik turun perlahan, berusaha menenangkan badai dalam dirinya.

“Tapi saya harus mulai dari mana, Pak?” tanyanya lirih. “Saya sudah kehilangan pekerjaan. Arah saya kabur. Rasanya… saya tidak punya apa-apa lagi.”

Pak Joko berdiri, tangannya menunjuk ke sekeliling warungnya yang sederhana; meja kayu sederhana, bangku plastik, kompor kecil di sudut, dengan aroma kopi yang menggantung di udara. Matanya berbinar, wajahnya berseri-seri dengan kebanggaan yang tulus.

“Lihat warung ini, Mbak. Saya mulai dengan tiga meja kayu bekas dan kompor gas. Sekarang sudah ada sepuluh meja dan pelanggan tetap. Semua butuh proses.” Ia menatap Amora. Yang Mbak butuhkan sekarang bukan kesempurnaan, tapi keberanian untuk memulai lagi.”

Kata-kata Pak Joko tersimpan di hati Amora. Ia menatap cangkir kopinya yang masih mengepul. Perlahan, bibirnya melengkung ke atas membentuk senyum tipis.

Dadanya terasa lebih ringan, bahunya tidak lagi membungkuk. Ia menegakkan punggungnya, mengangkat dagu dengan sedikit lebih tinggi.

“Terima kasih, Pak Joko. Saya rasa saya tahu apa yang harus saya lakukan sekarang.”

Pak Joko mengangguk, senyumnya lebar. Tangannya terangkat memberi jempol. “Nah, itu baru semangat! Oh iya, kalau Mbak butuh pekerjaan sampingan, warung saya butuh orang untuk membantu di sore hari. Gaji tidak seberapa, tapi lumayan untuk isi perut sambil mencari jalan.”

Baca Juga:  Surat Keterangan Miskin yang Terlambat

Amora tertawa kecil. Suaranya masih sedikit serak, tapi terdengar lebih ringan. Matanya berbinar, kali ini bukan karena air mata, tapi karena harapan baru yang mulai tumbuh. Tangannya menggenggam cangkir lebih erat, merasakan kehangatan yang menjalar.

“Boleh, Pak,” katanya mantap. “Saya terima.”

Senja mulai memerah di ufuk barat. Langit berubah warna dari biru ke jingga kemerahan, menciptakan gradasi yang indah. Cahaya senja menyinari warung kopi kecil itu dengan hangat.

Amora duduk di sana lebih lama sambil minum kopinya dengan pelan-pelan, merasakan setiap tegukan dengan kesadaran baru.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, ia merasa lega. Hidupnya memang belum rapi, belum jelas, tapi ia baru saja diingatkan. Bahwa kehancuran bukan akhir, melainkan ruang kosong yang menunggu untuk diisi ulang.

Napasnya keluar panjang, bahunya rileks, dan ekspresi wajahnya damai. Hidupnya memang sedang berantakan, tapi ia baru saja diingatkan bahwa di setiap kehancuran, selalu ada ruang untuk membangun sesuatu yang baru.

Dan kadang, yang kita butuhkan hanyalah secangkir kopi hangat dan seseorang yang mengingatkan kita bahwa hidup masih panjang, bahwa masih ada hari esok yang menunggu untuk kita tulis dengan tinta baru.

Amora tersenyum. Senyum yang kali ini mencapai matanya, membuat sudut matanya berkerut dengan lembut.

Tangannya membuka laptop kembali, jari-jarinya mulai menari di atas keyboard dengan ritme baru bukan untuk proposal yang lama, tapi untuk rencana hidup yang baru.

Dan Pak Joko, dari jauh tempat duduk Amora, tersenyum melihat perubahan itu. Tangannya melipat di dada, kepalanya mengangguk puas.

Ia tahu, hari ini ia tidak hanya menyeduh kopi; namun ia ikut menyeduh keberanian dalam hidup Amora yang hampir hilang arah.

Itulah kehidupan. Penuh liku, penuh air mata, tapi juga penuh dengan secangkir kopi hangat dan tangan-tangan yang terulur untuk membantu kita bangkit kembali. (#)

Penyunting Ichwan Arif

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…