Opini

Ketua Bukan Segalanya

57
×

Ketua Bukan Segalanya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Organisasi tidak akan maju jika bertumpu pada satu figur. Ia hanya tumbuh melalui sinergi kepengurusan, kepemimpinan yang memberi teladan, dan anggota yang sadar akan perannya.

Oleh Sugianto

Tagar.co — “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Pesan pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, itu tidak hanya relevan dalam konteks sejarah, tetapi tetap aktual sebagai pedoman berorganisasi hari ini.

Sebuah organisasi yang kuat tidak pernah berdiri di atas satu figur semata. Ia tumbuh dari kerja kolektif, dipelihara oleh kekompakan, dan diarahkan oleh nilai-nilai yang disepakati bersama.

Dalam organisasi, kemajuan bukan semata ditentukan oleh ketua, melainkan oleh sinergi kepengurusan dan dukungan anggota. Di titik inilah prinsip organisasi yang kompak, solid, dan berdampak menemukan maknanya.

Baca juga: Sakit Bukan Satu-satunya Alasan untuk Berhenti Mengabdi

Ketua memang memegang peran strategis sebagai penentu arah dan penjaga visi. Namun, kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, melainkan dari sejauh mana ia mampu menggerakkan potensi kolektif.

John C. Maxwell dengan tepat menegaskan bahwa pemimpin hebat adalah mereka yang mampu menciptakan lebih banyak pemimpin. Nilai ini sejalan dengan ajaran K.H. Ahmad Dahlan yang menekankan keikhlasan, kerja bersama, dan pengabdian, bukan kultus ketokohan.

Baca Juga:  Dua Dunia dalam Satu Bangku: Tantangan Sekolah dengan Siswa Mayoritas Santri

Kekompakan dalam kepengurusan merupakan fondasi utama organisasi yang sehat. Kompak berarti saling percaya, saling menghargai peran, serta saling menopang dalam menjalankan amanah. Dalam kepengurusan yang kompak, perbedaan pandangan tidak menjadi sumber konflik, melainkan ruang musyawarah untuk memperkuat keputusan.

Tokoh Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo, pernah menegaskan bahwa persatuan adalah kekuatan umat, sedangkan perpecahan merupakan awal dari kelemahan. Pesan ini menegaskan bahwa kekompakan bukan sekadar sikap moral, melainkan kebutuhan strategis agar organisasi tetap kokoh menghadapi tantangan zaman.

Namun, kekompakan saja tidak cukup. Organisasi juga harus solid. Soliditas berarti kesatuan visi, konsistensi langkah, serta loyalitas terhadap keputusan bersama. Organisasi yang solid tidak mudah goyah oleh kepentingan pribadi, tidak rapuh oleh perbedaan pandangan, dan tidak terpecah oleh isu-isu sesaat.

Mohammad Hatta pernah mengingatkan bahwa kejujuran adalah modal utama dalam membangun kepercayaan. Dalam Muhammadiyah, nilai kejujuran dan integritas merupakan bagian tak terpisahkan dari gerakan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan kolektif, bukan milik perseorangan atau kelompok tertentu. Pernyataan ini menguatkan bahwa soliditas hanya akan terwujud jika kepentingan perserikatan ditempatkan di atas kepentingan pribadi.

Dalam konteks ini, peran ketua bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai pemersatu dan pelayan gerakan. Jenderal Soedirman pernah berkata bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang memberi teladan, bukan sekadar perintah. Prinsip ini sejalan dengan kepemimpinan Muhammadiyah yang menekankan keteladanan, kesederhanaan, dan keberpihakan pada nilai-nilai luhur.

Baca Juga:  Jebakan Mikromanajemen: Ketika Pemimpin Kehilangan Horizon Strategis

Selain kepengurusan yang kompak dan solid, dukungan anggota merupakan elemen vital dalam perjalanan organisasi. Anggota adalah ruh gerakan. Tanpa partisipasi anggota, organisasi akan kehilangan daya hidupnya.

Peter Drucker menyatakan bahwa organisasi ada untuk menjadikan kekuatan manusia efektif. Kekuatan itu hanya akan muncul jika anggota diberi ruang untuk berperan dan berkontribusi secara bermakna.

Dalam Muhammadiyah, anggota bukan sekadar pengikut, melainkan pelaku dakwah dan tajdid. Din Syamsuddin pernah menegaskan bahwa Muhammadiyah akan besar jika warganya merasa memiliki dan terlibat aktif. Keterlibatan inilah yang menumbuhkan rasa memiliki sekaligus memperkuat dukungan dari akar rumput.

Kekompakan pengurus, soliditas kepemimpinan, dan dukungan anggota pada akhirnya bermuara pada satu tujuan utama: dampak. Organisasi yang berdampak adalah organisasi yang kehadirannya dirasakan, manfaatnya nyata, dan kontribusinya berkelanjutan. Nelson Mandela mengingatkan bahwa apa yang kita lakukan jauh lebih berarti daripada apa yang kita katakan.

Dalam konteks Muhammadiyah, dampak itu terwujud melalui amal usaha, gerakan sosial, pendidikan, kesehatan, dan dakwah yang mencerahkan. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah mengatakan bahwa yang terpenting bukan siapa kita, melainkan apa yang kita lakukan untuk kemanusiaan. Nilai ini sejalan dengan semangat Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan.

Baca Juga:  Dua Dunia dalam Satu Bangku: Tantangan Sekolah dengan Siswa Mayoritas Santri

Agar tetap kompak, solid, dan berdampak, evaluasi harus dilakukan secara berkelanjutan. Kritik perlu dipandang sebagai ikhtiar perbaikan, bukan ancaman. Perbedaan dikelola melalui musyawarah, bukan dipertentangkan secara destruktif. Pimpinan, pengurus, dan anggota memiliki tanggung jawab yang sama dalam menjaga arah dan nilai organisasi.

Henry Ford menyatakan bahwa datang bersama adalah awal, tetap bersama adalah kemajuan, dan bekerja bersama adalah keberhasilan. Ungkapan ini sejalan dengan spirit gotong royong dan kolektivitas yang menjadi ciri khas Muhammadiyah sejak awal berdirinya.

Pada akhirnya, kompak, solid, dan berdampak bukan sekadar slogan, melainkan budaya gerakan yang harus terus dihidupkan. Ketika kepemimpinan berjalan dengan keteladanan, pengurus bekerja dengan keikhlasan, dan anggota bergerak dengan kesadaran, organisasi tidak hanya akan bertahan, tetapi juga terus memberi manfaat bagi umat dan bangsa.

Sebagaimana pesan K.H. Ahmad Dahlan, “Berbuatlah kebaikan, walau sedikit, tetapi terus-menerus.” Dari kebaikan yang dikerjakan bersama, lahirlah kekuatan. Dari kekuatan itulah, dampak besar akan terwujud. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni