Feature

Menata Hati lewat Riyadus Salihin di Masjid Al-Ghifari Blitar

78
×

Menata Hati lewat Riyadus Salihin di Masjid Al-Ghifari Blitar

Sebarkan artikel ini
Masjid Al-Ghifari Blitar menggelar Kajian Saroja Subuh yang mengupas tuntas Kitab Riyadus Salihin karya Imam An-Nawawi untuk membimbing umat dalam memperbaiki akhlak, ibadah, dan keikhlasan niat.
Ustaz Choirur Roziqin Manapsir, B.A., M.A., Ph.D., dalam Kajian Kitab Riyadus Salihin Masjid Al-Ghifari Blitar, Sabtu (17/1/2026). (Tagar.co/Agus Fawaid)

Masjid Al-Ghifari Blitar menggelar Kajian Saroja Subuh yang mengupas tuntas Kitab Riyadus Salihin karya Imam An-Nawawi untuk membimbing umat dalam memperbaiki akhlak, ibadah, dan keikhlasan niat.

Tagar.co — Udara dingin Kota Blitar pada Sabtu, 17 Januari 2026, tidak menyurutkan langkah puluhan jemaah menuju Masjid Al-Ghifari. Selepas salat Subuh berjemaah, suasana masjid yang beralamat di Jalan Sumba Nomor 38, Kelurahan Karangtengah ini terasa hangat. Yayasan Al-Ghifari bersama Takmir Masjid kembali menggelar Kajian Saroja Subuh, sebuah ruang diskusi spiritual yang kali ini membedah kitab fenomenal: Riyadus Salihin.

Kitab legendaris karya Imam An-Nawawi ini bukan sekadar barisan hadis. Ialah kompas bagi umat Islam untuk memperbaiki akhlak dan ibadah sehari-hari. Imam An-Nawawi, ulama besar asal Suriah yang wafat pada usia 45 tahun, menyusun kitab ini dengan dedikasi tinggi. Meski berumur pendek, karya-karyanya tetap abadi dan menjadi rujukan utama dunia Islam hingga kini.

Ustaz Choirur Roziqin Manapsir, B.A., M.A., Ph.D., hadir sebagai pemateri. Sosok yang sudah mengenyam pendidikan pesantren sejak usia 10 tahun ini membawa narasi yang menyejukkan. Ia mengajak jemaah melihat ilmu bukan sebagai beban, melainkan jalan setapak menuju Sang Pencipta.

Baca Juga:  Siswa Spemdalas dan Mahasiswa Asal Tiongkok Belajar Batik Pitutur Cerme

“Kalau baik dikerjakan, kalau buruk ditinggalkan, semua itu untuk menuju kepada Allah,” tegasnya di hadapan jemaah yang menyimak dengan saksama.

Ustaz Choirur memberikan penekanan khusus pada konsep zuhud yang sering disalahpahami. Baginya, zuhud bukan berarti meninggalkan harta, melainkan menempatkan dunia di luar hati. Ia menganalogikan harta seharusnya berada di genggaman tangan, bukan bersemayam di dalam kalbu.

“Kalau dunia ada di hati, maka hidup bisa terasa susah,” jelasnya.

Ia mendorong jemaah untuk rutin melakukan “olahraga hati” agar tidak terjebak dalam kendali hawa nafsu. Menurutnya, merapikan akhlak harus selalu selaras dengan panduan syariat.

Keikhlasan: Pondasi Utama Setiap Amal

Memasuki bab pertama Riyadus Salihin, diskusi berfokus pada urgensi ikhlas. Ustaz Choirur menegaskan, niat yang tulus adalah kunci utama, baik dalam ibadah yang tampak nyata maupun yang tersembunyi. Ia bahkan menyarankan sebuah tradisi kecil namun bermakna antara pendidik dan murid.

“Guru dan murid perlu saling mengucapkan ikhlas sebelum belajar,” katanya.

Untuk memperkuat argumen tersebut, ia menyitir Surat Al-Bayyinah ayat 5. Ayat ini menegaskan, manusia tidak mendapat perintah kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan. Ia juga mengingatkan jemaah akan bahaya syirik, mulai dari syirik kecil yang tergolong dosa besar hingga syirik besar yang dapat membatalkan keislaman seseorang.

Baca Juga:  Ketika Lautan Ekspresi Siswa Mudabo Menggema di Gedung Serba Guna

Dalam penjelasannya, Ustaz Choirur membawa jemaah menyelami sejarah. Ia menceritakan silsilah nabi, menyebutkan bahwa Nabi Musa dan Nabi Isa merupakan keturunan Nabi Ibrahim. Ia juga menekankan makna hanif sebagai ajaran yang lurus dan murni sebelum mengalami penyelewengan sejarah. Menurutnya, ibadah seperti salat dan zakat sejatinya telah ada di setiap kitab samawi, meski dengan tata cara yang berbeda-beda.

Ibadah Hati dan Kehangatan Ukhuwah

Kajian semakin mendalam saat membahas hakikat kurban dan sedekah. Mengutip Surat Al-Hajj ayat 37, Ustaz Choirur menjelaskan, Allah tidak melihat fisik kurban, melainkan ketakwaan pelakunya.

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu,” tuturnya mengutip ayat tersebut.

Ia menegaskan, Allah tidak menilai jumlah atau bentuk fisik ibadah, melainkan usaha dan keikhlasan. Niat, menurutnya, adalah ibadah hati yang paling murni.

“Niat pulalah yang membedakan apakah sebuah perbuatan bernilai pahala, berstatus wajib, atau sekadar rutinitas tanpa makna,” ungkapnya.

Terkait sedekah, ia berpesan agar umat tidak perlu ragu atau meminta didoakan secara berlebihan karena Allah telah menjamin pahalanya.

Baca Juga:  Dua Tim Spemdalas Lolos OPSI 2026, Usung Inovasi Ramah Lingkungan dan Teknologi Sungai

Acara pagi itu ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif dan doa bersama yang khusyuk. Namun, kebersamaan tidak berhenti di situ. Masjid dua lantai yang sejuk dengan fasilitas AC dan CCTV ini menyediakan sarapan gratis bagi seluruh jemaah. Di tengah rimbunnya pepohonan dan taman bunga di halaman masjid, para jemaah menikmati hidangan pagi, merajut ukhuwah dalam suasana penuh kehangatan. (#)

Jurnalis Agus Fawaid Penyunting Sayyidah Nuriyah