Telaah

Ujian Kesetiaan di Tengah Kenyamanan Rumah Tangga

77
×

Ujian Kesetiaan di Tengah Kenyamanan Rumah Tangga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Banyak laki-laki jatuh bukan karena kekurangan, melainkan karena lengah menjaga amanah ketika rumah tangga terasa nyaman, hidup tampak mapan, dan kesetiaan perlahan diuji tanpa gejolak besar.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Tulisan ini adalah pengingat lembut namun tegas bagi para laki-laki agar tidak tergelincir ketika hidup terasa mapan dan nyaman. Saat harta, pasangan, dan anak telah Allah titipkan, justru di situlah ujian keimanan bekerja paling halus. Narasi ini mengajak kembali pada amanah, kesetiaan, dan kesadaran akhirat dengan tuntunan wahyu.

Ada fase dalam hidup seorang laki-laki ketika segalanya tampak sudah lengkap. Penghasilan terasa cukup, rumah tangga terlihat tenang, istri setia, anak-anak tumbuh dengan tawa.

Baca juga: Keutamaan Salat Syuruk: Kapan dan di Mana Dilaksanakan, serta Bedanya dengan Duha

Pada fase inilah sering kali ujian datang bukan dalam bentuk kekurangan, melainkan kelalaian. Hati mulai lengah, mata mulai berani melirik, dan bisikan nafsu dibungkus kata-kata sederhana bernama jenuh.

Baca Juga:  Ramadan Datang, Sudahkah Batin Kita Siap?

Padahal Allah telah mengingatkan bahwa kenikmatan dunia bukan ukuran keselamatan, melainkan ujian yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan jangan pula kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (Al-Anfal: 27).

Keluarga adalah amanah. Istri adalah amanah. Anak-anak adalah amanah. Mengkhianati kesetiaan pasangan bukan sekadar dosa pribadi, tetapi pelanggaran terhadap amanah Ilahi.

Ketika kejenuhan muncul, Islam tidak pernah mengajarkan pelarian, apalagi pembenaran maksiat. Yang diajarkan adalah musyawarah, dialog, dan usaha memperbaiki. Allah menegaskan,

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Artinya: Dan bergaullah dengan mereka, para istri itu, secara patut. (An-Nisa: 19).

Bergaul secara patut mencakup berbicara dari hati ke hati, mencari solusi bersama, serta menghidupkan kembali kehangatan yang mungkin meredup oleh rutinitas.

Ingatlah kembali masa-masa awal bersama pasangan. Saat belum ada apa-apa, saat cinta diikat oleh kesabaran dan harapan. Rasulullah ﷺ mengajarkan makna kesetiaan itu dalam sabdanya,

Baca Juga:  Catatan Kecil di Dompet Arman

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

Artinya: Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku. (Tirmizi).

Kebaikan kepada keluarga bukan hanya soal nafkah, tetapi juga menjaga hati agar tidak berpaling pada yang haram.

Kesenangan sesaat yang lahir dari pelanggaran sering disamarkan sebagai kebahagiaan. Padahal Al-Qur’an mengingatkan,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran: 185).

Apa yang tampak manis hari ini bisa menjadi api penyesalan esok hari. Bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi anak-anak yang masa depannya runtuh karena kesalahan orang tuanya.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan tentang tanggung jawab seorang pemimpin keluarga,

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. (Bukhari dan Muslim).

Seorang ayah adalah pemimpin. Setiap pilihan moralnya akan dimintai hisab, bukan hanya dampaknya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Baca Juga:  Drama Semalam di IGD

Penyesalan selalu datang belakangan. Ketika kepercayaan hancur, ketika doa anak-anak berubah menjadi luka, saat itu waktu tidak bisa diputar ulang. Allah mengingatkan gambaran orang-orang yang menyesal,

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ إِذْ قُضِيَ الْأَمْرُ

Artinya: Dan berilah mereka peringatan tentang hari penyesalan, ketika segala perkara telah diputus. (Maryam: 39).

Penyesalan di akhirat tidak lagi membuka pintu perbaikan.

Karena itu, ketika energi berlebih dan jiwa gelisah, arahkan pada hal-hal yang berfaedah: tantangan baru dalam pekerjaan, bisnis yang halal, atau ibadah yang lebih khusyuk. Nafsu tidak untuk dimatikan, tetapi ditundukkan dan diarahkan. Inilah makna takwa yang sejati.

Tulisan ini juga menjadi cermin bagi penulisnya sendiri. Sebab setiap nasihat sejatinya pertama kali ditujukan untuk diri sendiri, agar hati tetap terjaga, amanah tetap utuh, dan api rumah tangga tetap menyala dalam rida Allah. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…