OpiniUtama

‘Pramugari’ Khairun Nisa: Cermin Retak Negeri Pencitraan

102
×

‘Pramugari’ Khairun Nisa: Cermin Retak Negeri Pencitraan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kisah Khairun Nisa mengungkap kegelisahan sosial bangsa: kegagalan dipermalukan, kepura-puraan dirayakan, seragam palsu berkelindan dengan ijazah palsu, simbol lebih dipercaya daripada kompetensi, dan kejujuran kian terpinggirkan di tengah pusaran pencitraan.

Oleh Ulul Albab; Ketua ICMI Jawa Timur

Tagar.co – Saya membaca kisah Khairun Nisa dengan perasaan campur aduk. Ada kaget, ada sedih, ada pula rasa tidak tega. Bahkan tanpa terasa, air mata menitik. Benar-benar trenyuh.

Seorang perempuan muda mengenakan seragam pramugari, mondar-mandir di bandara, lalu ikut naik pesawat. Bukan untuk bekerja, melainkan demi satu tujuan sederhana sekaligus berat: agar terlihat berhasil di mata orang tua dan lingkungannya.

Baca juga: Drama Psikologis di Balik Viral “Pramugari” Khairun Nisa

Ia akhirnya ketahuan. Viral. Diadili warganet. Dinyinyiri. Ditertawakan. Padahal, jika kita mau jujur, yang dilakukan Nisa sangat “Indonesia”. Bukan karena tindakannya benar, tetapi karena cara bertahan hidupnya sangat akrab dengan keseharian kita.

Nisa bukan sekadar “pramugari gadungan”. Ia adalah potret telanjang tentang betapa mahal harga sebuah penampilan sukses di negeri ini.

Seragam dan Harga Diri

Bagi sebagian orang, seragam hanyalah pakaian kerja. Namun bagi anak muda seperti Nisa, seragam adalah simbol: bukti bahwa ia “jadi orang”, bahwa orang tuanya tidak salah membesarkan anak, bahwa ia tidak kalah dari tetangga, saudara, atau teman sebaya.

Baca Juga:  Ketika Negara Memanggil: Harus Ada Batas antara Mobilisasi dan Kebebasan Warga

Dalam psikologi perilaku, ini disebut tekanan ekspektasi sosial. Ketika kegagalan tidak diberi ruang, kepura-puraan sering menjadi jalan pintas—jalan darurat. Bukan karena niat ingin menipu, tetapi karena takut dicap gagal.

Dan di titik ini, Nisa tidak sendirian. Kita semua pernah “menjadi Nisa”. Pulang kampung naik mobil sewaan agar tampak sukses. Memoles cerita pekerjaan agar terdengar mapan. Membeli barang di luar kemampuan demi menjaga gengsi. Atau setidaknya berpura-pura “baik-baik saja” ketika hidup sedang compang-camping.

Kita menertawakan Nisa, padahal dalam skala berbeda, kita semua pernah meminjam simbol kesuksesan. Bedanya, Nisa tertangkap kamera. Kita tidak.

Dari Seragam Palsu ke Gelar dan Ijazah Palsu

Pola yang sama hidup subur di level lebih tinggi. Isu gelar dan ijazah palsu menyeret pejabat publik. Ada yang diragukan keabsahannya, saling lapor, berdalih, bahkan menghindar. Padahal, ijazah bukan sekadar kertas, melainkan legitimasi untuk mengambil keputusan atas nasib orang banyak.

Jika Nisa meminjam seragam untuk membahagiakan orang tuanya, elite yang meminjam gelar dan ijazah meminjam legitimasi negara.

Baca Juga:  ICMI Jatim Desak Pemerintah Terbuka soal Mandat Indonesia di Board of Peace

Secara psikologis, akarnya sama: ingin terlihat layak. Secara etis, dampaknya jauh berbeda: Nisa melukai dirinya sendiri; elite melukai sistem dan kepercayaan publik.

Ironisnya, yang kecil cepat dihakimi, yang besar sering diberi waktu untuk “klarifikasi”.

Negeri Pencitraan

Kita hidup di negeri yang sangat percaya pada tampilan. Pengusaha dinilai dari mobilnya, politisi dari baliho dan slogan, pejabat dari laporan rapi, perusahaan dari kantor mentereng. Padahal tidak sedikit yang hidup dari utang, citra, dan rekayasa narasi.

Bahkan ada politisi yang mengakui bahwa lima tahun menjabat belum cukup untuk menutup biaya politik. Ia meminta masa jabatan DPR diperpanjang menjadi sepuluh tahun. Artinya, sejak awal kekuasaan telah dibebani logika balik modal. Jika ini bukan kepura-puraan struktural, lalu apa namanya?

Khairun Bukan Anomali, Ia Gejala

Karena itu, Nisa tidak layak dijadikan bahan olok-olok. Ia bukan anomali, melainkan gejala sistem sosial yang terlalu keras pada kegagalan dan terlalu lunak pada pencitraan.

Pertanyaannya bukan hanya “Mengapa Nisa berbohong?”, tetapi “Mengapa kejujuran terasa begitu menakutkan?” Mengapa gagal bekerja dianggap memalukan? Mengapa proses panjang kalah oleh hasil instan? Mengapa simbol lebih dipercaya daripada kompetensi?

Baca Juga:  Ibnu Muljam dan Pelajaran Nuzululquran: Saat Al-Qur'an Dibaca tanpa Hikmah

Jalan Keluar: Beradab, Bukan Menghakimi

Kasus ini seharusnya melahirkan empati sekaligus koreksi sistem. Alih-alih menghancurkan masa depan Khairun, bukankah lebih bermakna jika kita membuka akses pelatihan kerja, memberi jalur pembinaan, atau menciptakan program afirmatif bagi korban penipuan calo kerja?

Dan lebih jauh lagi: perketat verifikasi ijazah pejabat, perbaiki rekrutmen berbasis merit, hentikan budaya memuja tampilan kosong.

Bangsa besar bukan bangsa yang paling pandai menutup kelemahan, melainkan yang berani mengakuinya dan memperbaikinya.

Penutup

Khairun Nisa adalah cermin. Seragam palsu, gelar palsu, ijazah palsu, pencitraan palsu—semuanya berada dalam satu garis lurus: hasrat ingin tampak berhasil tanpa kesiapan substansi.

Jika kita hanya menertawakan cermin itu, kita kehilangan pelajaran. Jika marah tanpa refleksi, kita kehilangan arah.

Mungkin sudah waktunya bangsa ini berhenti sibuk terlihat sukses dan mulai serius menjadi benar-benar layak disebut berhasil. Karena yang menyelamatkan masa depan bukan penampilan, melainkan kejujuran yang dibangun melalui proses panjang dan kerja nyata. Apa adanya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni