
Keluarga besar Bani Djamali Blitar menggelar reuni tahunan untuk mempererat persaudaraan sekaligus mengenang perjuangan Mbah Jamali, tokoh Syarikat Islam yang pernah menjalani pengasingan di Digul.
Tagar.co — Keluarga besar Bani Djamali Blitar kembali menghidupkan tradisi tahunan melalui agenda reuni yang penuh kehangatan. Puluhan anggota keluarga dari berbagai daerah memadati kediaman Lies Purwanti, istri dari Chamim, di Jalan Raya Tawangbrale, Desa Tawangsari, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Sejak pukul 08.00 WIB, suasana akrab menyelimuti pertemuan yang bertujuan mempererat tali silaturahim antaranggota keluarga besar ini, Sabtu (27/12/2025)
Panitia reuni merancang kegiatan ini secara berpindah-pindah setiap tahunnya. Mereka menerapkan sistem giliran agar setiap keluarga besar merasakan peran sebagai tuan rumah. Langkah ini terbukti efektif menjaga kohesi sosial di internal keluarga yang kini sudah tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia.
Chamim, mewakili tuan rumah, mengungkapkan rasa syukur mendalam atas antusiasme para kerabat yang hadir. “Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh keluarga besar Bani Djamali. Semoga silaturahim ini terus terjaga dan nilai-nilai perjuangan leluhur tetap hidup di tengah keluarga,” tuturnya dengan nada haru.
Mengenang Kegigihan Pejuang Syarikat Islam
Pertemuan ini bukan sekadar ajang melepas rindu. Reuni kali ini menjadi momentum penting untuk menanamkan literasi sejarah keluarga kepada generasi muda. Badrijah Wachid, salah satu sesepuh keluarga, membagikan fragmen sejarah mengenai sosok yang akrab dengan sapaan Mbah Jamali, yang merupakan akar dari silsilah besar ini.
“Mbah Jamali adalah pejuang melawan penjajah Belanda yang bergabung dalam Syarikat Islam. Karena kegigihannya bersama rekan-rekannya, penjajah membuang beliau ke Digul,” ungkap Badrijah di hadapan anak cucu Bani Djamali.
Badrijah merinci, Mbah Jamali tidak sendirian dalam masa pengasingan tersebut. Tokoh-tokoh lain seperti Mbah Mad Dasim, Mbah Kafrawi, Mbah Syuhadak, Mbah Imam Bukhori, dan Mbah Djapar turut menjadi sasaran represi kolonial. Pemerintah Hindia Belanda mengasingkan mereka ke wilayah Boven Digul, Papua, sekitar tahun 1927 hingga 1937. Beberapa di antaranya bahkan sempat berpindah pengasingan ke Banda Neira, Maluku.
Warisan Pensiun dan Regenerasi Keluarga
Perjuangan para leluhur ini akhirnya berbuah manis pascakemerdekaan Republik Indonesia. Pemerintah memberikan pengakuan resmi sebagai veteran perang kepada mereka.
“Setelah Indonesia merdeka, para pejuang tersebut mendapatkan pengakuan sebagai veteran dan menerima dana pensiun. Sepulang dari pengasingan, mereka kembali membabad lahan dan menetap sebagai petani,” lanjut Badrijah menjelaskan masa tua para pejuang tersebut.
Kini, keturunan Mbah Jamali telah berkembang pesat hingga mencapai ratusan orang. Mengingat persebaran anggota keluarga yang semakin luas, sesepuh berharap ada pembaruan data silsilah secara berkala. Badrijah mengajak seluruh anggota keluarga untuk proaktif menghadiri setiap agenda tahunan agar garis keturunan tidak terputus (obas-abus).
Melalui reuni ini, Bani Djamali ingin memastikan, generasi muda tidak hanya mewarisi nama besar, tetapi juga semangat pantang menyerah. Pertemuan rutin ini menjadi benteng pertahanan bagi persaudaraan keluarga di tengah perubahan zaman yang semakin dinamis. (#)
Jurnalis Agus Fawaid Penyunting Sayyidah Nuriyah












