
Awalnya hanya satu kotak bekal kosong. Tak ada yang menyangka, dari sanalah pelajaran besar tentang hati, empati, dan kebaikan yang menular justru bermula.
Cerpen oleh Nadhirotul Mawaddah; Guru TK IT Handayani, Menganti, Gresik, Jawa Timur
Tagar.co – Azka menekuk wajahnya. Anak laki-laki berkulit sawo matang itu kembali tidak membawa bekal ke sekolah. Hampir setiap hari, kotak bekalnya kosong—hanya botol minum yang selalu penuh dengan air putih.
Biasanya, saya memberinya kue yang sengaja saya bawa dari rumah untuk berjaga-jaga, siapa tahu ada salah satu murid yang lupa membawa bekal.
Baca juga: Senyum Syifa
Ketika saya mencoba mendekatinya, Azka lekas menutup tasnya dan memasukkannya ke dalam loker. Barangkali ia merasa tidak enak hati karena terlalu sering datang dengan kotak bekal kosong.
“Kenapa tidak diletakkan di tempat bekal, Azka?” tanya Reinan.
“Kosong lagi, ya?” sambungnya polos.
Azka hanya menunduk.
“Kenapa kamu sering sekali tidak membawa bekal, Azka?” Reinan bertanya lagi.
Tak satu pun kata terucap dari bibir Azka.
Waktu makan tiba. Saya meminta anak-anak duduk melingkar di atas karpet merah sambil memegang kotak bekal masing-masing.
“Teman-teman, hari ini kita akan belajar tentang berbagi,” ujar saya mengawali.
Mereka membuka kotak bekal: ada kue, biskuit, buah, puding, susu kotak, dan aneka warna kebahagiaan kecil.
Sementara Azka hanya memandang, lalu menunduk. Ia takut ditertawakan karena kotak bekalnya kosong.
“Azka juga boleh membuka kotak bekalnya,” kata saya lembut.
“Tapi Ustazah, kotak bekalku kosong,” ucapnya lirih.
Saya sengaja membiarkan momen itu berbicara. Tidak disangka, reaksi anak-anak sungguh di luar dugaan. Mereka justru segera memotong kue masing-masing.
“Teman-teman, yuk kita isi kotak bekal Azka,” seru Reinan.
Anak-anak berhamburan mendekat. Dalam sekejap, kotak bekal Azka yang semula hampa kini penuh warna dan harap.
Mata Azka berkaca-kaca. Tangannya gemetar saat mengambil kue.
“Terima kasih banyak, teman-teman,” katanya pelan.
Sejak hari itu, kotak bekal Azka tak pernah kosong. Tidak ada lagi wajah murung saat waktu makan tiba. Bahkan, setiap kali saya meletakkan piring kosong untuk berbagi, Azka selalu menjadi yang pertama memotong kuenya.
“Buat teman-teman yang mau,” katanya sambil tersenyum simpul.
“Ustazah juga boleh ambil,” tambahnya.
“Mama Azka sekarang rajin mengisi bekal?” tanya saya suatu hari.
“Iya, Ustazah. Mama selalu bertanya Azka mau bawa bekal apa,” jawabnya bangga.
Rupanya kejadian tempo hari mengetuk hati sang ibu. Yang dahulu menganggap bekal sekolah tak terlalu penting, kini menyiapkannya dengan penuh cinta.
Beberapa hari kemudian, giliran Reinan datang dengan wajah murung. Ia lupa membawa bekal. Saat jam makan tiba, ia hanya memeluk tasnya.
Tiba-tiba, Azka berdiri dan menghampirinya sambil membawa kotak bekalnya.
“Kotak bekalku tidak kosong lagi. Sekarang giliran aku yang berbagi,” katanya sambil tersenyum lebar.
Reinan terkejut. Matanya berbinar.
Saat itulah saya tahu: pelajaran berbagi hari itu telah tumbuh menjadi empati yang hidup. Di antara remah kue dan tawa kecil anak-anak, saya belajar bahwa kebaikan yang diajarkan dengan tulus selalu menemukan jalannya untuk kembali—lebih hangat, lebih bermakna. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












