Feature

Sastra di Persimpangan Digital: Antara Krisis Membaca dan Harapan Baru

64
×

Sastra di Persimpangan Digital: Antara Krisis Membaca dan Harapan Baru

Sebarkan artikel ini
Pengajian Budaya Bulanan Ke-5 yang diselenggarakan Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (26/12/2025), secara daring melalui platform Zoom.

Di tengah banjir informasi dan budaya baca instan, sastra menghadapi ujian besar. Namun, di balik tantangan era digital, tersimpan peluang baru bagi lahirnya generasi literat yang lebih kreatif dan kritis.

Tagar.co – Di tengah derasnya arus informasi digital yang membanjiri ruang publik, sastra justru dihadapkan pada persimpangan penting: bertahan sebagai ruang perenungan yang mendalam atau tersisih oleh budaya baca instan.

Persoalan itulah yang mengemuka dalam Pengajian Budaya Bulanan Ke-5 yang diselenggarakan Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (26/12/2025), secara daring melalui platform Zoom.

Baca juga: Muhammadiyah Gencarkan Sekolah Adiwiyata Berkemajuan

Kegiatan yang diikuti sekitar 80 peserta dari berbagai unsur perserikatan Muhammadiyah ini menghadirkan Prof. Dr. Agus Suradika, Wakil Ketua LSB PP Muhammadiyah sekaligus dosen FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta, sebagai narasumber utama.

Hadir pula mewakili Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) PP Muhammadiyah, Hendra Apriyadi, M.Pd., sementara jalannya pengajian dipandu oleh Muttaqien sebagai pembawa acara.

Dalam pemaparannya, Prof. Agus menegaskan bahwa sastra bukan sekadar hiburan, melainkan cermin kehidupan dan kemanusiaan. Melalui kekuatan kata dan bahasa, sastra merekam realitas sosial, pergulatan batin manusia, serta dinamika budaya dan sejarah.

Baca Juga:  Gurindam Dua Belas: Warisan Hikmah Raja Ali Haji sebagai Gizi Rohani

“Sastra menghadirkan drama kehidupan manusia secara utuh: konflik, nilai, pergulatan moral, dan pencarian makna. Di situlah letak kekuatannya sebagai ruang perenungan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa karya sastra memiliki fungsi strategis sebagai media refleksi sosial, moral, dan intelektual. Tokoh, alur, dan konflik dalam karya sastra tidak hanya membangun cerita, tetapi juga menyampaikan kritik sosial dan nilai-nilai kebijaksanaan yang menumbuhkan daya pikir kritis pembacanya.

Sastra, lanjutnya, menumbuhkan empati dan imajinasi, karena pembaca diajak masuk ke dunia batin tokoh-tokohnya dan memahami pengalaman hidup yang beragam.

Namun, tantangan besar muncul di era digital. Revolusi teknologi telah mengubah lanskap literasi secara drastis. Arus informasi yang cepat dan melimpah mendorong kebiasaan membaca yang singkat, dangkal, dan instan. Kesabaran membaca teks panjang dan kemampuan berpikir mendalam kian tergerus.

“Jika tidak disikapi dengan bijak, kondisi ini dapat melemahkan budaya membaca kritis dan apresiasi terhadap sastra,” tegas Prof. Agus.

Ia juga menyoroti problem informasi digital yang tidak selalu terkurasi, sehingga menuntut kecakapan baru bagi pembaca untuk memilah informasi yang relevan, akurat, dan bermakna.

Baca Juga:  MI Muhammadiyah Taman Cari Terima Bantuan Rehab Kelas dan Mebeler

Di sisi lain, dominasi konten visual dan hiburan cepat membuat sastra sering dipersepsikan sebagai bacaan berat dan tidak praktis, terutama oleh generasi muda. Bahasa yang puitis, alur kompleks, dan simbolisme mendalam dianggap tidak sejalan dengan gaya hidup digital yang serba cepat.

Meski demikian, Prof. Agus menekankan bahwa era digital bukan hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang besar bagi perkembangan sastra. Platform digital memungkinkan persebaran karya yang lebih luas dan inklusif. Penulis, terutama generasi muda, memiliki ruang terbuka untuk berekspresi, bereksperimen dengan bahasa, dan memublikasikan karya tanpa sekat geografis.

Perkembangan sastra digital melahirkan bentuk-bentuk baru literasi, seperti cerpen daring, puisi visual, hingga narasi multimedia. Inovasi tersebut memperkaya cara pembaca berinteraksi dengan karya sastra dan membuatnya semakin kontekstual dengan karakter generasi digital.

Dalam konteks inilah, Prof. Agus menegaskan peran strategis pendidikan. Pembelajaran sastra perlu mengintegrasikan bentuk-bentuk sastra digital secara kreatif dan bermakna, tanpa meninggalkan nilai estetika, moral, dan kemanusiaan yang menjadi jantung karya sastra.

Baca Juga:  Wabup Lepas Kontingen Sekolah Muhammadiyah Tegal ke Olympcad VIII Makassar

Pembelajaran tidak cukup berhenti pada aktivitas membaca, tetapi harus mendorong peserta didik untuk menganalisis, menafsirkan, dan merefleksikan teks secara kritis.

Lebih jauh, pendidikan diharapkan membentuk peserta didik tidak sekadar sebagai konsumen konten digital, tetapi sebagai pembaca dan pencipta karya sastra yang aktif, kreatif, dan bertanggung jawab.

Melalui sastra, peserta didik dapat mengasah kepekaan sosial, memperkuat karakter humanis, dan membangun kesadaran kemanusiaan di tengah dunia digital yang serba cepat.

Pengajian Budaya Bulanan LSB PP Muhammadiyah ini menjadi ruang refleksi penting untuk meneguhkan kembali peran sastra sebagai penopang kebudayaan, penguat literasi kritis, dan fondasi pembentukan karakter kemanusiaan.

Di tengah kepungan media digital, sastra diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi justru tumbuh sebagai kekuatan kebudayaan yang relevan, berdaya, dan berkontribusi nyata dalam membangun peradaban yang berkeadaban. (#)

Jurnalis Hendra Apriyadi Penyunting Mohammad Nurfatoni