Buku

Ketika Surau Tak Lagi Berfungsi: Membaca Kritik Sosial dalam Cerpen A.A. Navis

56
×

Ketika Surau Tak Lagi Berfungsi: Membaca Kritik Sosial dalam Cerpen A.A. Navis

Sebarkan artikel ini
Buku karya A.A. Navis: Robohnya Surau Kami

Cerpen Robohnya Surau Kami bukan sekadar kisah runtuhnya bangunan ibadah, melainkan kritik tajam terhadap cara beragama yang tercerabut dari tanggung jawab sosial.

Oleh Dinni Resky Lia Agustin (25112074006); Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Tagar.co – Membaca karya sastra sejatinya adalah upaya memahami kehidupan manusia dari sudut pandang yang lebih jujur dan reflektif. Sastra tidak berhenti sebagai hiburan, melainkan hadir sebagai ruang kritik sosial sekaligus cermin nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satu cerpen Indonesia yang kuat dalam menjalankan fungsi tersebut adalah Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis. Cerpen ini dikenal sebagai karya yang tajam dalam mengkritik cara beragama yang terlepas dari tanggung jawab sosial.

Untuk menangkap makna cerpen ini secara utuh, pembacaan tidak cukup dilakukan secara sekilas. Diperlukan strategi membaca yang memungkinkan pembaca memahami tidak hanya alur cerita, tetapi juga pesan dan kritik yang tersirat di dalamnya. Dalam konteks ini, teknik membaca kritis dan membaca intensif menjadi pendekatan yang relevan.

Tahapan Bacaan

Tahap awal dilakukan melalui membaca kritis. Sebelum menyelami teks, pembaca dapat mengajukan pertanyaan reflektif, seperti apakah judul Robohnya Surau Kami sekadar merujuk pada bangunan fisik atau justru mengandung makna simbolik yang lebih dalam.

Pertanyaan lain yang tak kalah penting adalah nilai apa yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita ini. Sikap kritis semacam ini membantu membangun rasa ingin tahu sekaligus kesiapan mental untuk menafsirkan teks.

Baca Juga:  Dari Lapangan ke Pergerakan: Badminton IMM Ganesha sebagai Energi Soliditas dan Silaturahmi

Selain itu, pembaca juga menggunakan skemata, yakni mengaitkan pengetahuan awal dengan teks yang akan dibaca serta membandingkannya dengan karya-karya serupa.

Tahap berikutnya adalah membaca intensif, yakni membaca teks secara mendalam dan teliti dari awal hingga akhir tanpa melewatkan detail penting. Melalui pembacaan ini, alur cerita dapat dipahami secara runtut, tokoh-tokoh dikenali dengan jelas, dan konflik utama ditangkap secara utuh.

Baca: Membaca Lebih Dalam: Teori Sastra dan Cara Baru Memaknai Karya

Tokoh kakek penjaga surau dan Ajo Sidi, misalnya, memainkan peran sentral dalam menyampaikan kritik sosial dan religius yang menjadi inti cerpen.

Pada bagian awal cerita, A.A. Navis menggambarkan sebuah surau tua yang nyaris roboh. Di dalamnya hidup seorang kakek penjaga surau yang digambarkan sangat taat beribadah, tetapi hidup dalam kemiskinan dan keterasingan. Seluruh hidupnya diabdikan untuk ibadah dan mengaji. Ia tidak bekerja, tidak memiliki peran sosial yang nyata, dan menyerahkan hidupnya sepenuhnya pada apa yang ia anggap sebagai takdir.

Cerita kemudian berkembang melalui kehadiran Ajo Sidi, tokoh yang dikenal sebagai pembual, yang menuturkan kisah tentang Haji Saleh.

Tokoh Haji Saleh digambarkan sebagai sosok yang merasa paling saleh karena rajin beribadah sepanjang hidupnya. Ia begitu yakin bahwa ibadahnya menjadi jaminan mutlak untuk masuk surga. Namun, keyakinan itu justru menjadi pintu masuk kritik Navis terhadap sikap keberagamaan yang sempit dan penuh rasa percaya diri tanpa refleksi sosial.

Baca Juga:  IMM Ganesha Rayakan Milad

Bagian paling penting dalam cerpen ini muncul dalam adegan pengadilan Haji Saleh di akhirat. Pada titik ini, pesan utama cerpen ditegaskan: ibadah yang terlepas dari kepedulian sosial tidak memiliki makna yang utuh.

Tuhan mempertanyakan apa yang telah dilakukan Haji Saleh untuk masyarakat, bangsa, dan sesama manusia. Ia dinilai bersalah karena hanya mementingkan keselamatan dirinya sendiri, sementara membiarkan kemiskinan, ketidakadilan, dan penderitaan terjadi di sekitarnya.

Dampak cerita tersebut terasa kuat pada diri kakek penjaga surau. Keyakinan hidup yang selama ini ia pegang runtuh seketika. Ia menyadari bahwa seluruh hidupnya yang hanya diisi dengan ibadah ternyata tidak meninggalkan manfaat sosial apa pun. Kakek tidak memiliki bekal sosial, tidak berkontribusi bagi masyarakat, dan tidak pernah berusaha mengubah keadaan hidupnya.

Cerita ditutup dengan tragedi. Kakek memilih mengakhiri hidupnya, sementara surau dibiarkan benar-benar roboh karena kayunya dicopoti warga. Peristiwa ini bukan sekadar penutup cerita, melainkan simbol kehancuran nilai agama yang kehilangan fungsi sosialnya. Surau yang roboh melambangkan runtuhnya kesadaran religius yang seharusnya membimbing manusia menuju kehidupan yang adil dan bermakna.

Ibadah dan Tanggung Jawab Sosial

Melalui tokoh kakek dan Haji Saleh, A.A. Navis menegaskan bahwa ibadah tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Kesalehan sejati bukan hanya diukur dari ritual keagamaan, tetapi juga dari kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Ketika ibadah tidak melahirkan empati dan aksi sosial, maka nilai dasarnya justru kehilangan makna.

Baca Juga:  Dari Lapangan ke Pergerakan: Badminton IMM Ganesha sebagai Energi Soliditas dan Silaturahmi

Dari sisi struktur, cerpen ini disusun secara runtut dengan alur maju dan kilas balik. Cerita dimulai dari pengenalan tokoh dan latar, kemudian bergerak melalui kisah Haji Saleh sebagai kilas balik, mencapai klimaks pada keguncangan batin kakek, dan ditutup dengan resolusi tragis yang mempertegas kritik pengarang.

Gaya bahasa yang digunakan Navis sederhana, lugas, dan penuh sindiran halus, terutama melalui dialog-dialog yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Secara argumentatif, cerpen ini menyampaikan kritik dengan konsisten dan kuat tanpa harus menggurui. Navis tidak memberikan solusi langsung, tetapi justru membiarkan pembaca melakukan refleksi sendiri. Akhir cerita yang tragis membuka ruang tafsir yang luas dan menjadi kekuatan utama cerpen ini.

Dalam konteks sosial dan budaya Indonesia saat ini, Robohnya Surau Kami tetap relevan. Cerpen ini menggambarkan ketimpangan sosial, kemiskinan, dan lemahnya kepedulian antarmanusia—realitas yang masih sering dijumpai. Dalam konteks akademik, cerpen ini sangat layak dijadikan bahan pembelajaran membaca kritis dan analisis sastra karena mengajarkan keseimbangan antara nilai keagamaan dan tanggung jawab sosial.

Pada akhirnya, Robohnya Surau Kami bukan sekadar cerita tentang runtuhnya sebuah bangunan ibadah, melainkan tentang runtuhnya kesadaran manusia ketika agama kehilangan dimensi sosialnya. Cerpen ini mengajak pembaca merenungkan kembali makna kehidupan, peran individu dalam masyarakat, serta hakikat kesalehan yang sejati—pesan yang tetap relevan lintas zaman. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni