Feature

Dari Sampah Jadi Berkah: Siswa SMK Muhammadiyah 2 Gresik Belajar Ekoenzim

29
×

Dari Sampah Jadi Berkah: Siswa SMK Muhammadiyah 2 Gresik Belajar Ekoenzim

Sebarkan artikel ini
Siswa SMK Muhammadiyah 2 Gresik peserta pelatihan ekoenzim bersama narasumber dari MLH PDM Gresik (Tagar.co/Istimewa)

Pelatihan ekoenzim di SMK Muhammadiyah 2 Gresik mengajarkan siswa cara mengubah sampah organik menjadi cairan ramah lingkungan. Tak sekadar praktik, kegiatan ini membuka jalan bagi kreativitas dan peluang usaha hijau.

Tagar.co – Di halaman SMK Muhammadiyah 2 Gresik, suasana Selasa pagi (30/9/25) terasa berbeda. Puluhan siswa berkumpul dengan penuh antusias. Bukan untuk mengikuti pelajaran rutin di kelas, melainkan praktik langsung membuat ekoenzim—cairan ramah lingkungan hasil olahan sampah organik.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara sekolah dengan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik. Sebanyak 43 siswa kelas X dan XI mengikuti pelatihan yang dipandu langsung oleh Tatik Erawati, pegiat lingkungan dari MLH PDM Gresik, yang hadir sebagai guru tamu.

Belajar Mengolah Sampah Jadi Berkah

Kepala SMK Muhammadiyah 2 Gresik, Syuhud Immawan, S.S., menegaskan bahwa pelatihan ini berangkat dari kepedulian sekolah terhadap isu lingkungan.

“Selain memberi wawasan baru tentang pengelolaan sampah organik, kami ingin membekali siswa dengan keterampilan praktis yang bisa mereka manfaatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Baca Juga:  Janji di Tengah Gelombang

Syuhud juga berharap ekoenzim tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. “Kami ingin lahir kreativitas siswa yang mampu mengembangkan ekoenzim bukan hanya untuk menjaga lingkungan, tapi juga sebagai peluang usaha yang menjanjikan,” tambahnya.

Antusiasme di Ruang Praktik

Pelatihan berlangsung interaktif. Setelah mendapat penjelasan teori mengenai pengertian, manfaat, dan proses pembuatan ekoenzim, siswa dibagi menjadi enam kelompok. Mereka langsung mencoba mengolah sampah organik menjadi cairan fermentasi bermanfaat itu.

Keceriaan bercampur rasa penasaran terlihat jelas. Ada yang sibuk mencacah kulit buah, ada pula yang mengukur takaran gula aren sebagai bahan fermentasi. Setiap kelompok nantinya diminta mempresentasikan hasil praktiknya sebagai bagian dari asesmen.

“Dengan pendekatan seperti ini, siswa bukan hanya paham teori, tetapi juga siap bergerak menjaga bumi lewat aksi nyata,” kata Tatik Herawati.

Kepala SMK Muhammadiyah 2 Gresik, Syuhud Immawan bersama Tatik Erawati (kedua dari kiri) (Tagar.co/Istimewa)

Dari Laboratorium ke Kehidupan Sehari-hari

Tak berhenti di situ, ekoenzim juga membuka peluang inovasi lain. Cairan ini dapat dikembangkan menjadi sabun ramah lingkungan sebagai alternatif pengganti produk berbahan kimia. Di akhir kegiatan, Tatik menyerahkan simbolis produk ekoenzim kepada kepala sekolah sebagai tanda dimulainya gerakan bersama.

Baca Juga:  Green Ramadan: Puasa sebagai Gerakan Mengurangi Sampah dengan Prinsip 7R

Kaprodi Teknik Kimia Industri, Devi Nurwidya Wahyuni, menambahkan bahwa ke depan konsep ekoenzim akan diintegrasikan dalam kurikulum. “Kami ingin siswa mengaplikasikan ekoenzim dalam praktik laboratorium, proyek sekolah, hingga penelitian sederhana sesuai bidang keahliannya,” jelasnya.

Dukungan dari MLH PDM Gresik

Dari tempat terpisah, Ketua MLH PDM Gresik, Dr. Andi Rahmad Rahim, S.Pi., M.Si., menyampaikan apresiasinya. Ia menilai langkah SMK Muhammadiyah 2 Gresik patut ditiru sekolah lain.

“Semoga siswa dan guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga bisa mengedukasi masyarakat sekitar. Kami ingin ini menjadi awal program berkelanjutan,” tegasnya.

Andi juga menambahkan, MLH siap memperluas pelatihan serupa ke seluruh sekolah dan madrasah Muhammadiyah di Gresik. “Generasi muda adalah agen perubahan lingkungan. Karena itu, perlu kolaborasi nyata agar kepedulian ini semakin tumbuh,” ujarnya.

Bagi SMK Muhammadiyah 2 Gresik, eco-enzim hanyalah awal dari perjalanan panjang mewujudkan sekolah hijau. Dengan langkah sederhana—mengolah sampah menjadi berkah—mereka berharap lahir kesadaran kolektif untuk menjaga bumi. Sebuah gerakan kecil yang jika terus ditumbuhkan, bisa memberi dampak besar bagi masa depan. (#)

Baca Juga:  Loyalitas Sabri

Jurnalis Mochammad Nor Qomari Penyunting Mohammad Nurfatoni