Cerpen

Istana yang Menjadi Sirkus Waktu

91
×

Istana yang Menjadi Sirkus Waktu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Ketika seorang badut duduk di singgasana, tawa yang semula jadi hiburan perlahan berubah menjadi tangis peradaban. Kekuasaan yang dilukis dengan cat wajah dan topeng karnaval hanya meninggalkan istana retak yang terus dipertontonkan waktu.

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Di sebuah kota tua bernama Kalandra, berdirilah sebuah istana megah dengan dinding berlapis emas dan pilar menjulang tinggi. Istana itu dahulu dihuni oleh para raja bijak yang menegakkan keadilan, menahan diri dari kerakusan, dan memimpin rakyat dengan hati. Namun kini, kabar angin menyebar: seorang badut bernama Pango telah dipilih menjadi penguasa.

Tak ada yang benar-benar paham bagaimana hal itu bisa terjadi. Sebagian rakyat berbisik bahwa pemilihan itu hanyalah sandiwara. Sebagian lain berkata, rakyat dibius oleh tawa yang Pango tebarkan di panggung. Sebab selama bertahun-tahun, Pango dikenal sebagai badut jalanan yang mampu membuat siapa pun lupa akan lapar hanya dengan tingkah konyolnya.

Baca cerpen lainnya: Bayangan Loyalitas di Desa Konoha

Hari pelantikannya, rakyat memenuhi alun-alun. Pango melangkah ke podium dengan jubah kebesaran, mahkota emas berkilau di kepalanya, dan senyum lebar yang tak pernah lepas. Namun di balik itu, masih terlihat jelas cat tebal di wajahnya: garis merah di pipi, hidung bulat mencolok, dan alis melengkung tinggi.

Baca Juga:  Setia yang Tidak Pernah Sepi

“Lihatlah,” bisik seorang ibu kepada anaknya, “badut kini jadi raja.”

Namun ada pula yang bersorak, “Mungkin inilah saatnya kita bahagia. Raja yang tahu cara menghibur rakyat!”

Hari-hari awal pemerintahan Pango tampak penuh warna. Ia memerintahkan setiap sidang kerajaan dibuka dengan musik dan pertunjukan. Para menteri diminta tampil dalam kostum aneh, dengan topi runcing atau sepatu panjang.

Kebijakan-kebijakan istana lebih banyak berisi lelucon ketimbang keputusan serius. Ketika rakyat mengeluhkan harga pangan yang naik, Pango hanya menjawab dengan permainan sulap, mengubah satu roti menjadi dua di hadapan kamera.

“Tugas raja adalah membuat rakyat tertawa,” katanya.

Sebagian rakyat terbuai. Mereka menyangka bahwa tawa adalah obat untuk semua derita. Namun perlahan, kekacauan mulai terasa. Jalan-jalan penuh pengemis, ladang terbengkalai, dan pasar kehabisan bahan pokok. Tetapi setiap kali ada yang memprotes, Pango selalu menutupinya dengan pesta besar.

Di sebuah desa jauh dari ibu kota, seorang pemuda bernama Darian memandang situasi ini dengan getir. Ayahnya pernah berkata, “Kekuasaan adalah cermin. Jika yang bercermin badut, yang tampak tetap badut, meski dindingnya berlapis emas.”

Darian menyadari bahwa negeri kini sedang berada di panggung sandiwara besar. Istana bukan lagi pusat kebijakan, melainkan sirkus yang ditonton dunia. Ia memutuskan untuk pergi ke kota dan melihat sendiri keadaan.

Baca Juga:  Takbir di Balik Luka: Kisah Rini di Hari Kemenangan

Sesampainya di ibu kota, ia tercengang. Jalan menuju istana dipenuhi poster wajah Pango dengan cat badut abadi. Di setiap sudut, ada panggung hiburan. Bahkan penjaga istana kini mengenakan kostum badut sambil meniup terompet.

Darian bergumam lirih, “Istana telah benar-benar berubah.”

Suatu hari, Pango mengadakan pesta besar yang disebutnya “Hari Tawa Nasional.” Semua pejabat, diplomat asing, bahkan rakyat jelata diundang. Istana berubah menjadi arena sirkus: ada akrobat, sulap, kembang api, dan lomba tertawa. Di tengah keramaian itu, Darian menyelinap masuk. Ia ingin melihat langsung sang penguasa.

Ketika akhirnya berhadapan dengan Pango, ia melihat sesuatu yang mengejutkan. Di balik cat tebal wajahnya, mata Pango tampak kosong, seperti menyimpan rahasia kelam.

“Baginda,” ujar Darian dengan berani, “apakah Anda sadar bahwa negeri ini semakin rusak? Apakah Anda tidak ingin melepaskan cat badut itu dan menjadi raja sungguhan?”

Pango terdiam. Lalu ia tertawa keras, tawa yang memantul di seluruh ruangan. “Anak muda,” katanya, “kau tidak mengerti. Aku mencoba menghapus cat ini setiap malam. Tapi setiap kali aku bercermin di istana ini, yang tampak hanyalah badut. Bukan aku yang berubah menjadi raja. Istana inilah yang berubah menjadi sirkus.”

Baca Juga:  Janji di Tengah Gelombang

Malam itu, pesta terus berlanjut. Tetapi Darian membawa pulang kata-kata itu dengan hati gemetar. Ia merenung, mungkin benar: kekuasaan hanyalah cermin, dan istana hanyalah bingkai. Jika yang duduk di kursi raja adalah seorang badut, maka seluruh ruangan akan menyesuaikan diri menjadi arena pertunjukan.

Cerita kembali ke awal. Tahun-tahun berlalu, dan sejarah mencatat pemerintahan Pango sebagai masa paling aneh sepanjang zaman. Rakyat terbagi dua: sebagian mengenangnya sebagai penghibur, sebagian mengutuknya sebagai penguasa yang melupakan tanggung jawab.

Namun akhir cerita datang dengan cara mengejutkan. Pada suatu pagi, rakyat mendapati kabar bahwa Pango meninggal di kamar pribadinya. Istana berduka, dan para pejabat menyiapkan upacara kenegaraan. Saat jenazahnya dimandikan, cat wajah badutnya masih menempel utuh, tak bisa dibersihkan meski digosok berulang kali.

Para pendeta kerajaan terdiam. Seorang penjaga berbisik dengan suara serak, “Mungkin ia bukan badut yang berpura-pura jadi raja. Mungkin sejak awal, ia hanyalah badut abadi yang tertakdir duduk di singgasana.”

Dan ketika peti matinya ditutup, dinding-dinding istana yang berlapis emas mulai retak. Dari celah-celahnya muncul lukisan aneh: topeng, terompet, dan badut tertawa. Seakan-akan istana benar-benar telah berubah menjadi sirkus, bukan hanya untuk masa hidup Pango, melainkan untuk selama-lamanya. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni