Telaah

Kelalaian Itu ibarat Tidur Panjang

44
×

Kelalaian Itu ibarat Tidur Panjang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Mohammad Nurfatoni/AI

Kelalaian itu seperti tidur panjang: nyaman, tenang, tetapi penuh ilusi. Dunia ini hanya mimpi singkat, sementara akhirat adalah kenyataan abadi.

Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Tagar.co – Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa sibuk dengan urusan dunia. Pikiran dipenuhi pekerjaan, rencana masa depan, hingga berbagai keinginan.

Namun di tengah kesibukan itu, tak jarang hati kita lalai dari mengingat Allah. Lalai yang tampak sepele ini sesungguhnya berbahaya, sebab bisa membuat kita terlena dalam kenyamanan semu, seakan-akan dunia ini tujuan akhir.

Allah Ta‘ala berfirman:

وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

“Dan janganlah engkau termasuk dari orang-orang yang lalai.” (Al-A‘raf: 205)

Ayat ini ibarat alarm langit yang membangunkan hati kita. Karena kelalaian itu seperti tidur panjang: nyaman, tenang, tapi penuh ilusi.

Dunia: Mimpi yang Kita Jalani

Para ulama sering memberi ilustrasi yang menohok. Seseorang ketika tidur, ia seakan-akan hidup dalam mimpi: bekerja, berlari, menangis, atau tertawa. Namun saat ia bangun, ia sadar bahwa semua itu hanya bayangan, bukan kenyataan.

Baca Juga:  Rahmat di Balik Ayat Puasa: Ketika Syariat Memuliakan Fitrah

Baca juga: Jalan Panjang Ilmu: Murid, Guru, dan Cahaya yang Menyala

Begitu pula kehidupan dunia. Kita merasa benar-benar nyata, mengejar harta, jabatan, cinta, dan ambisi. Namun ketika kematian datang, barulah kita terbangun dan sadar: selama ini kita hanya bermimpi.

Imam Hasan al-Bashri berkata:

النَّاسُ نِيَامٌ، فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا

“Manusia itu tidur, maka ketika mereka mati barulah mereka terbangun.”

Kalimat pendek ini, kalau direnungkan, bisa membuat hati merinding.

Gaflah: Tidur yang Membutakan

Ketika hati lalai (gaflah), ia seperti orang yang sedang bermimpi indah padahal rumahnya terbakar. Ia tak merasa bahaya, malah terus tersenyum dalam mimpi palsu.

Begitu pula manusia yang asyik dalam kelalaian dunia: sibuk mengejar kesenangan sesaat, tetapi tidak sadar bahwa ajal semakin mendekat.

Ibnul Qayyim berkata:

الغفلة نوم القلب، فإذا استيقظ تيقظت الجوارح كلها

“Kelalaian adalah tidurnya hati. Jika hati terbangun, maka seluruh anggota tubuh pun akan ikut terjaga.”

Artinya, orang yang lalai tidak hanya kehilangan kesadaran spiritual, tetapi juga kehilangan arah hidup.

Baca Juga:  Ijtihad Nabi di Sepuluh Hari Terakhir: Ketika Ramadan Mencapai Puncaknya

Doa sebagai Alarm Hati

Dari kesadaran inilah lahir doa yang begitu sederhana, namun sangat dalam:

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami termasuk dari golongan orang-orang yang lalai.”

Doa ini ibarat menyalakan alarm dalam jiwa. Saat dunia meninabobokan, doa ini mengingatkan kita: “Bangun! Jangan terbuai. Jangan tunggu ajal datang baru sadar.”

Ilustrasi Hidup-Mati

Bayangkan seseorang yang baru saja bangun dari mimpi buruk. Ia terengah-engah, lalu berkata: “Alhamdulillah, ternyata hanya mimpi.” Tapi apa jadinya jika seluruh hidup ini ternyata mimpi panjang, dan baru saat mati kita berkata: “Ya Allah, ternyata dunia ini cuma ilusi.” Namun saat itu sudah terlambat.

Al-Qur’an menggambarkan penyesalan orang kafir saat kematian:

رَبِّ ارْجِعُونِ، لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

“Ya Rabb, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku bisa beramal saleh yang dulu aku tinggalkan.” (Al-Mu’minun: 99–100)

Namun pintu itu sudah tertutup.

Bangun sebelum Terlambat

Hidup ini bukan mimpi yang panjang, melainkan persiapan singkat sebelum bangun di akhirat. Maka jangan biarkan hati kita tertidur dalam kelalaian. Jadikan doa رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ sebagai napas kita, agar kita terjaga setiap saat.

Baca Juga:  Penentuan Awal Ramadan: Saat Hilal Ditafsirkan dengan Beragam Metode

Sungguh, lebih baik terbangun dengan rasa sakit karena sadar, daripada tertidur nyenyak lalu dibangunkan oleh malaikat maut.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُسْتَيْقِظِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang terjaga (sadar), dan janganlah Engkau jadikan kami dari golongan orang-orang yang lalai.” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…