Feature

Siswa MTsM 4 Bulubrangsi Ciptakan Penetas Telur Berbahan Kardus Bekas

32
×

Siswa MTsM 4 Bulubrangsi Ciptakan Penetas Telur Berbahan Kardus Bekas

Sebarkan artikel ini
Siswa MTsM 4 Bulubrangsi ciptakan alat penetas telur berbahan kardus bekas. Sederhana tetapi mampu menghadirkan ruang hangat yang cukup stabil untuk menjaga telur hingga proses penetasan
Alat penetas telur dari bahan sederhana kreasi siswa Mts Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan (tagar.co/Ervina Marthavania)

Siswa MTsM 4 Bulubrangsi ciptakan alat penetas telur berbahan kardus bekas. Sederhana tetapi mampu menghadirkan ruang hangat yang cukup stabil untuk menjaga telur hingga proses penetasan

Tagar.co – Keterbatasan bahan dan peralatan tak membuat siswa kelas IX MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan menyerah. Mereka malah berhasil menunjukkan daya cipta dan semangat inovasi melalui sebuah karya sederhana namun sarat makna: alat penetas telur dari bahan-bahan bekas, Kamis (11/9/2025).

Para siswa merancang alat tersebut dengan memanfaatkan kadus bekas sebagai wadah utama. Menyematkan mika transparan pada dinding kardus agar proses perkembangan telur dapat terpantau dengan mudah. Lampu bohlam berfungsi sebagai sumber panas, memasangnya melalui fitting lampu yang dihubungkan dengan kabel dan steker.

Kemudian memperkuat semua sambungan dengan lakban, menggunakan gunting dan cutter untuk membentuk bagian-bagian kadus sesuai kebutuhan. Walau sederhana, rancangan ini mampu menghadirkan ruang hangat yang cukup stabil untuk menjaga telur hingga proses penetasan.

Kepala MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Helmi Rohmanto, S.Pd.I. menyampaikan apresiasinya terhadap karya tersebut. Anak-anak telah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Justru dari kesederhanaan, lahir kreativitas yang bernilai.

“Alat penetas telur ini bukan hanya sekadar tugas sekolah, tetapi juga bukti bahwa mereka mampu berpikir kritis, bekerja sama, dan menghadirkan solusi nyata. Inilah hakikat pembelajaran yang sejati,” ujarnya.

Pengalaman Praktis

Sementara itu, guru mata pelajaran Prakarya Ahmad Fendi, SH. yang membimbing langsung proses pembuatan menegaskan pentingnya pengalaman praktis bagi siswa. Dalam kegiatan ini, peserta didik tidak hanya mempelajari teori, melainkan juga mengalaminya secara nyata.

“Mereka belajar tentang energi panas, kelistrikan, hingga perhitungan sederhana mengenai kebutuhan suhu. Lebih jauh lagi, mereka belajar bekerja sama, menyusun strategi, dan mengatasi kendala. Semua itu merupakan keterampilan hidup yang akan mereka bawa hingga dewasa,” tuturnya penuh keyakinan.

Proses penciptaan alat ini tidak berlangsung singkat. Siswa harus berdiskusi menentukan desain, mencoba menempatkan lampu pada posisi yang tepat, dan memastikan panas tersebar merata. Beberapa kali mereka mengalami hambatan. Seperti mika yang kurang rapat atau sambungan kabel yang longgar. Namun dengan kesabaran dan bimbingan guru, kendala demi kendala dapat teratasi.

Salah seorang siswa, Senandung Dewantari, yang ikut terlibat mengungkapkan pengalamannya dengan penuh semangat. Awalnya kami merasa ragu. Membuat alat penetas telur terdengar rumit.

“Tetapi ketika dikerjakan bersama-sama, ternyata bisa terwujud. Rasanya bangga melihat telur yang kami masukkan mulai menetas. Pengalaman ini membuat kami yakin bahwa barang sederhana pun bisa memiliki nilai besar jika bisa mengolahnya dengan sungguh-sungguh,” ungkapnya sambil tersenyum.

Lebih dari sekadar pencapaian teknis, karya ini menumbuhkan kesadaran lingkungan. Barang-barang bekas yang kerap dianggap remeh terbukti dapat dimanfaatkan kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat. Kardus bekas yang biasanya hanya menjadi sampah kini beralih fungsi menjadi rumah kecil bagi kehidupan baru yang akan lahir.

Pesan moral yang terkandung di dalamnya pun begitu dalam.  Setiap hal, sekecil apa pun, dapat memberi makna bila dikelola dengan kreativitas.

Percaya Diri Berinovasi

Madrasah berharap inovasi ini menjadi inspirasi bagi siswa-siswa lain. Bahwa belajar bukan hanya mencatat dan menghafal, melainkan juga mencipta dan memberi manfaat.

“Kami ingin siswa MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi memiliki kepercayaan diri untuk berinovasi. Kami ingin mereka menyadari bahwa ilmu tidak berhenti di atas kertas, tetapi hidup di tengah masyarakat. Proyek sederhana ini adalah langkah awal menuju karya-karya yang lebih besar,” tambah Helmi Rohmanto.

Ahmad Fendi juga menekankan pentingnya pembiasaan seperti ini dalam menumbuhkan budaya riset di kalangan pelajar. Menurutnya, inovasi lahir dari keberanian mencoba dan kesabaran memperbaiki kesalahan.

“Hari ini mereka membuat penetas telur, esok bisa jadi mereka menciptakan alat lain yang lebih bermanfaat. Yang terpenting adalah semangat untuk terus belajar, mencoba, dan tidak mudah menyerah,” pesannya. (#)

Jurnalis Ervina Mathavania. Penyunting Sugiran.