Feature

Menyelami Ilmu dari Bekal: Siswa MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Identifikasi Kandungan Gizi

28
×

Menyelami Ilmu dari Bekal: Siswa MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Identifikasi Kandungan Gizi

Sebarkan artikel ini
Foto bersama setelah identifikasi bekal makanan Rabu 10/9/2025/MTs Muh 4 Bulubrangsi (Tagar.co/Ervina Marthavania)
Foto bersama setelah identifikasi bekal makanan Rabu 10/9/2025/MTs Muh 4 Bulubrangsi (Tagar.co/Ervina Marthavania)

Siswa MTs Muhammadiyah Bulubrangsi melakukan kegiatan identifikasi gizi pada bekal makanan. Hal tersebut mengajarkan bahwa pembelajaran IPA bukanlah sesuatu yang kaku dan penuh angka. Ia bisa menjadi cerita hidup yang hangat, menyentuh hati, serta menumbuhkan kesadaran.

Tagar.co – Suasana ruang kelas VIII di MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi, Laren, Lamongan, Jawa Timur begitu berbeda pada Rabu (10/9/2025). Pagi yang biasanya diisi dengan deretan catatan dan rumus, berubah menjadi pengalaman yang lebih hidup.

Para siswa diminta membuka bekal masing-masing. Menghadirkan aroma nasi hangat, sayuran segar, lauk pauk sederhana, hingga buah-buahan yang dibawa dengan penuh kasih sayang dari rumah.

Dari bekal sederhana itu, lahirlah pembelajaran berharga tentang kandungan gizi, kesehatan, dan pentingnya menjaga tubuh agar tetap bugar.

Kegiatan identifikasi kandungan gizi pada bekal makanan ini merupakan bagian dari pembelajaran kontekstual yang diterapkan oleh guru IPA.

Siswa tidak hanya diajak memahami teori tentang karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dari buku semata, tapi benar-benar diminta menghubungkannya dengan makanan yang mereka konsumsi sehari-hari. Dengan cara itu, ilmu tidak lagi terasa jauh, melainkan dekat dan menyatu dengan keseharian mereka.

Apresiasi Kepala MTs

Kepala MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi, Helmi Rohmanto menyampaikan apresiasi atas metode yang kreatif ini.

“Ilmu pengetahuan sejati adalah ilmu yang hadir dalam kehidupan. Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa makanan bukan hanya untuk mengenyangkan perut, tetapi juga menentukan kesehatan, semangat belajar, bahkan masa depan mereka,” ucapnya.

“Dari sepotong roti, dari sebutir telur, terkandung hikmah besar tentang pentingnya menjaga keseimbangan gizi,” tuturnya penuh kebijaksanaan.

Wakil Kepala Madrasah bidang Kurikulum Us’idah, menambahkan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman nyata adalah kunci dari pendidikan bermakna.

“IPA bukan sekadar kumpulan teori yang harus dihafalkan. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Ketika siswa menyadari bahwa nasi yang mereka makan adalah sumber energi, sayuran memberikan vitamin, dan ikan goreng menyimpan protein, maka pemahaman itu akan melekat lebih kuat dalam ingatan mereka. Inilah pembelajaran yang sesungguhnya,” jelasnya.

Sementara itu, Khumaidah ,S.Si., MM guru IPA yang memandu jalannya kegiatan menuturkan langkah-langkah yang ditempuh siswa.

“Pertama, mereka diminta mengeluarkan bekal dan mengamati isinya. Lalu, bersama kelompok, mereka mencatat setiap jenis makanan dan menuliskan kandungan gizinya. Dari situ mereka belajar membedakan mana makanan yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Aktivitas ini sederhana, tetapi sarat makna, karena menumbuhkan kesadaran akan pentingnya bekal sehat,” ujarnya dengan semangat.

Suasana kelas saat itu begitu hidup. Siswa tampak antusias berdiskusi, ada yang berdebat ringan tentang apakah ayam lebih dominan sebagai protein atau lemak, ada yang membandingkan isi bekalnya dengan milik teman, dan ada pula yang terkejut ketika menyadari bekalnya hampir sepenuhnya berisi karbohidrat tanpa sayuran maupun buah.

Dari interaksi sederhana itu, tumbuh kesadaran baru bahwa menjaga keseimbangan gizi adalah hal penting, bukan hanya untuk kesehatan tubuh, tetapi juga untuk ketajaman pikiran.

Salah seorang siswa, Callysta Adena Ramadhani, menyampaikan kesan yang mendalam. “Biasanya saya hanya peduli bekal saya enak dimakan. Tapi setelah kegiatan ini saya jadi tahu, makanan sebaiknya harus seimbang. Ada nasi untuk tenaga, lauk untuk protein, sayur untuk vitamin, dan buah untuk melengkapi,” katanya.

“Mulai sekarang saya ingin minta ibu menambahkan buah ke dalam bekal saya. Rasanya lebih sehat dan membuat saya lebih bersemangat,” imbuhnya polos namun penuh tekad.

Kegiatan ini tidak berhenti pada sekadar identifikasi. Setelah mencatat dan mendiskusikan kandungan gizi, hasil pengamatan siswa dipajang di papan mading madrasah.

Dengan begitu, karya mereka tidak hanya menjadi pengalaman pribadi, tetapi juga pelajaran kolektif bagi seluruh warga madrasah. Setiap siswa yang melintas dapat melihat bagaimana bekal sederhana menyimpan makna besar tentang pola hidup sehat.

Tanamkan Nilai Luhur

Lebih jauh, kegiatan ini juga menanamkan nilai-nilai luhur. Ada rasa syukur atas nikmat Allah yang diberikan setiap hari melalui makanan. Ada pula rasa tanggung jawab untuk menjaga tubuh agar senantiasa kuat dalam menuntut ilmu. Dan yang tak kalah penting, tumbuh kebiasaan membawa bekal sehat dari rumah sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan pribadi sekaligus kemandirian siswa.

Pada akhirnya, kegiatan identifikasi gizi pada bekal makanan ini mengajarkan bahwa pembelajaran IPA bukanlah sesuatu yang kaku dan penuh angka. Ia bisa menjadi cerita hidup yang hangat, yang menyentuh hati, dan yang menumbuhkan kesadaran.

Dari sebuah kotak bekal, para siswa menemukan bahwa gizi adalah sahabat perjalanan mereka: penentu kesehatan hari ini, penopang semangat belajar, dan fondasi untuk meraih cita-cita di masa depan.

MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi melalui mata pelajaran IPA berhasil membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dapat dipadukan dengan nilai kehidupan.

Kegiatan sederhana ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan sejati adalah yang mampu menyalakan kesadaran, menghidupkan rasa syukur, dan menumbuhkan generasi sehat, cerdas, serta berakhlak mulia.(#)

Jurnalis Ervina Marthavania Penyunting Nely Izzatul