
Papa meninggalkan aku dan mama. Aku senang ketika punya ayah baru. Tapi ternyata kebahagiaanku tidak bertahan lama
Cerpen oleh Bekti Sawiji, ASN di Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lumajang Jawa Timur
Tagar.co – Namaku Tamisya. Selama ini aku tinggal dengan mama dan nenek. Kami bertiga di rumah ini sejak papa meninggalkan kami.
Aku lupa kapan papa pergi. Kata mama, usiaku lima tahun dan parasku cantik. Banyak orang menyukai aku. Setiap bertemu orang-orang baru, mereka mengatakan kalau aku cantik dan pintar. Ada yang mengatakan wajahku bulat menggemaskan. Selain itu aku gemoy.
Aku ingin bercerita. Tetapi aku tidak tahu caranya. Kadang aku merasa gembira ria. Tetapi kadang juga ada perasaan sedih di hatiku. Dadaku terasa sakit, ingin menangis terus.
Hal itu terjadi ketika papa meninggalkan mama dan kami semua. Entah apa yang terjadi saat itu aku tidak mengerti. Yang kutahu mama menangis. Sebelum itu dia menjerit-jerit seperti orang kesakitan di dalam kamar.
Saat itu aku mendengar suara, “Plaak..!” beberapa kali. Aku tidak tahu suara apa itu. Suaranya seperti tangan menepok nyamuk di pipi. Aku juga mendengar bunyi, “Jedug..!”
Mama menjerit. Seketika itu bayangan papa berkelebat keluar melalui pintu kamar. Dialah papa, meninggalkanku sendiri di ruang tengah. Setelah itu aku tidak pernah melihat papa lagi.
Aku sudah lupa mengapa mama sering menangis. Aku kembali menjadi seorang anak yang periang dan pintar. Aku dimasukkan taman kanak-kanak. Mama telaten mengajari aku. Dari mama aku hafal doa-doa seperti doa sebelum makan, doa sebelum meninggalkan rumah, atau doa sebelum tidur.
Jika teman sekelasku belum ada yang bisa membaca, maka aku berbeda. Aku sudah bisa membaca kata-kata meskipun belum lancar. Ini yang membuat guru-guru di sekolah sayang kepadaku.
Dari pembicaraan orang aku mendengar bahwa mamaku janda. Awalnya aku tidak mengerti apa itu janda. Aku mengira seperti gemuk, cantik, gembira. Tapi akhirnya aku tahu. Janda adalah seorang perempuan yang bercerai dengan suaminya.
Mama mulai bekerja dan meninggalkan aku di siang hari. Suatu hari dia pulang bersama seorang pria. Di kemudian hari aku memanggilnya ayah.
Menurutku pria ini baik. Dia perhatian kepadaku. Dia juga baik kepada mama. Sepertinya mereka saling menyayangi karena berkali-kali dia menginap di rumah. Suatu kali mama mengatakan kalau pria itu akan menjadi ayahku.
Aku senang akan memiliki sosok pria dewasa sebagai ayah. Aku benar-benar kangen dipangku, diajak bermain, atau ditemani saat menjelang tidur.
Akhirnya pria itu melamar mama. Kami bahagia, terutama mama. Sikapnya kini semakin riang. Dia sering bernyanyi atau video dengan pria itu. Saat bercakap-cakap, sesekali mama berteriak kegirangan.
Dia tertawa hingga terpingkal, atau tersenyum. Kadang mama menjulurkan lidahnya ke arah HP. Tapi sering juga dia mengerucutkan bibirnya. Dari nenek aku mendengar jika mereka tinggal menunggu hari pernikahan.
Sayangnya kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Mama menangis mendengar kabar bahwa pria itu nggak jadi menikahi mama. Padahal undangan sudah diberikan ke orang. Bagaimana dia menjawab masyarakat soal pernikahan itu.
Mama bercerita pria itu mengumpat kepada mama. Bahkan saat telepon, pria itu sering menyebutkan nama-nama binatang. Aku bertanya nenek soal itu. Penyebabnya adalah mama tidak suka ayah bersama dengan wanita lain.
Pria itu sering membuat status WA dirinya sedang bersama perempuan centil dan mesra. Aku bersedih melihat ini. Aku ingin menangis sambil memeluk mama. Aku tidak rela mama dimarahi orang lain. Apalagi dipanggil binatang. Ya Allah tolonglah mama.
Namun demikian, mama cepat baikan lagi. Calon ayahku dan mama sudah bermaaf-maafan. Mereka kembali rukun bagai semula. Pernikahan itupun berhasil dilaksanakan di rumahku. Aku memanggil pria itu ayah.
Kami sekeluarga bahagia. Keluarga ayah datang dan berbahagia. Mereka terpesona melihatku mungkin karena aku gemoy. Aku juga bukan seorang pemalu. Aku selalu menjawab tegas pertanyaan. Mereka semakin suka kepadaku.
Di antara keluarga baruku itu ada pria yang menarik perhatianku. Ternyata aku memanggilnya pak dhe. Dia adalah kakak ipar ayahku. Rupanya aku juga menarik perhatian pak dhe. Dia terlihat senang dan perhatian kepadaku.
Setelah pernikahan, kami diboyong ke rumah ayah di kota tetangga. Kami tinggal di rumah orang tua ayah. Aku memanggilnya mereka mbah kung dan mbah ibuk alias kakek dan nenek. Di situ tinggal juga om dan tante. Anaknya yang lebih kecil dariku. Aku senang tinggal di situ. Ada teman bermain.
Orang-orang di situ baik semua kepadaku. Pak dhe, meskipun tidak tinggal serumah, adalah yang paling baik di antara mereka. Kadang aku diberi permen atau kue. Pak dhe juga sering memberi tebak-tebakan. Jika aku bisa menjawab, dia memberiku hadiah. Dia juga mendongeng untukku. Lengkap sudah kebahagiaanku. Aku suka berkejaran. Aku suka menyanyi. Aku segera punya banyak teman.
Sayangnya, seperti dulu, kebahagiaanku tidak lama. Ayah dan mama tidak lagi rukun. Hampir setiap saat aku mendengar mereka bertengkar. Sebabnya hanya gara-gara foto di HP. Ayah menyimpan banyak sekali foto perempuan cantik di HP-nya.
Nama-nama hewan di kebun binatang sering kudengar kembali. Kini suasanya sangat berbeda, selalu sedih dan mencekam. Meski bukan kepadaku, amarah ayah menakutkan. Suara itu memekakkan telinga. Aku takut sekali. Aku bersembunyi di pojok ruangan.
Hari-hariku selanjutnya penuh rasa takut. Aku sering gelisah. Aku sedih melihat mama. Mama tidak lagi menyanyi. Matanya sering merah. Dia jarang tertawa.
Puncaknya, ayah bertengkar lagi dengan mama. Tetapi penyebabnya kali ini agak lain. Di kamar mama ada bau menyengat. Baru kali ini mengenal bau harum, manis, tetapi cukup kuat. Ternyata bau ini berasal dari sebuah botol minuman.
Warnanya bening tetapi baunya seperti buah-buahan. Yah, seperti bau buah leci. Saking kuatnya bau itu, aku ingin juga meminumnya. Aku heran mengapa hanya gara-gara minuman yang harum ini mama sampai bertengkar.
“Aku sudah tidak tahan hidup denganmu,” kata mama ke ayah dengan nada keras.
“Terserah kamu!” balas ayah tak kalah keras, sampai badanku seolah hendak terlempar.
“Oh, begitu ya. Baiklah, besok aku akan pulang ke rumah dan tidak akan kembali lagi.”
“Baguslah kalau begitu,” jawab ayah sambil memegang leher botol itu. Kemudian ayah meneguk minuman dalam botol bertuliskan “Iceland” itu.
Malam itu aku dan mama tidur tanpa ayah. Aku melihat ayah keluar kamar meninggalkan kami. Ayah pergi bersama teman-temannya dan tidak kembali. Ternyata itulah terakhir kali aku melihat wajah ayah.
Paginya mama memboncengku naik motor. Aku bonceng berdiri di depan. Sebelum kami pergi, mama menulis pesan di grup keluarga. Mama mengucapkan maaf. Dia berpamitan jika kami pulang ke kampung halaman. Aku tidak tahu apakah aku akan kembali lagi.
Belum terlalu jauh aku dan mama meninggalkan rumah, mama merekam perjalanan kami. Dia mengirimkan rekaman itu ke grup.
Tidak lama setelah itu, Pak Dhe menulis di grup:
Nduuk Tasya….
Kamu anak baik, anak pintar
Semoga tubuhmu kuat melawan angin yang jahat
Semoga jiwamu kuat melawan keserakahan manusia
Semoga kamu menjadi anak yang tangguh tuk bertahan
Kamu manusia kecil hebat yang tidak berdosa
yang harus menanggung apa yang kamu tidak perbuat
Malaikat bersujud di hadapan kamu
Allah menjagamu nduk….
Pesan Pak Dhe ini cepat mendapat reaksi. Beberapa emot menangis dikirim anggota grup. Semua bersimpati kepadaku, kepada mama. Lalu, mama keluar dari grup. (#)
Penyunting Ichwan Arif












