Feature

Penulis Dua Daerah Menerbitkan Buku Palestina

41
×

Penulis Dua Daerah Menerbitkan Buku Palestina

Sebarkan artikel ini
Penulis dari Lamongan dan Palangka Raya berkolaborasi menulis buku peristiwa Palestina. Dari dua tempat berjauhan bisa menyatukan pemikiran dalam satu buku.
Buku Tangis Sunyi Palestina

Penulis dari Lamongan dan Palangka Raya berkolaborasi menulis buku peristiwa Palestina. Dari dua tempat berjauhan bisa menyatukan pemikiran dalam satu buku.

Tagar.co – Penulis muda dari dua daerah yang berjauhan bisa bekerja sama secara online menerbitkan buku berjudul Tangis Sunyi Palestina.

Penulis itu Fathan Faris Saputro dari Lamongan, Jawa Timur dan Risma Dewi dari Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Mereka saling kenal sebagai aktivis IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah).

Risma Dewi kini menjadi Ketua Bidang Immawati DPD IMM Kalimantan Tengah dan pengurus Nasyiatul Aisyiyah Cabang Pahandut.

Bukunya telah selesai dilayout dan kini ditawarkan ke warga secara pre order lewat medsos.

Risma Dewi mengatakan, pada mulanya ragu dapat menyelesaikan tulisan di buku ini. Ternyata menulis itu banyak tantangannya, mulai dari menstabilkan suasana hati hingga mencari kata-kata inspiratif.

”Namun di balik semua itu, saya punya semangat. Harapan saya buku ini dapat menjadi jalan jihad dan bukti konkret kepedulian saya terhadap Palestina,” kata Risma dihubungi Rabu (3/9/2025).

Baca Juga:  Perlima Fantasia: Menyemai Kepedulian Sosial Anak melalui Cerita

Dia menjelaskan, buku setebal 274 halaman. Penerbitnya Selfietera Indonesia. Isi buku cerita dan peristiwa suka duka yang terjadi di tanah Palestina.

”Sumber penulisan dari berbagai lapak media yang valid di Instagram seperti eye on palestine, dan lainnya,” ujarnya.

Dia koordinasi menulis dengan teman sejawat di Lamongan melalui chat WhatsApp. Diskusi isi buku dan pembagian penulisan.

Perempuan yang aktif menulis artikel di portal berita ini menambahkan, kiblat utama tulisan tentang kondisi umat Islam. Dari situ bersemangat untuk menyelesaikan tulisan ini.

”Ini adalah jalan dakwah saya. Palestina merupakan tempat bersejarah bagi umat Islam, dan apa yang terjadi di sana menjadi tanggung jawab kita, di dunia maupun akhirat,” tandasnya.

Sementara itu, Fathan Faris Saputro, penulis Lamongan, memandang buku ini sebagai keberpihakan melalui jalur intelektual dan literasi.

Dalam pandangannya, menulis bukan sekadar aktivitas kreatif, melainkan juga bentuk keberanian moral.

”Menulis buku Tangis Sunyi Palestina adalah upaya kecil kami untuk tidak menjadi bisu di tengah tragedi besar,” ujarnya.

Baca Juga:  Din Syamsuddin Nilai Board of Peace sebagai Nekolim Gaya Baru

Peristiwa Palestina dia catat dan menyuarakan ketidakadilan lewat tulisan. Membiarkan ketidakadilan terjadi itu kelalaian.

”Kami ingin menyampaikan bahwa keberpihakan tidak harus melalui angkat senjata, tapi juga dapat dilakukan melalui tulisan pena. Palestina bukan sekadar berita harian, melainkan luka yang tak boleh dibiarkan sembuh karena dilupakan,” tandas penulis buku Luwesitas IMM dan Kilau Senja di Kota Soto.

Menurut dia, buku Tangis Sunyi Palestina menjadi ruang bagi generasi muda untuk bersuara serta mengambil bagian dalam perjuangan global melalui kekuatan kata.

Dia berharap tulisan ini mampu menggugah kesadaran publik serta menjadi bahan renungan spiritual di tengah krisis kemanusiaan yang kerap kali dilupakan oleh dunia. (#)

Jurnalis Habib Amrullah  Penyunting Sugeng Purwanto