Cerpen

Farfar dan Layang-Layang Putus

39
×

Farfar dan Layang-Layang Putus

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Farfar dan Layang-Layang Putus
Ilustrasi cerpen Farfar dan Layang-Layang Putus (Al)

Bagi Farfar, menangkap layang-layang putus hanyalah mimpi. Teman-temannya selalu lebih gesit. Tapi sampai kapan ia harus hidup dalam rasa kalah?

Cerpen oleh Bekti Sawiji, ASN di Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lumajang Jawa Timur

Tagar.co –  Malam itu Farfar sulit tidur.  Sudah hampir pukul 11 malam, walau kedua matanya menatap langit-langit dan dinding kamar, tetapi pikirannya mengembara ke mana-mana.

Belakangan ini, Farfar sering kecewa. Ia belum pernah berhasil menangkap layang-layang putus bersama teman-temannya. Sementara itu Dion, Asfa, dan Cungcung sangat sering berhasil menangkap layang-layang putus.

Farfar memang tidak sebesar atau setinggi Dion, tetapi dia masih terhitung lebih besar dan lebih tinggi dari dua sahabatnya yang lain, Asfa dan Cungcung. Namun begitu, dia selalu kalah gesit dengan mereka.

“Apakah aku anak yang lemah? Aku orang yang selalu kalah?” bisik batin Farfar.

Bayangan sahabat-sahabatnya berkelebat di pikiran Farfar dan membuatnya semakin sesak karena ingin sekali-kali dia merasakan posisi mereka, bisa menangkap layang-layang putus.

Suatu siang, belasan anak menatap langit dengan serius. Mata mereka tertuju kedua buah layang-layang yang sedang beradu. Kedua layang-layang itu beradu sangat sengit, terlihat dari gerakan mereka yang saling melilit benang lawannya.

Tarik ulurnya sangat jelas, membuat suasana semakin seru. Angin yang cukup kencang membuat layang-layang itu tampak semakin gesit. Pertarungan itu semakin mendebarkan karena teriakan anak-anak yang menunggu putusnya layang-layang itu.

“Putussss…..!!!!” teriak anak-anak serempak.

Farfar yang berada diantara mereka turut lari melesat ke arah layang-layang putus itu akan turun. Suara klakson dan deru motor tidak mereka hiraukan. Sekejap anak-anak berada di satu titik dimana layang-layang diperkirakan akan mendarat.

Semakin dekat layang-layang, mereka semakin merapat berebut posisi, ingin menjadi yang paling dekat, ingin menjadi yang pertama merebut layang-layang itu.

Dada Farfar berdegup kencang melihat layang-layang itu mendekat. Dia merasa layang-layang itu bergerak ke arahnya. Farfar sekejap terpukau karena layang-layang itu seperti melambai-lambai kepadanya.

Sementara anak-anak semakin berdesakan untuk merebut dengan sekuat tenaga. Farfar pun demikian. Dia menunggu saat yang paling tepat untuk mengerahkan segala kekuatannya.

Saat itu tibalah. Layang-layang itu sudah sedemikian rendahnya sehingga sangat mungkin, sekali meloncat dengan kuat, mereka akan mampu menggapainya.

“Inilah saatnya….!” seru Farfar dalam hati.

Dia kumpulkan energi yang dia miliki. Dia mengambil ancang-ancang, seperti bentuk kuda-kuda seorang karateka yang hendak bertanding, merendahkan tubuh untuk kemudian meloncat.

“Sekarang…..!” teriaknya sambil melompat sekuat tenaga sementara kedua tangannya diangkat setinggi-tingginya, seperti pemain voli melakukan blocking smash lawan.

Teman-temannya pun demikian, sambil berteriak, melompat dan berebut. Harapan Farfar untuk mendapatkan layang-layang itu semakin nyata dan itu akan mengakhiri rasa mindernya selama ini karena hanya dia yang sama sekali belum berhasil menangkap layang-layang putus.

Baca Juga:  Ayat-Ayat di Ujung Senja

Yakk…!!!

Farfar meloncat sekuat tenaga dan layang-layang itu sudah beberapa senti dari jangkauannya.

Dada Farfar semakin kencang berdegup saking inginnya mendapatkan layang-layang itu dan, Happ….!! Seketika layang-layang itu bergerak menjauh dan meninggi, meninggalkan tangan Farfar dan semua anak-anak di sekitar situ.

Rupanya, tak jauh dari situ Cungcung menghela benang layang-layang yang putus dan jadi rebutan itu. Jika anak-anak yang lain fokus terhadap jatuhnya layang-layang, Cungcung memilih memusatkan perhatiannya ke ujung benang putus yang menggantung di udara.

Begitu  benang sudah dekat, tanpa kesulitan, dengan sedikit meloncat, Cungcung merenggutnya dengan cepat. Begitu benang di tangan, dia menariknya dan membuat layang-layang itu urung jatuh.

Banyak wajah kecewa karena tidak berhasil menangkap layang-layang itu. Lebih-lebih Farfar, dia terlihat duka yang mendalam. Kesempatan terbaik baru saja dia lewatkan, terkalahkan oleh sahabatnya, Cungcung.

“Ya, sepertinya aku memang harus selalu kalah. Aku lemah sekali,” bisik Farfar kepada dirinya sendiri.

Malam itu begitu berat hingga Farfar tertidur dengan dada yang penuh sesak.

***

“Bangun Farfar, segera salat Subuh,” suara Ibu sambil menepuk-nepuk tubuh dan membangunkan Farfar.

Farfar kaget tetapi malas bangkit. Dia tidak tahu kalau baru tertidur tengah malam sehingga matanya masih terasa berat untuk bangun.

“Nak, ayo bangun dulu!” kata ibu lembut.

Tidak ingin dibangunkan untuk ketiga kalinya, Farfar segera bangkit dan mengambil air wudhu dan salat. Dalam dzikirnya dia memohon kepada Allah agar diberi kemampuan untuk menangkap layang-layang, karena itu akan membuatnya bangga, atau setidaknya lebih percaya diri saat bergaul dengan teman-temannya.

Dia tidak ingin hanya menjadi pendengar cerita teman-temannya tentang layang-layang putus. Dia juga tidak ingin menjadi layang-layang itu sendiri, yang bertarung dengan kawannya lalu putus. Dia ingin menjadi tokoh yang bercerita dan merasakan sendiri sensasi itu.

“Amin Ya Robbal Alamin,” tutup doa Farfar.

Doa itu selalu bergema di dalam dada Farfar kemanapun dia pergi. Bahkan sampai hari menjelang sore, doa itu masih terngiang di hati Farfar.

***

Hari sudah hampir sore. Cuaca cerah dan angin kencang meliputi kampung tempat tinggal Farfar. Cuaca favorit anak-anak yang hobi bermain layang-layang.

Tampak belasan layang-layang mengudara dan memenuhi langit kampung. Ada yang terbang tinggi, ada juga yang baru saja lepas landas.

Tiba-tiba ada dua layang-layang beradu. Keduanya tampak gagah bergerak kesana kemari dengan gesit seolah hendak menukik dan memukul lawannya. Mereka saling menghindar sekaligus memberikan serangan balik. Keduanya saling mengintimidasi.

Akhirnya pertarungan menjadi semakin sengit. Mereka saling melilit, menarik, mengulur, dan teriakan-teriakan semangat keluar dari para pendukung. Sementara anak-anak sudah bersiap dengan hasil pertarungan itu, yaitu menangkap layang-layang yang putus.

Baca Juga:  Tiket Terakhir Menuju Pulang

Farfar kali ini tampak lebih siap untuk berlomba dengan anak-anak yang lain untuk menangkap layang-layang putus. Mereka siaga dan kini melihat kedua layang-layang yang beradu itu sama kuat. Butuh waktu lebih lama bagi satu layang-layang mengalahkan lawannya.

Semua deg-degan karena layang-layang itu terbang cukup rendah. Dan, “Putuuusss….,” teriak anak-anak.

“Putus semuaaa….,” teriak anak yang lain.

Akhirnya kedua layang-layang itu putus bersama. Jadi di langit yang rendah ada dua layang-layang putus yang siap untuk di rebut. Farfar dan teman-temannya berlari ke arah layang-layang itu terbang meluncur.

Tetapi, sayangnya saat sudah dekat, layang-layang itu tidak jatuh ke tanah. Keduanya jatuh di teras lantai dua rumah Pak Probo. Anak-anak kecewa karena setiap jatuh ke situ, mereka tidak lagi bisa mengambilnya karena terlalu tinggi dan mereka tidak memiliki alat untuk ke sana.

Untuk naik ke lantai dua rumah Pak Probo adalah hal yang tidak mungkin. Semua anak segan untuk melakukan itu, meskipun Pak Probo adalah orang baik. Ibarat pohon yang rindang, dia sering menjadi tempat berteduh warga.

Dia juga dikenal oleh warga sebagai pribadi yang bijaksana serta suka menolong orang-orang kampung. Selain itu Pak Probo adalah orang yang berpendidikan dan tentu saja pintar.

Baik Farfar maupun anak-anak lainnya memutuskan untuk merelakan layang-layang itu dan berniat kembali ke tempat semula. Tetapi mereka mengurungkan niatnya setelah mendengar suara memanggil mereka.

“Anak-anak, tunggu!, teriak Pak Probo dari teras lantai dua rumahnya.

Sontak anak-anak berhenti dan kembali ke arah rumah Pak Probo. Setelah anak-anak mendekat, Pak Probo masih di atas. Sambil menenteng dua layang-layang, dia bertanya, “Apakah kalian menginginkan layang-layang ini?”

“Mauu…,” sahut mereka penuh semangat.

Wajah mereka begitu gembira menyambut kesempatan itu. Tetapi mereka masih bingung bagaimana mereka bisa mendapatkan layang-layang yang jumlahnya hanya dua buah itu sementara jumlah mereka cukup banyak.

Farfar dan teman-temannya menduga kalau layang-layang itu akan dilepas Pak Probo dari atas untuk diperebutkan kembali.

“Anak-anak, siapa dapat menjawab pertanyaan saya, dapat dua layang-layang ini,” kata Pak Probo seolah membuat penawaran.

“Bagaimana anak-anak? Mau?” tanya Pak Probo Lagi.

“Mau Pak… .”

“Siap dengan pertanyaan saya?”

“Siap…!” teriak anak-anak kompak.

Hati Farfar kini bergetar lebih kuat daripada saat dia hampir mendapatkan layang-layang waktu itu. Farfar mendapatkan beban yang lebih berat.

Dia dikenal sebagai anak yang pintar, dan paling pintar di sekolah, jauh mengalahkan teman-temannya. Farfar takut jika kali ini dia tidak dapat menjawab pertanyaan Pak Probo atau ada temannya yang bisa menjawab lebih cepat dan benar.

Masih di atas, sambil menatap anak-anak yang di bawah Pak Probo mulai menyampaikan pertanyaannya kepada mereka.

Baca Juga:  Papa Mama, Teguh Sudah Bisa Beli Baju Sendiri

“Mengapa layang-layang sering dibuat warna-warni dan bentuk yang menarik?” tanya Pak Probo. Sebagian anak-anak tidak menduga pertanyaannya model begini. Mereka mengira hanya akan diberi tebak-tebakan.

Sejenak mereka terdiam, pun Farfar yang merasa cukup kaget dengan pertanyaan kejutan ini. Beberapa detik tidak ada yang menjawab hingga salah satu dari mereka mengangkat tangan.

Dialah Dion, teman Farfar yang sudah sering menangkap layang-layang. Farfar semakin gundah hatinya karena saat dia masih memikirkan jawaban yang tepat, temannya sudah mendahului menjawab.

“Karena kertas di toko berwarna-warni Pak…..,” jawab Dion disambut tawa lepas dan tepuk tangan anak-anak.

“Kurang tepat,” kata Pak Probo. “Silakan yang lain.”

Suasana kembali sunyi. Dada Farfar semakin berguncang. Kali ini dia ingin menjawab pertanyaan itu meskipun diliputi rasa pesimis akan jawabannya. Dia khawatir salah dalam menjawab.

Jika itu terjadi, lengkaplah penderitaan dia, gagalnya dia mendapatkan layang-layang dan menurunnya reputasinya sebagai anak yang dikenal paling pintar.

“Saya, Pak,” teriak Farfar sambil mengangkat tangan dengan penuh keyakinan.

“Baik, silakan. Apa jawabanmu?” Kata Pak Probo menyilakan.

“Layang-layang dibuat warna-warni agar terlihat indah ketika terbang di langit dan menjadi perhatian orang-orang yang memandangya. Selain itu agar mudah dikenali oleh pemiliknya,” jawab Farfar lantang dan lancar.

Sementara itu temannya terdiam semua. Mereka seperti terpaku dengan kelancaran Farfar menjawab pertanyaan itu.

Pak Probo terkesima dengan jawaban Farfar. Sempat terdiam sejenak, dia lalu berkata, “Benar sekali, ini jawaban yang sangat tepat dan bagus.”

Anak-anak bertepuk tangan riuh sambil berteriak hore hampir bersamaan. Hati Farfar sangat lega dan gembira mendapati jawabannya bukan hanya benar melainkan juga diberi pujian. Pak Probo turun dari lantai dua sambil membawa kedua layang-layang itu.

Anak-anak berkumpul dan tanpa dikomando mereka membentuk setengah lingkaran. Dengan wajah ceria Farfar berhadapan dengan Pak Probo yang siap menyerahkan layang-layang hadiah itu.

“Farfar, kamu sangat pintar. Kamu layak mendapatkan hadiah layang-layang yang berharga ini,” ucap Pak Probo di sambut hening oleh teman-temannya.

Tiba-tiba saja suasana menjadi haru biru. Farfar tidak sanggup membendung air matanya yang akhirnya tumpah. Perasaan bangga, bahagia, dan haru bercampur aduk di dada Farfar. Tidak mau malu karena menangis, Farfar buru-buru menyapu kering air matanya dengan ujung kain kaosnya dan tersenyum.

“Terimalah Nak!” kata Pak Probo menyerahkan dua layang-layang itu. “Terima kasih, Pak,” jawab Farfar mantap diiringi tepuk tangan dan teriakan girang teman-temannya.

Ini mengakhiri puasa panjang Farfar dalam menangkap layang-layang. Dia berhasil mendapatkan layang-layang putus dengan cara yang tidak biasa, tidak semua anak bisa. (#)

Penyunting Ichwan Arif

Cerpen

Kepanikan membawa sebuah keluarga ke ruang gawat darurat…