Feature

Di SD Muwri, 88 Jenis Tanaman Tercatat Rapi: Total 839 Batang

28
×

Di SD Muwri, 88 Jenis Tanaman Tercatat Rapi: Total 839 Batang

Sebarkan artikel ini
Saya dan Mardliayatul Faizun bersama Kepala SD Muwri Kholiq Idrsi saat disambut Kader Tiwisada atau  Ecowarriors dengan latar belakang kerindangan pohon beringin dan golokan di halaman depan (Tagar.co/Tim Media SD Muwri)

Di SD Muhammadiyah 1 Wringinanom (Muwri), tak ada satu pun tanaman yang terlewat dari pendataan. Dari toga, tanaman produktif, hingga tanaman hias, semuanya dihitung satu per satu. Hasilnya mencengangkan: 88 jenis dengan total 839 batang

Tagar.co – Jumat (15/8/2025) pagi itu, saya bersama Andi Rahmat Rahim alias Pak Andi dan Mardliayatul Faizun atau Mbak Is berkesempatan menjadi juri Lomba Lingkungan Sekolah Muhammadiyah Sehat (LLSMS) di SD Muhammadiyah 1 Wringinanom, Gresik, Jawa Timur.

Begitu memasuki gerbang sekolah, kami langsung disambut dengan pemandangan yang menyejukkan mata.

Tepat di pintu masuk, sulur-sulur tanaman markisa menjuntai rapi, membentuk kanopi alami yang teduh. Rasanya seperti melewati tirai hijau yang bukan hanya memperindah suasana, tetapi juga menghadirkan keteduhan yang menenangkan.

Baca berita terkaitTuntutlah Ilmu Zero Waste walau Sampai di Desa Wringinanom

Di sisi kanan, kami melihat taman vertikal yang tersusun dari beragam tanaman hias. Susunannya rapi dan segar, membuat dinding sekolah tampak hidup. Di tengahnya, terdapat ornamen bergambar pemandangan alam, seolah menegaskan semangat sekolah ini untuk memadukan keindahan dengan kepedulian lingkungan.

Usai penyambutan di gerbang, kami diajak berkeliling melihat lebih dekat berbagai program lingkungan yang telah digagas sekolah. Perhentian berikutnya adalah green house, salah satu kebanggaan sekolah ini.

Baca Juga:  Grafik Terus Naik, Sekolah Muhammadiyah Gresik kian Diminati, Siswa Tembus 14.875
Kerindangan pepohonan di halaman tengah SD Muwei membuat Senam Anak Indonesia Hebta berlangsung hangat dan segar (Tagar.co/Tim Media SD Muwri)

Di dalamnya, deretan pot tanaman tersusun rapi di rak-rak bertingkat. Setiap pot dilengkapi label, menunjukkan bahwa anak-anak, terutama Kader Tiwisada, dilibatkan langsung dalam kegiatan pembelajaran berbasis lingkungan.

Ada tanaman obat keluarga, sayuran hijau, hingga aneka tanaman hias yang tumbuh subur. Kreativitas siswa terlihat dari penggunaan media tanam ramah lingkungan, seperti pot dari botol plastik dan ban bekas yang dicat berwarna-warni.

Saya, bersama Pak Andi dan Mbak Is, benar-benar merasakan semangat belajar yang hidup di ruang-ruang hijau ini. Kami mencatat, memotret, dan sesekali berdialog dengan guru serta siswa yang mendampingi.

Suasananya terasa hangat—green house dan taman sekolah ini tidak sekadar ruang praktik biologi, tetapi sudah menjadi laboratorium hidup yang mengajarkan edukasi, kreativitas, sekaligus kepedulian lingkungan.

“Apa ada perlakuan berbeda antara tanaman di sini dengan yang di luar green house?” tanya saya pada Indart, Penanggung Jawab Green House guru penanggung jawab yang mengikuti kunjungan kami ke green house.

Saya sedang memeriksa daftar tanaman di SD Muwri yang ditunjukkan guru Indart (tengah) saat berada di green house (Tagar.co/Tim Media SD Muwri)

Menurutnya tanaman diletakkan di green house karena sedang dirawat, seperti dalam proses pertumbuhan dari hasil pembenihan atau perawatan khusus pada tanaman yang mengalami masalah.

“Jadi kalau sudah layak ditaruh di luar,” ujarnya, ditemani beberapa Kader Tiwisada atau Ecowarriors

Ketika saya tanya berapa tanaman yang ada di sini, dia langsung membuka handphone dan menunjukkan daftar tanaman yang tersimpan di PDF.

Baca Juga:  Ketika Kepala MTs Mempertanyakan ‘Amalan’ di Balik Bantuan Smart TV

“Ini perlu dikasih judul,” saran saya, karena di berkas itu belum ada judulnya, misalnya Daftar Tanaman di SD Muwri.

Foto bersama di bawah kanopi alam markisa dengan akar sulur yang menjulur indah berpadu dengan taman vertikal (Tagar.co/Tim Media SD Muwri)

Menurut data yang disampaikan Khairun Nisak, salah satu penanggug jawab program lingkungan hidup SD Muwri, total ada 839 tanaman yang tumbuh di sekolah ini. Jumlah itu terbagi ke dalam tiga kelompok besar:

  • Tanaman produktif, 14 jenis dengan jumlah 120 tanaman, seperti mangga.

  • Tanaman hias, 47 jenis dengan jumlah 567 tanaman, termasuk di antaranya tanduk rusa yang diganutng di pohon-pohon besar untuk keindahan halaman tengah sekolah.

  • Tanaman toga, 27 jenis dengan jumlah 152 tanaman, seperti sereh merah dan patah tulang.

Saya senang sekolah ini memiliki data lengkap mengenai tanaman yang dimiliki—di samping papan identitas lengkap dengan barcode di setiap tanaman, ada katalognya. Sebab tanaman-tanaman itu pada hakikatnya adalah makhluk hidup, bagian dari warga sekolah, yang juga perlu mendapat perhatian: diperhatikan, dilindungi, dan dirawat.

Bersama Kepala SD Muwri Kholiq Idris di Taman Belajar SD Muwri yang dibangun Arwana Ceramics tapi belum ada tanaman besar yang menaunginya (Tagar.co/Mardliyatul Faizun)

Pendataan ini bukan sekadar angka di atas kertas. Beberapa tanaman sudah dimanfaatkan menjadi produk olahan. Salah satunya tanaman beluntas (Pluchea indica Less.) yang diolah menjadi minuman sehat. Minuman inilah yang disuguhkan kepada kami saat kunjungan.

Baca Juga:  Dari Semangat ke Pendampingan: Peran Guru dalam Kurikulum Berbasis Cinta

Rasanya segar dengan aroma kunyit. “Kami tambahkan kunyit, Pak, supaya baunya tidak menusuk,” ujar Suffiana An Noor, Ketua Ikatan Wali Murid (Ikwam) SD Muwri periode 2022–2025.

Sayangnya, kehidupan hijau yang terlihat di halaman sekolah belum banyak dibawa masuk ke dalam ruang-ruang. Saya bersama Andi menyarankan agar di dalam kelas maupun ruang lainnya ditempatkan tanaman hias hidup. Agar kesegaran dan kehijauan bisa dirasakan juga di dalam ruangan,” usul saya.

Bersama Wakil Kepala SD Muwri Rahmat Syayid Syuhur di pojok kolam ikan (Tagar.co/Mardliyatul Faizun)

Kami juga memberikan masukan agar taman vertikal dan kanopi hidup diperbanyak. “Mungkin area Taman Belajar yang masih terasa panas bagus kalau dibuatkan kanopi hidup seperti di gerbang itu,” tambah saya. “Bisa juga dikasih gazebo,” usul Pak Andi

Selain itu, saya menyarankan agar musala yang sedang dalam proses pembangunan nantinya ditanami pohon-pohon keras supaya suasananya lebih rindang dan nyaman.

Pojok kolam ikan dengan air pancuran juga menjadi perhatian kami. “Saya senang ada kolam ini. Ini sumber inspirasi. Alangkah baiknya jika dibuat di pojok lainnya,” saran saya.

Ucapan itu langsung ditanggapi oleh Kepala Urusan Kesiswaan SD Muwri Mufidatul Latifah. “Ya, Pak. Ada orang tua yang menyekolahkan anaknya karena kolam ini,” ungkapnya. (#)

Jurnalis Mohammad Nurfatoni