Feature

Kisah Muhammad Utsman Melatih Anak Menjadi Pejuang Dakwah

44
×

Kisah Muhammad Utsman Melatih Anak Menjadi Pejuang Dakwah

Sebarkan artikel ini
Kisah Muhammad Utsman
Muhammad Yusuf Hidayatullah, Ketua PCM Tempeh, depan, bercerita kisah Muhammad Utsman, ayahnya, di kebun belakang rumah. (Tagar.co/Kuswantoro)

Kisah Muhammad Utsman, tokoh Muhammadiyah Tempeh Lumajang, dituturkan anaknya yang ngintil mengikuti dakwah hingga ke pelosok jauh. Pulangnya jalan kaki.  

Tagar.co – Pagi itu, di halaman belakang rumah sederhana di Desa Besuk, Kecamatan Tempeh, Lumajang, di rumah yang letaknya tak jauh dari LKSA Al-Ikhlas, Muhammad Yusuf Hidayatullah, duduk berselonjor.

Rabu (30/7/2025), mentari belum tinggi, Yusuf membuka lembaran kenangan masa kecil yang menuntunnya hari ini menjadi Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tempeh sekaligus Ketua MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) Lumajang.

”Aku masih kecil waktu itu, mungkin kelas empat atau lima SD. Bapak ajak aku ke pelosok Tengger di Kecamatan Senduro. Untuk dakwah,” cerita Yusuf lirih.

Sang bapak, almarhum Muhammad Utsman, tokoh Muhammadiyah Tempeh yang hidup untuk dakwah. Lahir Lumajang, 1 Januari 1940 dan wafat 6 Maret 2013 pada usia 73 tahun.

Kisah Muhammad Utsman dan jejak perjuangannya bisa ditelusuri di jalan-jalan hutan, maupun apa yang tertanam di tanah-tanah wakaf yang kini menjadi denyut nadi dakwah dan sosial di Tempeh.

“Saya masih ingat, kami naik angkutan umum jeep Hardtop dari Pasar Sayur Senduro menuju Argosari Tengger, desa paling ujung di Kecamatan Senduro,” tuturnya.

Baca Juga:  Bupati Hadiri Pembagian Kado Ramadan Lazismu Lumajang

Saat itu jalan masih batu-batu, naik turun, dan sempit. ”Waktu itu aku nggak terlalu paham ke mana kami sebenarnya. Yang aku tahu: kami mau menemui para mualaf,” kenang Yusuf.

Bukan saat berangkat yang paling membekas dalam ingatan, melainkan perjalanan pulang.

“Kalau berangkat naik mobil. Pulangnya…bapak ajak jalan kaki. Lewat hutan, tembus sampai ke Kecamatan Senduro,” ucap Yusuf sambil tersenyum getir mengenang kisah Muhammad Utsman, ayahnya.

Di sepanjang jalan itulah, bapaknya menanam nilai. Bahwa dakwah adalah kerja keras. Tidak boleh manja. Tidak boleh mengeluh.

“Bapak selalu bilang, berdakwah itu harus kuat. Dan itu yang dipegang terus sama kakak-kakakku juga,” katanya.

Muhammad Utsman

Bekal Atribut Muhammadiyah

Bukan hanya Yusuf yang diajak. Kakaknya, Muhammad Yusuf Wibisono, bahkan lebih dulu menapaki jalan berat itu. Wibisono sekarang juga aktif di PCM Tempeh menjadi wakil ketua.

Tahun 1980-an, saat kendaraan bermotor masih langka, kakaknya diajak berdakwah ke Tempursari  wilayah pesisir selatan Lumajang yang jauh dan terjal.

“Waktu itu kakak berangkat naik angkot. Turun di Kecamatan Ampelgading, Malang,  karena Tempursari, Lumajang, dan Ampelgading saling berbatasan. Rute terdekat saat itu memang lewat Ampelgading, meskipun harus jalan kaki, karena jalur Pronojiwo-Tempursari belum tembus,” jelasnya.

Baca Juga:  Lazismu Lumajang Audiensi ke Bupati

Setelah turun dari angkutan umum, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, menyusuri jalan setapak di aliran lahar Semeru. Lewat Padas Bang  yang sekarang masuk Tamansari, Desa Kaliuling.

Jalur Padas Bang memang bukan tujuan utama, melainkan jalur yang mesti dilalui untuk menjangkau Tempursari  titik dakwah yang benar-benar menjadi misi keluarga mereka.

Yang dibawa dalam ransel bapak pun bukan bekal makan atau baju ganti.

“Isinya majalah Suara Muhammadiyah, hiasan dinding bertuliskan Muhammadiyah, dan taplak meja Muhammadiyah. Itu semua sudah dipesan oleh jamaah di Tempursari,” ujarnya.

Mas Wibis, begitu ia biasa memanggil kakaknya, pernah berjalan kaki dari Desa Sumberjo menuju Lebakharjo, pulang-pergi, sekitar tahun 1981–1982. Karena intensitas kunjungan itu, anak angkat Mas Sukamto yang mereka kenal dekat akhirnya menikah di Lebakharjo dan tinggal di sana hingga sekarang.

Selang beberapa waktu, sekitar tahun 1982–1983, bapaknya kemudian membeli sebidang tanah di sebelah Masjid At-Taqwa Tempeh. Tanah itu kelak menjadi salah satu fondasi fisik gerakan dakwah di Tempeh.

Warisan Dakwah

Kisah Muhammad Utsman tak hanya berdakwah lewat kata-kata, tapi juga meninggalkan warisan nyata. Sekretariat PCM Tempeh yang berdiri hari ini berdiri di atas tanah wakaf darinya.

Baca Juga:  Mengenalkan Lazismu ke Anak-Anak lewat Dongeng  

Masjid At-Taqwa Tempeh, dan lahan tempat kini berdiri LKSA Al-Ikhlas Tempeh  semua itu buah dari tangan dan pengorbanannya.

“Hidup bapak sepenuhnya untuk Muhammadiyah. Insyaallah, akan kami lanjutkan perjuangan bapak ini,” ucap Yusuf.

Kini, Yusuf berjalan di jalan yang sama. Bukan lagi jalan hutan, tapi jalan panjang dakwah dan kemanusiaan. Ia membawa nilai yang sama  bahwa ikhlas dan keteguhan tak lekang oleh zaman.

Semuanya bermula dari langkah kaki kecil seorang anak, menelusuri jalan setapak bersama sang bapak. Puluhan tahun silam.

Kenangan itu bukan hanya cerita keluarga, tapi menjadi warisan gerakan. Kisah kecil yang lahir dari pelosok, tapi menumbuhkan keyakinan besar: bahwa dakwah bisa tumbuh dari peluh dan langkah kaki, bukan dari mimbar megah semata.

Dan dari halaman belakang rumah itulah, Yusuf kembali meneguhkan niat. Bahwa perjuangan Muhammadiyah Tempeh belum selesai.

Masih ada ladang-ladang amal yang menunggu disemai. Dan semangat bapaknya tetap menyala dalam langkahnya hari ini. (#)

Penulis Kuswantoro  Penyunting Sugeng Purwanto