Opini

Bahagia setelah Berkuasa: Menangkal Post Power Syndrome

35
×

Bahagia setelah Berkuasa: Menangkal Post Power Syndrome

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Dalam kehidupan, kekuasaan dan jabatan bersifat sementara. Ketika masa aktif berakhir, tidak sedikit orang yang mengalami kekosongan batin dan perubahan drastis dalam keseharian. Fenomena ini sering kali memunculkan kondisi psikologis yang dikenal sebagai Post Power Syndrome.

Oleh: dr. Mohamad Isa

Tagar.coPost Power Syndrome. Melalui tulisan ini, saya mengajak memahami gejala, dampak, dan cara menghadapi kondisi tersebut agar masa purnatugas tetap menjadi fase hidup yang sehat, produktif, dan membahagiakan.

Baca juga: 60 Persen Penduduk Indonesia Tergolong Miskin: Bagai Ayam Mati di Lumbung Padi

Dua Kisah, Dua Respons Berbeda

Pada suatu saat, ada dua kisah yang terjadi.

Kisah pertama:

Dialami seorang laki-laki berumur 60 tahun. Jabatan terakhirnya adalah eselon IIA di sebuah lembaga pemerintah pusat. Ia telah selesai melaksanakan tugas sebagai ASN dengan pangkat IV/e. Selama menjabat, ia menikmati berbagai fasilitas dan privilege.

Namun setelah tidak lagi menjabat, semua fasilitas tersebut sirna. Ia mulai merasakan kekosongan dan kehilangan. Perasaan sedih, galau, sering sakit, dan kerap berobat ke rumah sakit pun muncul.

Baca Juga:  Tenggarong yang Tenang: Menyusuri Jejak Sejarah dan Wajah Kota di Tepian Mahakam

Kisah kedua:

Dialami oleh seorang laki-laki berusia 55 tahun yang bekerja di perusahaan swasta sebagai manajer. Karena suatu keadaan di tempat kerjanya, ia terkena PHK. Dampaknya, ekonomi keluarga sempat goyah. Namun dengan semangat, ia bangkit dan mulai berjualan sembako.

Usahanya dimulai secara sederhana, namun perlahan tumbuh dan berkembang. Karena sibuk, terus berpikir dan bergerak, ia justru tetap sehat dan bahagia.

Dua peristiwa di atas menunjukkan potensi munculnya Post Power Syndrome (PPS), tetapi masing-masing individu meresponsnya secara berbeda.

Tulisan ini akan menjelaskan apa itu Post Power Syndrome, gejalanya, serta cara menghindarinya.

Apa Itu Post Power Syndrome?

Post Power Syndrome (PPS) adalah kumpulan kondisi kejiwaan yang umumnya dialami oleh orang-orang yang kehilangan kekuasaan, jabatan, status sosial, atau materi, yang disertai dengan menurunnya harga diri.

Kondisi ini bisa dialami siapa saja: pimpinan negara, tokoh politik, pejabat struktural maupun fungsional, bahkan publik figur. Ketika peran dan sorotan mulai hilang, kekosongan pun datang.

Gejala-Gejala Post Power Syndrome

Gejala PPS terbagi dalam tiga kategori: fisik, emosional, dan perilaku.

  1. Gejala fisik:
    Tampak dari penampilan yang tidak segar, kurang ceria, serta lebih rentan terhadap penyakit seperti flu atau demam.

  2. Gejala emosional:
    Mudah tersinggung, suka menyendiri, cenderung murung, sering merasa marah atau kecewa bila tidak dihargai. Gejala lain termasuk kebingungan, kesepian, rasa takut, dan perasaan hampa.

  3. Gejala perilaku:
    Terlihat dari perubahan sikap menjadi lebih pendiam, pemalu, atau justru suka membanggakan masa lalu secara berlebihan.

Baca Juga:  Kedaulatan sebagai Harga Diri: Dari Negara hingga Pribadi

Orang yang mengalami PPS umumnya diliputi kegelisahan dan kekhawatiran akan masa depan pascapensiun atau setelah kehilangan kejayaannya. Bila tidak disiapkan dengan baik, ini bisa mengganggu keseimbangan mental.

Cara Menghindari Post Power Syndrome

Langkah-langkah pencegahan dapat diringkas dalam akronim BERSYUKUR:

  1. B – Bersiap secara mental bahwa segala sesuatu ada masanya. Jabatan, ketenaran, kekayaan, dan kepandaian akan berkurang seiring waktu.

  2. E – Efisienkan pengeluaran dan siapkan dana cadangan. Hindari utang.

  3. R – Rencanakan dan jalani hobi yang disukai.

  4. S – Susun kegiatan untuk menjaga hubungan baik dan silaturahim dengan keluarga, kerabat, dan tetangga.

  5. Y – Yakini pentingnya beraktivitas dalam komunitas yang bermanfaat.

  6. U – Usaha kecil-kecilan yang tidak berisiko, dijalani dengan senang dan bahagia.

  7. K – Kunjungi tempat-tempat menarik dan lakukan perjalanan (traveling) bersama keluarga atau teman.

  8. U – Upayakan untuk tetap membaca dan menulis.

  9. R – Refleksi diri dan optimalkan kualitas ibadah yang masih kurang.

Penutup

Every person has a time, every time there is a person. Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya.

Bersyukur adalah salah satu cara terbaik untuk menghindari Post Power Syndrome.

Banjarmasin, 18 Juli 2025