
Sesepuh PCM Tempeh Lumajang sakit, dari atas tempat tidur dia masih suka bercanda dan memberi semangat jihad.
Tagar.co – Usai mengadakan Musyawarah Pimpinan PCM Tempeh, peserta bezuk ke rumah sesepuh Muhammadiyah setempat, Untung Sulistiyo (72), Ahad (6/7/2025).
Turut hadir Zainal Abidin, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lumajang.
Begitu rombongan tiba, suasana rumah mendadak hangat. Untung Sulistyo yang semula berbaring, berusaha bangkit menyambut tamunya dengan semangat. Wajahnya cerah, suaranya lantang.
“Alhamdulillah, disambangi dulur-dulur perjuangan. Sepurane aku ora iso teko. Yo piye, sopo seng ditunjuk dadi ketua PCM?”
Artinya, alhamdulillah, disambangi saudara-saudara seperjuangan. Maaf aku tidak bisa datang. Jadi, siapa yang ditunjuk jadi ketua PCM?
Sugeng, salah satu tokoh senior PCM Tempeh, menjawab dengan tenang,”Sesuai arahan sampeyan, Pak.” (Sesuai arahan panjenengan, Pak.)
Zainal menimpali dengan senyum,
”Tenang, Pak Untung, anak-anak muda yang tampil.”
Mendengar itu, Pak Untung mengangkat kedua tangannya, lalu mengucap syukur.
“Alhamdulillah, ya harus begitu. Mosok sing tuwek koyo aku iki isih melu tampil. Mlaku wae wis ora kuat.”
(Alhamdulillah, memang harus begitu. Masa yang tua seperti saya ini masih harus tampil? Jalan saja sudah tidak kuat.)
Ucapan itu disambut tawa ringan dari para tamu, tanda kehangatan dan penghormatan terhadap sesepuh.
Meski sedang sakit, tak sedikit pun ia kehilangan selera humornya. Kepada Zainal, ia menceritakan keluhan yang dirasakan.
“Rasa-rasane nang sikil iki tebal, gula darah mudhun sampek 70, makane loyo karo mumet.”
(Rasanya kaki ini tebal, gula darah turun sampai 70, makanya lemas dan agak pusing.)
Zainal menyahut lembut,“Diistirahatkan saja, Pak. Disyukuri, masih bisa tertawa dan memberi arahan pada yang muda.”
Tapi Pak Untung malah bercanda,“Wong lara, endi sing rasane enak?”
(Orang sakit, mana ada yang rasanya enak?)
Lalu Sugeng yang duduk di sisi ranjang dengan perlahan memegang kakinya dan berkata,“Tak pijiti sik, Pak, biar enak…” (Saya pijiti dulu, Pak, biar nyaman…)
Pak Untung langsung menimpali, “Enak iku dipijet, tapi sopo sing kuat mijit terus-terusan?”
(Enaknya memang dipijat, tapi siapa yang kuat mijit terus-terusan?)
Tawa pun meledak. Suasana menjelang Zuhur itu bukan hanya menyiratkan empati, tapi juga energi dari ikatan perjuangan yang tak lekang oleh usia.
Di tengah canda dan nostalgia, Zainal sempat berkata,“Masih ingat nggak, Pak, dulu njenengan gagah pakai kaca mata hitam?”
Pak Untung langsung menyahut,“Yo eling… eling tenan!”(Ya ingat… ingat betul!)
Semua yang hadir tertawa. Lalu ia menambahkan,“Kalau dulu ngganteng, saiki wis ora gagah maneh!” (Kalau dulu ganteng, sekarang sudah nggak gagah lagi!)
Tawa pun pecah. Sejenak, sakit seperti hilang ditelan hangatnya kenangan.
Sebelum pamit, Zainal memimpin doa untuk kesembuhan Untung. Doa mengalir khusyuk, mengharap rida Tuhan agar sesepuh tetap diberi kekuatan untuk terus menasihati dan membersamai kader muda Muhammadiyah.
Usai doa suasana masih terasa hangat. Menjelang pulang, Muhammad Yusuf Hidayatullah, Ketua PCM Tempeh terpilih, menghampiri ranjang Pak Untung. Ia mencium tangan sang sesepuh dan memeluknya erat, sembari berkata lirih,“Pak, mohon doa restunya ya. Doakan saya kuat dalam mengemban amanah berat ini.”
Pak Untung memandang Yusuf penuh haru dan menjawab dengan suara mantap:“Aku terus ndhukung kiprahmu. Ojo kuatir, pasti itu. Sing semangat, Le! Lan ojo lara ati yen aku kerep memarahi. Aku kuwi sayang karo sampeyan kabeh.”
(Aku akan selalu mendukung perjuanganmu. Jangan khawatir, pasti itu. Harus semangat, Nak! Dan jangan sakit hati kalau aku sering memarahi. Itu karena aku sayang kalian semua.)
Dari ranjang sederhana seorang kader tua, semangat itu tetap menyala terang, menular pada yang muda, meneguhkan bahwa jalan dakwah ini memang jalan panjang dan harus dilanjutkan. (#)
Jurnalis Kuswantoro Penyunting Sugeng Purwanto












