Opini

Hijrah dan Pemuda: Menyongsong Perubahan dari Gua Sur ke Zaman Digital

35
×

Hijrah dan Pemuda: Menyongsong Perubahan dari Gua Sur ke Zaman Digital

Sebarkan artikel ini
Kajian Pemuda Masjid Ar Royyah Muhammadiyah Buduran Sidoarjo tiap Ahad pekan pertama dan ketiga (Tagar.co/Istimewa)

Hijrah bukan sekadar sejarah, tetapi semangat perubahan. Dari peran pemuda di Gua Sur hingga dunia digital hari ini, mereka tetap menjadi agen utama transformasi peradaban dan dakwah.

Oleh Ridwan Manan; Pengajar Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo; Ketua Takmir Masjid ‘Ramah Musafir’ Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran Sidoarjo

Tagar.co – Lebih dari empat belas abad yang lalu, Rasulullah Saw. bersama kaum Muslimin telah melakukan langkah besar yang menandai perubahan peradaban dunia. Langkah besar itu adalah hijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan: keagamaan, pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Peringatan Tahun Baru Hijriah bukan sekadar penanda bergantinya tahun, tetapi juga mengandung pesan positif: ajakan untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dalam setiap sisi kehidupan, dengan berlandaskan nilai-nilai tauhid.

Peran Pemuda dalam Peristiwa Hijrah Rasulullah

Pemuda memiliki peran yang sangat penting dalam peristiwa hijrah Rasulullah ke Madinah. Beberapa tokoh muda yang berkontribusi dalam peristiwa monumental ini antara lain:

  1. Ali bin Abi Thalib
    Beliau menggantikan posisi Rasulullah untuk tidur di ranjangnya, padahal saat itu rumah Nabi telah dikepung oleh orang-orang kafir Quraisy yang siap menghabisi nyawa beliau. Ini adalah bentuk keberanian luar biasa dari seorang pemuda yang siap mengorbankan diri demi keselamatan Rasulullah.

  2. Abdullah bin Abu Bakar
    Ia bertugas sebagai informan, mengumpulkan informasi dari kota Makkah untuk kemudian disampaikan kepada Rasulullah dan ayahnya, Abu Bakar, yang saat itu bersembunyi di Gua Sur.

  3. Asma binti Abu Bakar
    Perempuan muda yang tangguh ini menghadapi tekanan dan ancaman dari Abu Jahal yang mendesaknya agar membuka keberadaan Rasulullah dan Abu Bakar. Dengan penuh keberanian, Asma menolak memberikan informasi. Ia juga bertugas mengantarkan makanan dan perbekalan ke Gua Tsur.

  4. Amir bin Fuhairah
    Mantan budak Abu Bakar yang telah dimerdekakan ini bertugas menghapus jejak Rasulullah dan Abu Bakar dengan menggiring kambing di sekitar gua. Ia juga memerah susu untuk kebutuhan logistik selama persembunyian.

Baca Juga:  Masjid 'Ramah Musafir' Ar-Royyan Muhammadiyah Diresmikan Haedar Nashir

Peran mereka menunjukkan bahwa pemuda bukan hanya pelengkap sejarah, tetapi justru garda terdepan dalam misi perubahan besar dalam Islam.

Pemuda dan Tantangan di Era Transformasi Digital

Indonesia diproyeksikan akan memperoleh bonus demografi pada tahun 2035, di mana sekitar 70 persen penduduk berada dalam usia produktif. Artinya, pemuda hari ini sangat menentukan wajah Indonesia di masa mendatang. Harapan besar pun disematkan agar pada tahun 2045 Indonesia menjadi negara maju—Indonesia Emas.

Baca juga: Peran Pemuda dalam Memakmurkan Masjid di Era Digital

Namun, tantangan yang dihadapi tidak ringan. Di tengah era digital yang permisif dan sarat godaan, pemuda Muslim harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk memperluas dakwah. Hijrah di era kini bukan lagi soal perpindahan fisik, melainkan hijrah dalam makna mental dan digital—kemampuan untuk memilah dan memilih informasi yang positif di tengah gempuran berita hoaks, Islamofobia, dan pornografi.

Pemuda harus mampu menciptakan konten dakwah yang kreatif, inovatif, dan membangun. Konten yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menggerakkan. Mereka perlu memanfaatkan media sosial dan ruang-ruang digital sebagai ladang dakwah untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan mencerahkan.

Baca Juga:  Santri Al-Fattah Bagikan 500 Paket Takjil di Alun-Alun Sidoarjo

Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia. Dan pemudalah, sesungguhnya, yang memegang kendali atas informasi hari ini.

Hijrah, dalam konteks modern, adalah berpindah dari ketidakpedulian menuju kepedulian, dari keterbelakangan menuju kemajuan, dari pasif menjadi aktif dalam membangun peradaban. Dan pemuda Muslim—dengan semangat hijrah—harus siap menjadi agen perubahan, tidak hanya untuk umat, tetapi juga untuk bangsa dan dunia. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni