Telaah

Mukmin Tak Pernah Kalah: Hidup Mulia, Gugur Syahid

48
×

Mukmin Tak Pernah Kalah: Hidup Mulia, Gugur Syahid

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Bagi seorang mukmin, menang bukan soal selamat dari luka, tetapi tegaknya iman. Hidup mulia menegakkan Islam, gugur pun syahid menuju surga. Inilah roh perjuangan yang membuat seorang mukmin mustahil mengenal kata kalah.

Oleh Muhammad Hidayatulloh Kepala Pesantren Kader Ulama Pondok Pesantren Islamic Center (PPIC) Elkisi Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur; Penulis buku Geprek! Anti Galau Rahasisa Resep Hidup Enjoy

Tagar.co – Setiap mukmin sejati memahami bahwa hidup di dunia adalah medan ujian dan perjuangan. Menjaga iman, menegakkan kebenaran, serta membela agama Allah adalah bagian dari tugas mulia, meski sering terasa berat dan penuh risiko. Namun, dalam setiap langkahnya, seorang mukmin yakin: menang di medan dunia atau gugur sebagai syahid, keduanya tetap berarti kemenangan.

Baca juga: 4 Pilar Kebutuhan Manusia: Kunci Hidup Seimbang Dunia Akhirat

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci. Tetapi boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)

Baca Juga:  Mengapa Puasa Ramadan Diwajibkan?

Dalam pandangan Islam, kemenangan seorang mukmin tidak diukur dari selamatnya raga, melainkan dari tegaknya prinsip iman. Bahkan jika seorang mukmin gugur di medan jihad, ia sama sekali tidak kalah—justru meraih kemenangan sejati. Ia berpindah dari dunia fana menuju kehidupan abadi dalam rida Allah.

عِشْ كَرِيْمًا أَوْ مُتْ شَهِيْدًا

“Hiduplah mulia atau matilah sebagai syahid.”

Inilah semboyan hidup para pejuang iman—tak ada kata mundur. Jika hidup, ia hidup dalam kemuliaan Islam. Jika gugur, ia pulang sebagai syuhada yang harum namanya di langit.

Kital: Perintah Berat yang Penuh Kemuliaan

Allah berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu kamu benci…” (Al-Baqarah: 216)

Berat? Benar. Menakutkan? Wajar. Namun, di balik perintah yang berat ini, Allah menyiapkan kemuliaan yang tak terjangkau oleh logika manusia biasa.

“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Baca Juga:  Innisaimun: Puasa sebagai Latihan Mengendalikan Diri

Maka seorang mukmin bukan memilih yang nyaman, tetapi memilih yang benar.

Syahid: Jalan Mulia Menuju Surga

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمُ الْمَسَّةَ مِنَ القَرْصَةِ»

“Seorang syahid tidak merasakan sakitnya kematian, kecuali seperti cubitan ringan.” (H.R. Tirmizi)

Kesyahidan bukanlah akhir, melainkan awal dari kehidupan sejati. Rasulullah ﷺ menjelaskan, para syuhada itu hidup, meski raganya telah tiada:

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۭا ۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka hidup di sisi Rabb-nya dengan mendapat rezeki.” (Ali ‘Imran: 169)

Ali bin Abi Thalib: Menang karena Iman, Bukan karena Nafsu

Semangat jihad tidak boleh tercampur dendam pribadi. Inilah teladan mulia dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Dalam suatu duel, Ali berhasil menjatuhkan lawannya. Tinggal satu tebasan. Namun, ketika lawannya meludahi wajahnya, Ali justru mundur.

Mengapa? Sebab beliau khawatir tindakannya berubah niat—bukan lagi semata-mata karena Allah, melainkan karena amarah pribadi. Ali ingin menang karena iman, bukan karena nafsu.

Baca Juga:  Puasa, Kebutuhan Universal Manusia

Inilah adab jihad: kemenangan bukan hanya soal siapa yang hidup, tetapi siapa yang menjaga niat tetap lurus.

Mukmin Tidak Pernah Kalah

Seorang mukmin sejati hidup dengan prinsip:

“Jika hidup, aku menegakkan Islam. Jika mati, aku syahid di jalan-Nya.”

Sahabat Nabi pernah berkata:

“Kami adalah kaum yang jika hidup, kami menang. Jika mati, kami syahid. Maka, di mana letak kekalahan?”

Di tengah dunia yang penuh kompromi, semangat seperti ini memang langka. Namun justru karena langka, ia menjadi berharga. Mari terus menyalakan ruh perjuangan: melawan kezaliman, menegakkan keadilan, dan menjaga kemurnian niat.

Karena bagi seorang mukmin sejati, tidak ada kata kalah dalam memperjuangkan kalimat Allah. Pilihannya hanya dua:

عِشْ كَرِيْمًا أَوْ مُتْ شَهِيْدًا

“Hiduplah mulia atau matilah sebagai syahid.” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…