Feature

Diplomasi Dapur ala Mahasiswa HI UMM: Ubah Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi

33
×

Diplomasi Dapur ala Mahasiswa HI UMM: Ubah Minyak Jelantah Jadi Lilin Aromaterapi

Sebarkan artikel ini
Tim mahasiswa UMM bersama ibu-ibu PKK Desa Kayu Kebek

Berangkat dari mata kuliah Gerakan Sosial, mahasiswa Hubungan Internasional UMM menyulap limbah dapur jadi karya wangi penuh makna. Lilin aromaterapi dari minyak jelantah ini bukan hanya inovatif, tapi juga mengusung pesan peduli lingkungan yang mendalam.

Tagar.co — Siapa sangka, dari mahasiswa Hubungan Internasional (HI) bisa lahir inovasi berbasis lingkungan yang aromatik dan bernilai ekonomis? Jo, mahasiswa Jurusan HI Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), membuktikannya.

Bersama timnya, ia berhasil menyulap limbah rumah tangga berupa minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang tidak hanya wangi, tapi juga ramah lingkungan.

Baca juga: Olah Sayur Jadi Nuget: Mahasiswa UMM Dorong Kemandirian Pangan di Giripurno

Ide ini lahir dari tugas mata kuliah Gerakan Sosial di semester lima yang langsung didampingi Ruli Inayah Ramadhoan, M.Si. selaku dosen. Ketimbang sekadar membuat kampanye kesadaran atau seminar, Jo—yang bernama lengkap Alvinda Wijaya—memilih pendekatan langsung ke akar persoalan lingkungan.

Ia melihat minyak jelantah sebagai salah satu limbah yang kerap diabaikan tapi berdampak besar. “Minyak jelantah ini ‘kan sering dibuang sembarangan ke tanah atau ke selokan. Padahal itu mencemari lingkungan dan bisa berbahaya juga bagi tubuh,” ujarnya, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Kamis (12/6/25) siang.

Baca Juga:  UMM Jadi Mitra Unesco dalam Misi Pelestarian Air Global

Bersama tim, Jo turun ke Desa Kayu Kebek  untuk mengedukasi warga, khususnya para ibu PKK, agar tak lagi membuang minyak bekas sembarangan. Mereka mengajarkan cara sederhana untuk menjernihkan minyak jelantah—menggunakan arang aktif dari kayu, memanaskan ulang dengan bawang bombay untuk mengurangi bau, lalu menambahkan bahan pemucat (bleacher) agar lebih bersih.

Proses pembuatan lilin aromaterapi pun dilakukan dengan hati-hati. “Tantangannya itu di awal, terutama saat harus presentasi di depan sekitar 30 ibu-ibu PKK. Saya sempat gugup,” tutur Jo sambil tertawa.

Di sisi teknis, ia dan tim harus menghitung komposisi bahan yang tepat seperti jumlah stearic acid sebagai pengeras dan takaran essential oil untuk menghasilkan aroma yang nyaman.

Lilin aromaterapi yang dihasilkan

Hasil akhirnya adalah lilin aromaterapi dalam berbagai bentuk dan wadah menarik, beraroma khas, sekaligus membawa pesan peduli lingkungan. Produk ini tak hanya menjanjikan suasana relaksasi, tetapi juga menjadi simbol perubahan dari limbah menjadi peluang.

Jo menargetkan penjualan lilin ini ke hotel dan tempat spa yang membutuhkan lilin beraroma. Namun, ia tak menutup kemungkinan pemasaran secara daring agar bisa menjangkau konsumen yang lebih luas. “Yang kami inginkan bukan cuma penjualan, tapi juga gerakan. Kami ingin masyarakat melihat bahwa limbah itu bisa punya nilai, bahkan bisa jadi karya,” jelasnya.

Baca Juga:  Ngabuburit di Kayutangan: Ada Buku, Ecoprint, hingga Dapur Live Cooking

Dengan semangat lintas disiplin, mahasiswa HI ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tak terbatas pada mahasiswa sains atau teknik. Sebaliknya, ilmu sosial dan politik bisa jadi pemantik perubahan, terutama ketika digerakkan oleh empati dan kreativitas.

“Inilah hilir yang ingin kami ciptakan,” kata Jo. “Gerakan yang terus berlanjut, dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk bumi yang lebih baik.” (*)

Penyunting Mohammad Nurfatoni