Feature

Sunah Tarwiah: Bekal Spiritual sebelum Wukuf di Arafah

39
×

Sunah Tarwiah: Bekal Spiritual sebelum Wukuf di Arafah

Sebarkan artikel ini
Jamaah KBIH Baitul Atiq Gresik saat melaksanakan Tarwiah 8 Zulhijah di Mina pada musim haji tahun 2017. (Dokumentasi Mohammad Nurfatoni/Tagar.co)

Tarwiah adalah amalan sunah pada 8 Zulhijah, saat jemaah haji menuju Mina sambil mempersiapkan diri lahir batin, menyiapkan bekal air, dan memperbanyak talbiah sebelum wukuf di Arafah. Semua mengajarkan kita arti ketulusan, kesabaran, dan penghambaan sejati di hadapan Allah.

Oleh Piet Hizbullah Khaidir; Ketua STIQSI Lamongan; Sekretaris PDM Lamongan; Ketua Divisi Kaderisasi dan Publikasi MTT PWM Jawa Timur

Tagar.co – Salah satu amalan sunah yang mengawali puncak ibadah haji adalah tarwiah: berangkat ke Mina dengan sudah berpakaian ihram dan berniat haji dari lokasi masing-masing jemaah. Tarwiah adalah amalan sunah yang dilaksanakan Rasulullah Saw. pada 8 Zulhijah.

Baca juga: Makna Mendalam di Balik Gelar Tamu Allah

Secara waktu, jemaah haji dapat berangkat pada malam 7 Zulhijah atau dini hari 8 Zulhijah. Pada hari tarwiah ini, jemaah berada di Mina hingga pagi 9 Zulhijah, lalu melanjutkan perjalanan menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf di Padang Arafah saat waktu Zuhur (setelah matahari tergelincir) hingga matahari terbenam. Selanjutnya mereka mabit di Muzdalifah dan kembali ke Mina untuk melakukan jamarat.

Apa sebenarnya tarwiah itu? Apa saja amaliah saat tarwiah? Apa makna kontekstual tarwiah yang dapat dinarasikan pada masa kini?

Syariat Tarwiah

Kata tarwiah berasal dari rawiya yang berarti mengalirkan atau menyiapkan air. Secara istilah, tarwiah adalah awal kegiatan puncak haji yang dimulai pada 8 Zulhijah. Pada 1446 atau 2025, tarwiah jatuh pada Rabu, 4 Juni 2025.

Baca Juga:  Korupsi Kuota Haji: Kejahatan Jabatan Merusak Hak Rakyat

Makna awal yang merujuk pada aktivitas mengalirkan dan mempersiapkan air ini terkait kebiasaan jemaah haji pada masa Nabi Saw. Mereka berangkat ke Mina pada 8 Zulhijah sambil mempersiapkan air sebagai bekal ketika wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah.

Selain itu, tarwiah juga dikaitkan dengan perintah Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail, berdasarkan mimpi yang benar dan terjadi tiga kali berturut-turut, dimulai pada 8 Zulhijah. Penyembelihan itu akhirnya diganti dengan kibas sebagai bentuk penghambaan dan ketakwaan.

Syariat tarwiah didasarkan pada hadis af‘al Nabi Saw. yang memberikan contoh langsung. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi Muhammad berangkat ke Mina dengan berpakaian ihram dan berniat haji pada hari tarwiah, 8 Dzulhijah.

Amaliah Tarwiah

Sejak mulai perjalanan dari tempat tinggal menuju Mina, dianjurkan untuk membaca kalimat talbiyah, sebuah ungkapan memenuhi panggilan Allah Swt., tanpa menyekutukan-Nya, sambil mengakui diri sebagai hamba yang lemah, bahwa segala puji, nikmat, dan kuasa hanya milik Allah.

Saat memasuki Mina, jemaah dianjurkan berdoa: Allahumma hadzihi Mina. Famnun ‘alayya kama mananta ‘ala auliya-ika wa ‘ala ahli tha‘atika (Ya Allah, aku telah berada di Mina ini, mohon anugerahkanlah untukku kebaikan sebagaimana yang telah Engkau limpahkan kepada para kekasih-Mu dan orang-orang yang selalu taat kepada-Mu).

Baca Juga:  Saudi Batasi Akses ke Makkah dan Hentikan Izin Umrah Jelang Musim Haji

Setiba di Mina, Rasulullah Saw. mencontohkan untuk memperbanyak zikir talbiyah seperti saat perjalanan menuju Mina. Ketika waktu salat tiba, beliau melaksanakan salat Subuh, kemudian Salat Zuhur dan Ashar dengan di-qashar, serta salat Magrib dan Isya juga dengan qashar. Salat Subuh berikutnya dikerjakan sebelum bertolak ke Arafah untuk wukuf.

Saat salat rawatib dalam bentuk qasar, tidak perlu diawali dengan salat sunah kabliah dan bakdiah, juga tidak ada salat tahiyatul masjid. Yang dianjurkan adalah salat kiyamullail dan salat witir, baik sendiri maupun berjemaah.

Selain itu, waktu jeda antar salat sebaiknya diisi dengan zikir talbiah, istigfar, tahlil, tasbih, tahmid, takbir, selawat atas Nabi Muhammad Saw. beserta keluarganya, serta membaca Al-Qur’an. Semua ini dilakukan dengan penuh penghayatan, kesadaran, dan penghambaan kepada Allah Swt., sambil mengakui dosa dan lemahnya diri, bahwa tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya.

Kontekstualisasi Makna Tarwiah

Kontekstualisasi makna tarwiah dapat diuraikan dari beberapa prosesi:

1. Kalimat Talbiah dan Doa Memasuki Mina

Dari talbiah dan doa itu, kita diajari untuk selalu berharap kebaikan hanya dari Allah dan tidak bersikap egois. Dalam kehidupan, interaksi terbaik dengan sesama adalah tidak sombong, tidak egois, dan selalu berharap kebaikan dari Allah, sehingga rezeki hakiki yang diperoleh akan menghantarkan kita kepada ketaatan.

Baca Juga:  Safari Ramadan PDPM Lamongan Soroti Fenomena Kiai AI

2. Mengalirkan air dan Menyiapkannya sebagai Bekal di Mina

Air adalah sumber kehidupan. Air yang jernih memengaruhi pola pikir, pola makan, dan pola perilaku yang baik. Apalagi jika dikaitkan dengan sa‘i, upaya serius yang dilakukan Sayyidah Hajar untuk memperoleh air zamzam. Kejernihan hati (shafi) pun menjadi penting, sebab sa‘i dimulai dari Bukit Shafa menuju Marwa agar kita memperoleh martabat mulia di hadapan Allah Swt.

3. Mimpi yang Benar dan Pengorbanan Ibrahim dan Ismail

Ketika Ismail mendengar narasi ayahnya yang diperintahkan untuk menyembelih dirinya, ia menjawab, “Ayah, lakukanlah yang diperintahkan Allah kepadamu. Mohon asahlah golok setajam mungkin agar tidak terasa sakit. Jangan tatap aku supaya engkau tidak ragu.” Allah pun menggantinya dengan kibas. Pelajaran yang dapat dikontekstualisasikan: penghambaan kepada Allah adalah mutlak, tanpa keraguan, dan tidak boleh menyakiti orang lain.

4. Beristirahat, Berzikir, dan Berharap

Di Mina, kita harus selalu memiliki orientasi positif, baik terhadap diri sendiri maupun sekitar. Yang lebih penting adalah berprasangka baik kepada Allah, memohon ampun sebagai pengakuan. Mina adalah awal untuk menggapai masa depan, menuju Arafah, mabit di Muzdalifah, dan kembali ke Mina untuk jamarat, melepaskan diri dari jeratan hawa nafsu syaitaniyah. Wallahu a‘lam.

Makkah, 2 Juni 2025/6 Dzulhijah 1446

Penyunting Mohammad Murfatoni