
Jelajahi Tenganan Pegringsingan, temukan kedamaian dalam tradisi kuno Desa Bali Aga. Saksikan Perang Pandan, kagumi kain Gringsing, dan selami kearifan warisan pra-Majapahit.
Tagar.co – Mentari pagi bersinar cerah di ufuk timur Bali. Sabtu itu, hati saya tergerak mencari makna. Bukan sekadar liburan biasa, melainkan sebuah perjalanan untuk menyelami denyut nadi tradisi dan budaya Pulau Dewata yang memesona.
Setelah berselancar di dunia maya, satu nama mencuat: Desa Wisata Tenganan Pegringsingan. Letaknya di ujung timur pulau Bali, tepatnya di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem.
Desa ini sebuah permata tersembunyi yang konon menyimpan keunikan tak tertandingi. Mulai dari budaya, rumah tradisional, tradisi, hingga kerajinan tangan yang terkenal.
Akhirnya, Ahad (5/4/2025) pagi, semangat membuncah. Usai menyantap sarapan, saya menjejakkan pedal gas mobil kesayangan. Dari Denpasar, saya menempuh sekitar 1 jam 24 menit perjalanan menuju Karangasem. Setiap putaran roda membawa saya kian dekat pada pengalaman yang tak sabar saya jelajahi.
Setibanya di sana, napas saya tertahan. Keindahan Desa Tenganan Pegringsingan begitu memukau. Melampaui ekspektasi. Tanpa ragu, saya melangkah masuk. Untuk tiket masuk, bisa membayar secara “medane punia” atau sukarela.
Jejak Budaya dan Filosofi Mendalam
Kemudian, usai melangkah lebih dalam, saya bertemu dengan Mekare-kare, atau yang lebih dikenal sebagai Perang Pandan. Ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan upacara persembahan yang agung untuk menghormati Dewa Indra, dewa perang, dan para leluhur.
Masyarakat desa, bersenjatakan daun pandan berduri sebagai tameng dan perisai. Mereka beradu dalam ritual yang bertujuan menjaga keharmonisan antara manusia dan alam. Sebuah tarian sakral yang sarat makna.
Tak hanya tradisi yang memikat, desa ini juga kaya akan peninggalan budaya. Rumah-rumah kuno nan klasik berjejer rapi. Seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
Konon, dahulu, masyarakat Tenganan mengenakan busana dari kain tenun Gringsing. Kain ini bukan kain biasa. Kata “Gringsing” sendiri berasal dari “gring” yang berarti sakit dan “sing” yang berarti tidak, sehingga secara harfiah bermakna “tidak sakit” atau terhindar dari penyakit dan hal buruk.
Filosofi penolak bala ini menjadikan kain Gringsing amat dihormati. Harganya pun tak main-main. Berkisar antara Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu, mengingat proses pembuatannya yang bisa memakan waktu hingga tiga tahun.

Mengintip Jantung Bali Aga
Desa Tenganan Pegringsingan, yang mendapat julukan “Desa Bali Aga”, adalah jendela menuju warisan budaya pra-Majapahit. Rumah-rumah kuno di sini menjadi bukti otentik identitas dan kelestarian budaya masyarakatnya.
Bangunannya dari material alami. Seperti batu merah, batu sungai, dan tanah, dengan atap jerami dan pintu kayu khas. Setiap detailnya mencerminkan kesederhanaan dan kedekatan dengan alam.
Ciri khas lain yang menarik perhatian adalah pintu masuk yang berdesain lebar hanya untuk satu orang dewasa. Ini seolah menggambarkan eksklusivitas dan keunikan masyarakatnya.
Perjalanan ke Tenganan Pegringsingan adalah sebuah penemuan. Di sini, saya tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan betapa kayanya Bali dengan budaya dan tradisi yang tak ternilai.
Ini adalah pengingat penting bagi kita, khususnya generasi muda Bali, untuk senantiasa menjaga dan melestarikan warisan leluhur ini. Karena di setiap sudut tradisi, tersimpan kedamaian yang abadi. (#)
Jurnalis I Wayan Nesta Yudantara Pratama Penyunting Sayyidah Nuriyah






