Cerpen

Rumah yang Tak Pernah Pergi

55
×

Rumah yang Tak Pernah Pergi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi AI

Sebuah rumah tua menyimpan rahasia kesepian, cinta yang tersesat, dan penyesalan seorang ayah. Ketika kebenaran terbuka, masihkah ada waktu untuk memeluk yang telah pergi?

Cerpen oleh Dwi Taufan Hidayat

Tagar.co – Pagi itu, kabut tipis menyelimuti kawasan Lebak Bulus. Udara lembap menusuk hingga ke tulang, sementara suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan. Namun, di sebuah rumah besar yang tersembunyi di balik belukar, tak terdengar satu pun tanda kehidupan. Seolah waktu enggan menyentuhnya. Di dalam rumah itulah tinggal seorang lelaki tua bernama Pak Darma.

Dulu, orang mengenalnya sebagai raja showroom mobil. Gaya hidupnya gemerlap—mobil mewah berderet di garasi, pesta rutin tiap akhir pekan, dan para tamu penting datang silih berganti. Namun waktu, sebagaimana halnya musim, tak bisa dicegah. Rumah seluas dua ribu meter itu kini tampak seperti rerimbunan hutan; semak-semak tumbuh liar, lumut merambat ke tiang pagar, dan daun-daun mati menumpuk di teras tanpa pernah disapu.

Pak Darma, lelaki 64 tahun, kini lebih banyak bicara pada ayam-ayam peliharaannya ketimbang manusia. Ia tidur di kamar lantai atas, kamar yang dulunya digunakan anak sulungnya untuk belajar. Ruang tamu telah menjelma gudang barang-barang usang, dan dapurnya hanya hidup sesekali—saat ia menanak nasi atau merebus daun cincau.

Baca Juga:  10 Target Pendidikan Ramadan agar Takwa Tak Sekadar Wacana

Hidupnya yang sepi mulai jadi perhatian publik ketika seorang Youtuber muda, Rendi, datang ke rumah itu. Dalam video yang diunggah ke kanal “RendiBicara”, tampak kontras mencolok antara kemewahan masa lalu dan keterasingan masa kini. Namun yang paling menggugah adalah saat Pak Darma bercerita tentang alasan ia bertahan di rumah itu meski sepi dan sendiri.

“Aku nggak mau rumah ini mati,” ucapnya pelan. “Ini saksi hidup. Tempat semua kenangan tinggal.”

Menurut pengakuannya, istrinya pergi setelah bisnisnya ambruk pada 2015. Dua anak lelakinya—satu dokter, satu pengusaha—tak pernah lagi datang. “Mereka sudah bahagia, sudah punya hidup sendiri. Saya? Ya begini saja. Tenang. Nggak perlu diributkan.”

Namun, dari balik tutur tenang itu, menyembul kepiluan. Ia kerap duduk termenung di halaman belakang, mengamati angsa yang berenang malas di kolam kecil berlumut. Sesekali, ia memetik daun cincau dari tanaman yang ia tanam sendiri. “Buat jaga-jaga. Sekarang semua harus irit,” katanya lirih, nyaris tak terdengar.

Tapi rupanya, kisah yang viral itu menyisakan ruang gelap yang tak terlihat kamera.

Beberapa pekan kemudian, muncul klarifikasi dari putra sulungnya, Dimas. Dalam video berdurasi lima belas menit, Dimas membuka tabir luka keluarga yang berbeda dari versi sang ayah.

Baca Juga:  Bahagia tanpa Iri, Tenang tanpa Dengki

“Bapak bukan ditinggal. Kami yang disuruh pergi. Setelah bisnisnya bangkrut, Bapak berubah. Mudah marah. Ia menuduh kami ambil hartanya, padahal kami justru bantu bayar utangnya. Ibu bahkan sempat depresi sebelum akhirnya memilih pergi,” ujar Dimas dengan mata sembab.

Ia juga menunjukkan bukti transfer dana bulanan yang dikirimkan ke rekening ayah mereka, bahkan saat pandemi.

“Kami ingin datang. Tapi tiap kali, Bapak selalu bilang, ‘Udah, jangan repotin saya.’ Kami pikir itu benar-benar keinginannya.”

Netizen pun terbelah. Ada yang tetap bersimpati pada Pak Darma, melihatnya sebagai lansia yang menua dalam kesendirian. Tapi banyak juga yang merasa dikhianati oleh narasi yang mereka telan mentah-mentah.

Tak lama setelah klarifikasi itu, Rendi kembali ke rumah Pak Darma. Tapi kali ini ia tidak sendiri. Ia membawa seorang tamu—wanita paruh baya dengan raut wajah yang menyimpan rindu bertahun-tahun. Retno, istri Pak Darma.

Pak Darma yang sedang menyiram tanaman cincau sontak membeku. Matanya membelalak, seolah melihat hantu masa lalu.

Retno melangkah pelan, membawa sebuah buku lusuh.

“Kamu tahu ini, Dar?” katanya lirih, menyerahkan buku itu.

Pak Darma membuka lembar demi lembar dengan tangan gemetar. Di halaman belakang, ada tulisan tangan anak-anaknya:

Baca Juga:  Niat yang Terlewat, Puasa Tetap Sah?

“Semoga rumah ini selalu penuh cinta.”

Wajahnya memucat. Ia membisik, seperti kepada dirinya sendiri, “Aku cuma mau mereka tetap tinggal di rumah ini. Biar rumah ini nggak kehilangan nyawa. Tapi… aku malah menyuruh mereka pergi, ya?”

Tangisnya meledak. Tak seperti ledakan, tapi seperti bendungan yang jebol perlahan.

Retno tak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di kursi tua di bawah pohon mangga yang dulu mereka tanam bersama, menatap langit yang mulai mendung.

Rendi tak merekam apa-apa hari itu. Ia tahu, kisah ini bukan untuk ditonton, tapi untuk diselesaikan.

Beberapa bulan berlalu. Rumah besar itu perlahan berubah. Pohon-pohon tak lagi liar, pagar dicat ulang, dan suara tawa anak-anak kembali mengisi lorong-lorongnya. Dimas dan adiknya memutuskan membawa keluarga mereka tinggal bersama sang ayah.

Tapi Pak Darma sendiri tak lagi di rumah itu.

Ia wafat dengan tenang dua minggu setelah pertemuan kecil itu. Di dalam kamarnya, ditemukan sepucuk surat yang dilipat rapi.

Tulisan tangannya agak gemetar, tapi jelas: “Maafkan Ayah. Ternyata yang pergi bukan kalian. Tapi hati Ayah yang menutup diri lebih dulu. Terima kasih sudah kembali, walau telat. Tapi rasanya tak pernah benar-benar terlambat.” (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni