Opini

Polemik Uji Klinis oleh Gates Foundation, Perlukah Vaksin Baru Tuberkulosis?

39
×

Polemik Uji Klinis oleh Gates Foundation, Perlukah Vaksin Baru Tuberkulosis?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi vaksis TB

Vaksin TB baru dari Gates Foundation diuji di Indonesia. Harapan melawan penyakit lama, dengan tantangan etis dan tanggung jawab bersama.

Oleh dr. Mohamad Isa, Sp.P (J) Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Tagar.co – Vaksin tuberkulosis (TB) yang disponsori Gates Foundation belakangan menjadi perbincangan publik. Lepas dari pro dan kontra yang muncul, pertanyaan mendasarnya adalah: perlukah new vaccine atau vaksin TB yang baru?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut beberapa hal yang perlu disampaikan.

Perjalanan Seseorang Terkena TB

Angka kejadian TB di Indonesia tergolong tinggi—peringkat kedua terbanyak di dunia. Jumlah yang besar ini menciptakan potensi penularan yang tinggi pula. Penularan TB terjadi melalui percikan dahak (droplet infection) yang keluar dari penderita TB saat batuk atau bersin.

Seseorang dapat tertular TB apabila daya tahan tubuhnya lebih rendah daripada virulensi kuman Mycobacterium tuberculosis. Daya tahan tubuh merupakan unsur dominan dalam menjaga seseorang dari infeksi TB.

Apabila daya tahan tubuh lebih kuat dari virulensi kuman, maka kuman akan “dikurung” oleh sistem imun, khususnya oleh makrofag. Keadaan ini disebut laten, dormant, atau “tidur”.

Baca Juga:  Silaturahmi 670 Kilometer: Menyusuri Kalimantan dari Banjarmasin ke IKN hingga Tenggarong

Namun, bila kondisi tubuh menurun dalam waktu lama, kuman bisa kembali aktif (reaktivasi). Penyakit atau kondisi tertentu seperti diabetes melitus (DM), HIV, keganasan, atau stres berkepanjangan dapat menurunkan daya tahan tubuh dan memicu TB aktif kembali.

Dampak TB

Penderita TB paru akan mengalami gangguan pernapasan, batuk berkepanjangan (bisa berdahak bahkan berdarah), badan lemah, nafsu makan menurun, dan berat badan menyusut.

Dalam tahap lanjut, bisa terjadi komplikasi berupa paru basah, kebocoran selaput paru, hingga nanah di paru. Infeksi juga bisa menyebar ke organ lain (ekstraparu), seperti otak, tulang belakang, usus, rongga jantung, pita suara, dan organ reproduksi.

Terapi

Pada pasien TB sensitif obat (SO) Rifampisin, diberikan terapi 2RHZE/4RH, yakni dua bulan Rifampisin, Isoniazid, Ethambutol, dan Pirazinamid, dilanjutkan empat bulan Rifampisin dan Isoniazid.

Untuk pasien dengan resistansi obat (RO) terhadap Rifampisin, terdapat beberapa skema pengobatan: 6 bulan, 9 bulan, atau jangka panjang 18–24 bulan.

Upaya Pencegahan

Pencegahan tuberkulosis tidak cukup hanya dengan pengobatan bagi yang sakit. Diperlukan pendekatan menyeluruh yang mencakup gaya hidup, lingkungan, dan intervensi medis. Berikut beberapa langkah yang penting dilakukan:

  1. Meningkatkan daya tahan tubuh

  2. Menjaga lingkungan tetap sehat

  3. Menghambat transmisi kuman TB

  4. Menjaga stabilitas psikologis

  5. Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT)

  6. Vaksinasi

Baca Juga:  BPJS Kesehatan: Dulu, Kini, dan Akan Datang

Prinsip Kerja Vaksin TB

Jenis vaksin mencakup: 1) vaksin mati, 2) vaksin hidup, 3) toksoid, 4) mRNA, 5) vektor virus, 6) subunit protein rekombinan. Tujuannya adalah membentuk antibodi yang mampu mengenali kuman TB. Untuk itu, tubuh perlu dikenalkan dengan kuman yang telah dilemahkan agar mampu menciptakan respons imun yang efektif.

Vaksin Baru

Vaksin baru diperlukan untuk menguatkan vaksin BCG, khususnya dalam melindungi remaja dan dewasa agar kuman tidak kembali aktif. Saat ini, salah satu kandidat vaksin dalam uji klinis tahap 3 adalah vaksin dengan platform protein rekombinan, antigen/ajuvan jenis M72/ASO1E. Lokasi uji coba berada di rumah sakit di Jakarta dan Jawa Barat. Selain itu, masih ada 15 kandidat vaksin TB lainnya.

Peran BPOM

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memerlukan 2.000 penyintas TB untuk menjalani uji coba vaksin yang dikembangkan oleh Bill Gates melalui Gates Foundation. Para peserta dipilih secara sukarela, tanpa paksaan dan tanpa dipungut biaya.

Metode Penelitian

Uji klinis harus mengikuti standar Good Clinical Practice (GCP) dan menggunakan metode double blind, yaitu baik peserta maupun peneliti tidak mengetahui jenis vaksin yang diberikan. Metode ini menjamin objektivitas dan validitas hasil.

Baca Juga:  Kemendikdasmen Gandeng Mitra Global Perkuat Literasi dan Numerasi Anak Indonesia

Integritas Peneliti

Peneliti harus memiliki integritas tinggi, jujur, dan bertanggung jawab. Tidak boleh ada kontrak tersembunyi atau tekanan dari pihak luar. Namun, profesionalisme tetap dijaga melalui pemberian honorarium yang sesuai.

Tanggung Jawab Bersama

Menanggulangi TB adalah tanggung jawab kita semua sebagai bangsa. Jutaan saudara kita menderita TB, dan lebih banyak lagi yang berisiko terkena. Siapa lagi yang akan membantu jika bukan kita sendiri? Mungkin yang terkena itu keluarga, adik, ibu, atau bapak kita. Sementara itu, beberapa obat yang ada mulai tak mempan lagi terhadap kuman TB.

Penutup

Diperlukan komitmen kuat dari semua pihak untuk mengakhiri TB pada tahun 2050 (End TB).
Perjuangan kemanusiaan tak mengenal sekat bangsa, suku, status sosial, atau kekayaan. “Humanity for all.” Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. (#)

Banjarmasin, 21 Mei 2025

Penyunting Mohammad Nurfatoni