Feature

Ngaji Jati Diri, Membaca Lebih dari Ayat Allah yang Tertulis

73
×

Ngaji Jati Diri, Membaca Lebih dari Ayat Allah yang Tertulis

Sebarkan artikel ini
Ngaji jati diri oleh Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. menjadi magnet jemaah memenuhi Masjid Nurul Jannah. Pengasuh Ngaji Filsafat ini menyampaikan mengajak jemaah memahami lebih dari sekadar ayat Allah yang tertulis. 
Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengisi Ngaji Jati Diri di Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Ngaji jati diri oleh Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. menjadi magnet jemaah memenuhi Masjid Nurul Jannah. Pengasuh Ngaji Filsafat ini mengajak jemaah memahami lebih dari sekadar ayat Allah yang tertulis.

Tagar.co – Menjelang azan Asar, jemaah Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik mulai berdatangan. Mereka tak sekadar hendak menunaikan salat, melainkan ingin menyimak langsung khidmatnya Ngaji Jati Diri, Sabtu (3/5/2025).

Bakda salat Asar berjemaah, mereka tak meninggalkan tempat. Hanya tabir pemisah jemaah pria dan wanita yang panitia sesuaikan. Alhasil, jemaah wanita maupun pria bisa langsung menyaksikan sang narasumber.

Pondok Pesantren Al-Muniroh Ujungpangkah Gresik kali ini menghadirkan Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Faiz, sapaan akrabnya, mengajak jemaah memahami tema “Menemukan Kembali Hakikat Eksistensi untuk Berseirama dengan Transendensi Ilahi”.

Dengan gaya tutur yang tenang, Faiz membuka pemahaman tentang “jati diri” yang seringkali terlewatkan. Menurutnya, ayat Allah tidak hanya hadir dalam lembaran mushaf Al-Qur’an, melainkan juga termanifestasi dalam diri manusia.

“Yang kita sebut jati diri, diri kita sendiri itu salah satu ayat yang harus kita baca menurut Al-Qur’an,” tegas Faiz.

Baca Juga:  Mugeb Primary School Sambut Hangat Menu Makan Bergizi Gratis

Ia menyadari adanya anggapan sempit yang membatasi pemahaman ayat Allah hanya pada teks Al-Qur’an semata. Seolah bidang ilmu di luar kajian kitab suci terpisah dari jurusan agama.

Karena itulah, Faiz kemudian mengungkap makna ayat. “Ayat itu bukti, sesuatu yang harus kita baca untuk mendapat hikmah dari situ,” terangnya di hadapan para jemaah baik dari keluarga besar Ponpes Al-Muniroh maupun umum.

Ngaji jati diri oleh Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. menjadi magnet jemaah memenuhi Masjid Nurul Jannah. Pengasuh Ngaji Filsafat ini menyampaikan mengajak jemaah memahami lebih dari sekadar ayat Allah yang tertulis. 
Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, mengisi Ngaji Jati Diri di Masjid Nurul Jannah Petrokimia Gresik. (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

4 Jenis Ayat

Lebih lanjut, pengasuh Ngaji Filsafat ini menguraikan empat jenis ayat Allah dalam perspektif Al-Qur’an. Pertama, ayat qauliyah, yaitu ayat-ayat berupa firman Allah yang tertulis dan manusia baca sehari-hari.

Kedua, ayat kauniyah, yang merujuk pada realitas alam semesta. “Orang Jawa menyebutnya kasunyatan,” imbuhnya.

Dari sinilah Faiz menekankan, ilmu Fisika dan disiplin ilmu alam lainnya pun merupakan bagian dari “membaca” ayat-ayat Allah melalui fenomena alam. “Karena Al Qur’an juga menyuruh kita mendorong membaca alam semesta,” tuturnya.

Fokus utama kajian siang itu tertuju pada jenis ayat ketiga, yakni ayat nafsiyah atau ayat-ayat tentang kejiwaan pada diri manusia. Faiz pun mengutip firman Allah, Adz-Dzariyat ayat 21: “Wafii anfusikum afalaa tubshiruun.”

Baca Juga:  Kepala DLH Magetan Apresiasi Aksi Kader Muda Muhammadiyah

Artinya, “Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” Faiz menjelaskan, memahami diri sendiri dan menemukan jati diri adalah esensi dari “mengaji” atau membaca ayat Allah dalam wujud manusia.

Ngaji jati diri oleh Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. menjadi magnet jemaah memenuhi Masjid Nurul Jannah. Pengasuh Ngaji Filsafat ini menyampaikan mengajak jemaah memahami lebih dari sekadar ayat Allah yang tertulis. 
Jemaah perempuan di Ngaji Jati Diri, Sabtu (3/5/2025). (Tagar.co/Sayyidah Nuriyah)

Ayat Tarikhiyah

Jenis ayat keempat yang dia paparkan adalah ayat tarikhiyah, yakni ayat-ayat sejarah. Faiz mengajak umat Islam untuk mengambil pelajaran dari peristiwa masa lalu agar tidak terjerumus dalam kesalahan yang sama.

“Wahai orang yang cerdas, peristiwa yang kemarin sudah terjadi mari kita jadikan pelajaran biar kita tidak jatuh pada lubang yang sama dua kali,” terangnya.

Alumni MA Program Khusus Jember, program yang digagas oleh Menteri Agama era Kabinet Pembangunan III dan IV, Prof. Dr. H. Munawir Sjadzali (alm), ini mengamati bahwa kajian terhadap ayat qauliyah sudah cukup mendalam. Namun, perhatian terhadap tiga jenis ayat lainnya masih terhitung sedikit.

Faiz lalu menceritakan pengalaman menarik. Usai kajian Faiz sebelumnya tentang sosok Bung Hatta, seorang jemaah mengungkapkan kekagumannya terhadap kritik-kritik sang proklamator yang dia nilai masih relevan hingga kini.

Menanggapi hal tersebut, Faiz justru melontarkan pertanyaan reflektif yang mengundang tawa getir, “Jangan-jangan kita yang gak berubah, sehingga kritik Bung Hatta cocok terus?”

Baca Juga:  Guru Spemdalas Belajar Menulis Opini Berasa Sastra

Isu generasi Z pun tak luput dari sorotannya. Faiz menyoroti banyaknya keluhan terkait overthinking dan insecure yang generasi Z alami. Menurutnya, kepanikan terhadap diri sendiri muncul karena kurangnya pemahaman dan pengenalan terhadap diri.

“Berarti belum membaca, mengenali, dirimu maka ketika mengalami sesuatu kalian panik,” ujar pria berkopiah hitam tersebut.

Bapak berusia 50 tahun ini akhirnya menyimpulkan, selama ini terdapat khilaf dalam memahami agama yang seolah-olah hanya terbatas pada ayat qauliyah. Padahal, tiga jenis ayat lainnya memiliki peran penting yang perlu manusia kuasai untuk mencapai pemahaman yang utuh.

Demikian pengantarnya dalam kajian yang berlangsung sejak bakda Ashar hingga menjelang Maghrib tersebut. Berikutnya, Faiz mengupas tiga pokok bahasan mendasar terkait jati diri: apa hakikat manusia, bagaimana struktur diri manusia, dan rute perjalanan hidup manusia.

Diskusi yang mendalam ini harapannya mampu membuka mata para jemaah untuk lebih sungguh-sungguh dalam “membaca” diri sendiri sebagai bagian integral dari memahami kebesaran Sang Pencipta. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni