Telaah

Sunyi yang Tak Diucapkan: Mengapa Istri Sering Malu Mengajak Suami Lebih Dulu

92
×

Sunyi yang Tak Diucapkan: Mengapa Istri Sering Malu Mengajak Suami Lebih Dulu

Sebarkan artikel ini
Diamnya istri saat ingin dekat bukan selalu karena malu. Ada rasa, ada ragu, dan kadang... ada strategi tersembunyi yang tak pernah dibahas di ruang tamu.
Ilustrasi AI

Diamnya istri saat ingin dekat bukan selalu karena malu. Ada rasa, ada ragu, dan kadang… ada strategi tersembunyi yang tak pernah dibahas di ruang tamu.

Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang  Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Tagar.co – Dalam Islam, pernikahan bukan sekadar ikatan lahiriah, tetapi juga ikatan batin yang sarat dengan cinta, kasih sayang, dan saling melengkapi.

Namun, dalam kehidupan nyata, tidak sedikit istri yang merasa malu, canggung, atau ragu untuk lebih dulu mengajak suami dalam urusan keintiman, komunikasi emosional, atau bahkan sekadar menunjukkan perhatian.

Apakah ini salah? Tidak selalu. Namun, perasaan itu penting untuk dipahami secara utuh—melalui lensa ajaran agama dan pendekatan psikologis.

1. Budaya Diam: Ketika Norma Mengakar Terlalu Dalam

Dalam banyak budaya, perempuan dibesarkan untuk bersikap pasif. Bahkan dalam urusan rumah tangga, termasuk keintiman, inisiatif sering dibebankan pada suami. Perempuan diajarkan untuk menahan diri, menjaga rasa malu, dan tidak menyatakan keinginan secara eksplisit.

Baca juga: Setiap Kita Adalah Penulis Buku Kehidupan

Padahal, Islam tidak melarang istri untuk bersikap proaktif. Dalam sejarah hidup Rasulullah ﷺ, terdapat banyak kisah istri-istri yang secara terbuka menyampaikan keinginan dan kebutuhan mereka kepada suami.

Baca Juga:  Kemuliaan Manusia dalam Pujian dan Celaan Medsos

خَيْرُ نِسَائِكُمُ الَّتِي إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا زَوْجُهَا سَرَّتْهُ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

“Sebaik-baik wanita kalian adalah yang apabila suaminya memandangnya, ia menyenangkan; apabila diperintah, ia taat; dan apabila suaminya pergi, ia menjaga diri dan hartanya.” (H.R. Abu Dawud No. 1664)

Makna “menyenangkan” dalam hadis ini bukan semata penampilan, tapi juga sikap aktif menjaga keharmonisan rumah tangga, termasuk dalam hal komunikasi kebutuhan.

2. Ketakutan Ditanggapi Salah

Sebagian istri merasa khawatir jika inisiatifnya dianggap berlebihan atau tidak sesuai norma. Ketakutan ini sering membuat mereka memilih diam. Padahal, Islam menganjurkan musyawarah dan komunikasi santun dalam rumah tangga.

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (An-Nisā’: 19)

Ayat ini menegaskan pentingnya membangun relasi yang berlandaskan saling pengertian dan penghormatan terhadap perasaan masing-masing.

3. Kurang Percaya Diri: Ketika Citra Diri Menyusut

Perubahan fisik, usia, atau tekanan lingkungan sering membuat perempuan merasa tidak cukup baik. Hal ini memicu rasa tidak percaya diri untuk memulai interaksi emosional atau fisik dengan suami.

Baca Juga:  Nikmat Lupa dalam Kehidupan

Islam memuliakan kualitas batin seorang istri lebih dari sekadar fisik.

تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ

“Nikahilah wanita yang penyayang dan subur.” (H.R. Abu Dawud, No. 2050)

Kata wadūd (penyayang) menunjukkan bahwa kelembutan, kasih sayang, dan empati lebih penting daripada penampilan luar.

4. Takut Ditolak: Luka Sunyi yang Tak Terlihat

Penolakan, meski tak disengaja, bisa menyisakan luka mendalam. Karena itu, banyak istri enggan menyampaikan hasrat atau kebutuhan. Mereka lebih memilih menunggu.

Padahal, Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya empati dan kelapangan hati dalam menyikapi pasangan.

لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ

“Seorang mukmin tidak boleh membenci seorang mukminah. Jika dia tidak menyukai satu sikap darinya, maka hendaklah dia ridha terhadap sikap yang lain.”
(HR. Muslim, no. 1469)

Pesan ini mengajarkan untuk melihat pasangan secara utuh, bukan hanya dari satu sisi.

5. Pola yang Terbentuk, Perlu Diperbarui dengan Lembut

Dalam banyak rumah tangga, kebiasaan suami yang selalu memulai membuat istri sungkan memecah pola tersebut. Padahal, relasi yang sehat adalah yang terbuka terhadap perubahan dan saling menguatkan.

Baca Juga:  Dua Kunci Ketenangan: Rida dan Memaafkan

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ

“Mereka (istri) adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (Al-Baqarah: 187)

Pakaian melambangkan kehangatan, perlindungan, dan kedekatan. Maka, pasangan seharusnya saling menenangkan, bukan menekan.

Menjadi Teman Hidup, Bukan Hanya Penunggu Waktu

Malu yang dirasakan istri bukanlah dosa. Tapi jika dibiarkan membeku, ia bisa menjauhkan jarak dalam relasi. Islam hadir bukan untuk membungkam rasa, tetapi membimbingnya agar tumbuh dalam bingkai kasih dan kejujuran.

Jangan biarkan konstruksi budaya yang sempit menutupi keindahan syariat. Dalam Islam, seorang istri yang berinisiatif menyenangkan suaminya dengan cara yang halal justru diganjar pahala.

Semoga rumah tangga kita selalu dalam lindungan Allah: sakinah, mawaddah, dan rahmah. Semoga para istri diberi keberanian untuk menyampaikan isi hatinya, dan para suami dilapangkan hatinya untuk mendengar dan merespons dengan cinta. Amin. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur'an dimulai dengan perintah membaca. Ini menunjukkan bahwa kemajuan dibangun dari tradisi literasi.
Telaah

Ilmu sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama dalam Al-Qur’an…