SejarahUtama

Kartini dan Kiai Soleh Darat

46
×

Kartini dan Kiai Soleh Darat

Sebarkan artikel ini
Kartini heran mengapa ulama mengapa Al-Quran tak diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Padahal kitab ini bimbingan hidup bahagia bagi manusia.
Raden Ajeng Kartini dan KH Soleh Darat

Kartini heran mengapa ulama tak menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Padahal kitab ini bimbingan hidup bahagia bagi manusia.

Tagar.co – Suatu ketika di tahun 1903, gadis Jepara, Kartini, mengikuti keluarganya menghadiri pengajian di rumah pamannya yang Bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat.

Penceramahnya KH Soleh bin Umar Assamarani. Ulama terkenal pada zaman itu. Berasal dari kampung Darat, Semarang.

Hari itu KH Soleh Darat, begitu nama populer kiai ini, membahas surah Al-Fatihah yang diterjemahkan ayat per ayat berikut tafsirnya.

Kartini bersama jamaah perempuan lainnya berada di ruang dalam. Tafsir Al-Fatihah itu menerangi pikirannya. Dia baru paham makna surah itu walaupun setiap hari dibaca dalam salat.

Selesai pengajian, gadis itu meminta kepada pamannya supaya dipertemukan dengan KH Soleh Darat.

Dia berkata, selama hidupnya baru kali ini memahami arti surat Al-Fatihah yang mencerahkan.

”Saya heran mengapa ulama melarang menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran adalah bimbingan hidup bahagia bagi manusia?” begitu tanya Kartini kepada Kiai Soleh.

Pertanyaan Kartini menginspirasi KH Soleh Darat untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa.

Baca Juga:  Quantum Tahfiz 2026: Cetak Generasi Karakter Qur’ani

Ketika Kartini menikah, kitab terjemah yang baru diselesaikan sampai surah Ibrahim diberikan sebagai kado pernikahan.

Setelah itu KH Soleh Darat wafat. Setahun kemudian, Kartini juga wafat ketika melahirkan anak pertama pada tahun 1904.

Sekiranya pertemuan Kartini dengan Kiai Soleh lebih panjang waktunya, boleh jadi pemikiran Islam Kartini lebih mendalam. Tak banyak pertanyaan yang mengelayut dalam pikirannya tentang agama.

Keluarga Santri

Melihat garis keturunan ibunya, sebenarnya keluarga Kartini tergolong santri.

Raden Ajeng Kartini adalah anak Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ibunya bernama Mas Ayu Ngasirah.

Ibunya anak Kiai Haji Madirono dan Nyai Haji Siti Aminah. Kakek dari garis ibunya adalah guru agama di Telukawur, Jepara.

Ibunya Kartini berasal dari keluarga santri. Bisa jadi tradisi santri juga terbawa ketika mendidik anak-anaknya ke dalam lingkungan kabupaten.

Dalam surat-surat Kartini yang dikirimkan kepada teman korespondennya, tersirat dia rutin membaca Al-Quran. Tapi saat beranjak dewasa, ada kejenuhan beragama.

Sebab dia tidak paham arti ayat Al-Quran yang dibacanya. Pada zaman itu terjemah Al-Quran dalam bahasa Jawa belum ada.

Baca Juga:  Tiga Tanda Al-Qur’an Telah Menerangi Hati Seseorang

Sebagai perempuan keluarga ningrat ada batasan keluar rumah seperti mengaji ke pesantren atau sekolah.

Dalam surat Kartini kepada teman korespondennya, Stella Zeehandelaar, seorang Yahudi Belanda aktivis sosialis-humanisme bercerita keresahan hatinya. Surat itu bertanggal 6 November 1899.

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Al-Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Quran tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang saleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

Keresahan sama disampaikan Kartini kepada Rosa Manuela Abendanon saat menulis surat pada 15 Agustus 1902.

Baca Juga:  Wahyu sebagai Kompas: Mengapa Kita Butuh Petunjuk Al-Qur’an?

Temannya ini adalah istri Jacques Henrij Abendanon, Menteri Pendidikan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.

Kelak Kartini mendapat beasiswa sekolah ke Belanda atas upaya temannya ini, walaupun tak diambilnya. Bunyi surat Kartini seperti ini.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu, apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Quran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kitab ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Surat-surat Kartini ini kemudian dikumpulkan oleh JH Abendanon pada tahun 1911. Menjadi buku diterbitkan dengan judul Door Duisternis tot Lich.

Buku ini juga terbit dalam edisi bahasa Inggris berjudul Letters of a Javaness Princess.

Armijn Pane menerjemahkan buku itu dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran terbit tahun 1922 yang populer hingga saat ini. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto