
Waktu adalah amanah yang tak akan kembali. Setiap detik bisa menjadi berkah atau penyesalan. Jangan tunggu sempurna untuk berbuat baik. Saat terbaik untuk memulai adalah sekarang.
Oleh Dwi Taufan Hidayat, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.
Tagar.co – Waktu adalah anugerah sekaligus amanah dari Allah yang harus dikelola dengan bijak. Setiap hari, jam, bahkan detik yang kita lalui menyimpan potensi besar: menjadi ladang amal atau justru celah kerugian.
Dalam kehidupan modern yang serbacepat ini, sering kali kita terjebak dalam kesibukan tanpa arah dan lupa bahwa waktu bukan sekadar angka yang bergulir, melainkan modal utama menuju akhirat. Islam menempatkan waktu dalam posisi yang sangat mulia, bahkan Allah bersumpah atas nama waktu dalam Al-Qur’an:
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa! Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1–3)
Setiap detik yang berlalu adalah bagian dari hidup yang tidak akan pernah kembali. Betapa sering kita menyesali waktu yang terbuang sia-sia, berharap bisa mengulangnya kembali. Namun, waktu tidak pernah mundur. Ia terus berjalan tanpa henti. Maka, Islam mengajarkan kita untuk mengelola waktu dengan sebaik-baiknya, menjadikannya ladang amal sebelum semuanya terlambat.
Allah Swt. berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali ‘Imran: 133)
Ayat ini adalah seruan agar kita tidak menunda-nunda amal saleh. Sering kali kita beralasan menunggu waktu yang tepat untuk berubah atau memulai sesuatu yang baik. Padahal, waktu terbaik adalah sekarang. Jika kita terus menunggu kesempurnaan, kita akan kehilangan kesempatan untuk bertumbuh.
Rasulullah Saw. bersabda:
اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang sakitmu, masa kayamu sebelum datang miskinmu, waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu.” (H.R. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Hadis ini mengingatkan bahwa waktu adalah nikmat yang sering kali kita abaikan. Jangan sampai kita baru tersadar ketika semuanya telah berlalu. Gunakan waktu luang sebelum datang kesibukan, manfaatkan masa sehat sebelum tiba masa sakit.
Jangan Hanya Menyesal, tetapi Berbuatlah
Menyesali masa lalu tanpa disertai tindakan hanya akan memperpanjang kerugian. Yang terbaik adalah menjadikan penyesalan sebagai motivasi untuk memperbaiki diri. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (Ar-Ra‘d: 11)
Jika kita ingin hari esok menjadi lebih baik, maka mulailah dari sekarang. Tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai berbuat baik. Kesempurnaan adalah sebuah proses perjalanan, bukan syarat awal untuk melangkah.
Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Sesungguhnya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Kuncinya adalah konsistensi. Mulailah dari hal kecil, tetapi teruslah melangkah. Waktu akan mengajarkan kita bahwa keberhasilan tidak bergantung pada seberapa cepat kita memulainya, tetapi seberapa teguh kita melangkah.
Kesimpulan: Gunakan Waktu sebelum Terlambat
Setiap hari adalah peluang baru. Jangan habiskan waktu hanya untuk menyesali masa lalu atau menunggu momen sempurna untuk bertindak. Bangunlah niat, mulailah langkah, dan perbaikilah diri setiap hari.
Allah Swt. berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”
(Az-Zalzalah: 7–8)
Maka, jangan remehkan setiap detik yang ada. Gunakanlah untuk beramal, berbuat kebaikan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebab waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Namun, kita masih memiliki hari ini untuk memperbaiki dan melangkah lebih baik. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












