Feature

Ujian Sekali Duduk, Menguji Hafalan dan Mental Siswa MIM 5 Banyutengah

30
×

Ujian Sekali Duduk, Menguji Hafalan dan Mental Siswa MIM 5 Banyutengah

Sebarkan artikel ini
Siswa MIM 5 banyutengah Panceng Gresik dalam ujian hafalan sekali duduk (Tagar.co/Shella Mahdiyah)

Tanpa jeda, tanpa mushaf, tanpa kesalahan fatal. Ujian hafalan sekali duduk di MI Muhammadiyah 5 Banyutengah, Panceng, Gresik, menguji ketahanan hafalan dan mental santri dalam menjaga Al-Qur’an.

Tagar.co – Setelah melaksanakan tasmik dengan penuh kekhusyukan di hari pertama, MI Muhammadiyah (MIM) 5 Banyutengah, Panceng, Gresik, kembali menggelar Ujian Kenaikan Juz pada Kamis, 6 Maret 2025. Kali ini, tantangannya semakin berat.

Baca juga: Menyemai Generasi Hafiz, MIM 5 Banyutengah Gresik Menggelar Ujian Kenaikan Juz

Para peserta menghadapi metode hafalan sekali duduk atau Cara Ustaz Sekali Duduk, sebuah ujian yang tak hanya menguji ketepatan hafalan, tetapi juga ketahanan mental dan konsistensi dalam membaca tanpa kesalahan fatal.

Menjaga Hafalan Tanpa Jeda Panjang

Sebelum ujian dimulai, Kepala Ma’had Manarul Qur’an Paciran memberikan sambutan yang penuh motivasi. Dia menyampaikan bahwa menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan dan keikhlasan.

“Ujian ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari perjuangan kalian dalam menjaga Kalamullah di hati. Hafalan yang telah kalian capai adalah sebuah amanah yang harus terus dijaga dan dipelihara. Semoga Allah memudahkan setiap langkah kalian dalam menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an,” ucapnya penuh semangat.

Dia juga mengingatkan bahwa menghafal Al-Qur’an tidak cukup hanya dihafal, tetapi juga harus dijaga dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, setiap ayat yang terhafal tidak hanya menjadi bagian dari ingatan, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak yang lebih baik.

Ujian berlangsung di lingkungan sekolah yang dipenuhi suasana hening dan serius. Setiap peserta duduk dengan penuh konsentrasi, menunggu giliran untuk diuji oleh dewan penguji dari Ma’had Manarul Qur’an Paciran, Lamongan. Mereka harus menyelesaikan hafalan tanpa melihat mushaf dan tanpa jeda panjang. Ketelitian menjadi kunci, karena setiap ayat, tajwid, hingga kelancaran bacaan akan dinilai secara mendetail.

Dalam metode ini, tak ada ruang untuk kesalahan yang berulang. Setiap bacaan harus lancar, jelas, dan sesuai kaidah tajwid. Tak hanya hafalan yang diuji, tetapi juga ketahanan peserta dalam kondisi ujian yang menuntut fokus penuh.

Siswa MIM 5 banyutengah Panceng Gresik dalam ujian hafalan sekali duduk (Tagar.co/Shella Mahdiyah)

Setiap Ayat yang Terlantun adalah Perjuangan

Bagi para peserta, ujian ini lebih dari sekadar membaca. Ini adalah ujian ketahanan, kesabaran, dan keikhlasan dalam menjaga hafalan. Mereka harus tetap stabil dalam kondisi apa pun, menjaga suara tetap jelas, dan mempertahankan konsentrasi hingga ayat terakhir.

Tak sedikit peserta yang menganggap ujian ini sebagai tantangan terbesar dalam perjalanan mereka menghafal Al-Qur’an. Namun, dengan tekad kuat, latihan konsisten, serta keyakinan bahwa hafalan adalah amanah yang harus dijaga, mereka berusaha menyelesaikan ujian dengan sebaik-baiknya.

Komitmen Mencetak Generasi Hafiz

Dengan berakhirnya ujian hari kedua, semakin nyata bahwa MIM 5 Banyutengah berkomitmen kuat dalam mencetak generasi yang bukan hanya mampu menghafal, tetapi juga menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Kerja sama dengan Ma’had Manarul Qur’an Paciran menjadi langkah strategis dalam memastikan bahwa hafalan para peserta benar-benar terjaga dengan standar yang tinggi. Namun, ujian ini bukanlah akhir. Sebaliknya, ini adalah awal dari perjalanan panjang untuk terus menjaga, mengulang, dan mengamalkan hafalan hingga akhir hayat. (#)

Jurnalis Shella Mahdiyah Penyunting Mohammad Nurfatoni