Feature

Perpisahan Haru di Al-Fattah: Dua Wali Kamar Purnatugas kembali ke Al-Amien Prenduan

32
×

Perpisahan Haru di Al-Fattah: Dua Wali Kamar Purnatugas kembali ke Al-Amien Prenduan

Sebarkan artikel ini
Jumat, 21 Februari 2025, Santri Kamar Nafisah dan Hafshoh Ponpes Al-Fattah kehilangan. Dua wali kamar purnatugas. Pengabdian 10 bulan dari Al-Amien Prenduan ke Al-Fattah. Kisah haru, doa, dan harapan.
Perpisahan haru di Al-Fattah bersama Ustazah Putri Nabila Az-Zahra (kiri) dan dan Ustzah Fadilatul Munawaroh

Jumat, 21 Februari 2025, Santri Kamar Nafisah dan Hafshoh Ponpes Al-Fattah kehilangan. Dua wali kamar purnatugas. Pengabdian 10 bulan dari Al-Amien Prenduan ke Al-Fattah. Kisah haru, doa, dan harapan.

Tagar.co – Jumat pagi itu, 21 Februari 2025, pukul 09.00 WIB, mentari bersinar lembut menembus jendela Pondok Pesantren Al-Fattah, Sidoarjo, Jawa Timur. Namun, di balik kecerahan itu, terselip suasana haru.

Hari itu menjadi hari perpisahan bagi santri kamar Nafisah dan Hafshoh. Bukan perpisahan biasa, melainkan perpisahan dengan dua wali kamar tercinta, Putri Nabila Az-Zahra (Zahra) dan Fadilatul Munawaroh (Dila), yang telah purnatugas.

Dua sosok muda ini, adalah tenaga pengabdian dari Pondok Pesantren Al-Amin, Prenduen, Sumenep. Selama kurang lebih 10 bulan sejak libur Idulfitri 1445, mereka mendedikasikan diri untuk membimbing dan mengayomi santri Al-Fattah. Meski menyadari belum bisa maksimal dalam menjalankan tugas, pengorbanan mereka meninggalkan “rumah” lama (Al-Amin) demi Al-Fattah, patut diacungi jempol.

“Semoga kebaikan-kebaikan yang ada di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Pamekasan bisa diterapkan di Al-Fattah. Begitu juga kebaikan-kebaikan di pondok pesantren Al-Fattah bisa ditularkan dan diambil pelajaran serta hikmahnya,” begitu harapan Zahra, menggambarkan semangat pertukaran ilmu dan pengalaman antar dua pesantren.

Baca Juga:  Santri Al-Fattah Bagikan 500 Paket Takjil di Alun-Alun Sidoarjo
Dua ustazah yang purnatugas. Ustazah Putri Nabila Az-Zahra (kiri) dan dan Ustzah Fadilatul Munawaroh (kanan) bersama Nur Djamilah

Kepala Kepengasuhan Putri, Nur Djamilah, M.Pd., tak henti-hentinya mendoakan agar Ustazah Zahra dan Ustazah Dila terus bersemangat dalam perjuangan mereka, di manapun kelak mereka berada. Sebuah pesan penting juga disampaikan: pentingnya saling memaafkan antara tenaga pengabdian dan seluruh warga pondok pesantren Al-Fattah.

Bagi kesantrian putri, kepergian dua wali kamar ini meninggalkan kesan mendalam. Perjuangan, kedisiplinan, ketegasan, serta semangat saling memaafkan, menjadi pelajaran berharga yang akan terus diingat. “Mohon doanya supaya kami juga dapat meningkatkan kebaikan-kebaikan dengan meninggalkan hal yang kurang baik,” ujar Ustazah Zahra dalam momen pisah pamit yang mengharukan.

Pagi itu, di Al-Fattah, perpisahan tak hanya diiringi air mata, tetapi juga doa dan harapan. Sebuah babak baru dimulai, bagi Ustazah Zahra dan Ustazah Dila, juga bagi seluruh santri yang pernah merasakan sentuhan hangat bimbingan mereka. (#)

Jurnalis Nur Djamilah Penyunting Mohammad Nurfatoni