
Kemendikdasmen mengarahkan sekolah untuk menerapkan pembelajaran yang lebih singkat dan efektif selama Ramadan. Dengan metode inovatif, siswa tetap bisa belajar tanpa terbebani, sejalan dengan nilai ibadah Ramadan.
Tagar.co – Bulan Ramadan sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi peserta didik yang menjalankan ibadah puasa. Namun, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan bahwa pembelajaran tetap berjalan efektif dengan memberikan pendekatan yang lebih fleksibel dan ramah bagi siswa.
Dalam rangka mendukung pembelajaran yang sesuai dengan suasana Ramadan, Direktorat Sekolah Dasar Kemendikdasmen mengadakan webinar bertajuk “Aktivitas Pembelajaran di Bulan Ramadan.”
Baca juga: Resmi! Tiga Menteri Terbitkan Aturan Pembelajaran selama Ramadan 1446
Acara yang disiarkan langsung melalui YouTube Direktorat Sekolah Dasar, Jumat (21/2/25) ini bertujuan untuk mensosialisasikan kebijakan pembelajaran selama Ramadan berdasarkan Surat Edaran Bersama (SEB) Nomor 2 Tahun 2025 dan Nomor 400.1/320/SJ.
Bulan Ramadan bukan hanya menjadi momen beribadah, tetapi juga kesempatan untuk menambah wawasan dan ilmu. Direktur Sekolah Dasar, Moch. Salim Somad, menegaskan pentingnya mengatur jadwal pembelajaran yang lebih ringkas dan efektif agar tidak membebani siswa yang sedang berpuasa. Ia juga menekankan bahwa materi pembelajaran tetap harus sesuai dengan kurikulum, tetapi dapat diperkaya dengan nilai-nilai luhur dari ibadah Ramadan.
Kemendikdasmen juga mendorong satuan pendidikan untuk mengadopsi metode pembelajaran yang variatif dan menarik. Dengan begitu, peserta didik tetap semangat belajar tanpa merasa terbebani. Selain itu, aspek penilaian tetap diperhatikan agar objektif dan transparan, sehingga perkembangan akademik siswa tetap terpantau dengan baik.
Integrasi Pembelajaran dan Penguatan Karakter
Dalam webinar tersebut, Widyaprada Direktorat Sekolah Dasar, Abdul Halim Muharam, menyoroti bahwa pembelajaran di bulan Ramadan selaras dengan upaya penguatan pendidikan karakter. Konsep ini merupakan bagian dari program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang bertujuan membentuk siswa menjadi individu yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki nilai-nilai moral yang tinggi.
“Di tangan para guru, pembelajaran bisa menjadi lebih fleksibel dan tidak membebani peserta didik. Dengan strategi yang tepat, Ramadan justru bisa menjadi momentum pembelajaran yang lebih bermakna,” ungkapnya, dikutip dari siaran pers Kemendikdasmen yang diterima Tagar.co, Jumat (21/2/25) petang.
Salah satu aspek yang diperhatikan dalam kebijakan ini adalah penyesuaian jam belajar. Berdasarkan SEB yang telah diterbitkan, pembelajaran selama Ramadan dilakukan dalam dua fase. Fase pertama pada 27-28 Februari dan 3-5 Maret 2025, di mana siswa belajar secara mandiri di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sedangkan fase kedua, pada 6-25 Maret 2025, pembelajaran kembali dilakukan di sekolah atau madrasah dengan penyesuaian jam dan metode yang lebih interaktif.
Libur bersama Idulfitri ditetapkan pada 26-28 Maret serta 2-4 dan 7-8 April 2025, sementara kegiatan belajar di sekolah kembali berjalan normal mulai 9 April 2025.
Kebijakan yang Mendukung Keseimbangan
Salim menegaskan bahwa Ramadan seharusnya tidak menjadi penghalang dalam proses pembelajaran, melainkan menjadi momen kebahagiaan bagi semua pihak di dunia pendidikan. Ia berharap kebijakan ini mampu menciptakan keseimbangan antara aktivitas belajar dan ibadah, sehingga suasana pembelajaran tetap kondusif dan menyenangkan.
Kebijakan ini juga sejalan dengan Asta Cita yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming, yang menekankan pentingnya pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan berkualitas. Harapannya, siswa Indonesia dapat tumbuh menjadi individu yang sehat, cerdas, dan memiliki kepedulian sosial tinggi.
Selain pemerintah dan sekolah, orang tua juga berperan penting dalam mendukung proses belajar anak selama Ramadan. Bimbingan dan pengawasan dari keluarga akan membantu anak-anak menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk, sekaligus tetap menjalankan kewajiban akademiknya dengan baik.
Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, sekolah, dan orang tua, Ramadan bukan hanya menjadi bulan ibadah, tetapi juga momen untuk memperkuat pendidikan karakter dan kualitas pembelajaran bagi generasi muda Indonesia. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












