Feature

Inovasi Mahasiswa UMM: Sulap Limbah Kayu Jadi Energi Alternatif dengan ‘Automatic Briket Maker’

40
×

Inovasi Mahasiswa UMM: Sulap Limbah Kayu Jadi Energi Alternatif dengan ‘Automatic Briket Maker’

Sebarkan artikel ini
Tim mahasiswa UMM bersama alat ciptaannya ‘Automatic Briket Maker’ dan (Foto Humas UMM)

Limbah kayu pabrik menumpuk? Mahasiswa UMM hadirkan solusi inovatif: ‘Automatic Briket Maker’! Ubah limbah jadi energi alternatif ramah lingkungan, demi masa depan berkelanjutan.

Tagar.co – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menorehkan inovasi, kali ini melalui karya mahasiswa Teknik Industri yang menciptakan alat pembuat briket otomatis bernama ‘Automatic Briket Maker’. Inovasi ini hadir sebagai kontribusi nyata dalam menyongsong Indonesia Emas 2045, dengan memanfaatkan limbah kayu sebagai sumber energi alternatif yang berkelanjutan.

Ide brilian ini lahir dari pengalaman mahasiswa saat melaksanakan praktikum terintegrasi di sebuah pabrik mebel. Mereka mendapati tumpukan limbah kayu yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini memicu mereka untuk mencari solusi inovatif, yang kemudian berujung pada perancangan alat pembuat briket.

Baca juga: Kreativitas tanpa Batas: Mahasiswa UMM Pamerkan Puluhan Prototipe Inovatif di Industrial Engineering Expo

Lucky Argo Bramantyas, ketua tim, menjelaskan bahwa fungsi utama alat ini adalah mencetak dan memadatkan adonan briket yang berbahan dasar limbah kayu. Lebih dari sekadar alat cetak biasa, mereka mengembangkan prototipe ini dengan menambahkan fitur pemotong otomatis yang bekerja selaras dengan gerakan dinamo.

Baca Juga:  Followers Jadi Tiket Masuk Kampus, UMM Buka Jalur Kuliah tanpa Tes bagi Konten Kreator

Pengendalian mesin pun ditingkatkan dengan memanfaatkan perangkat lunak Blynk berbasis IoT (internet of things), memberikan nilai tambah yang signifikan dibandingkan produk serupa di pasaran.

‘Automatic Briket Maker’ karya mahasiswa UMM (Foto Humas UMM)

Keunggulan Alat

Salah satu keunggulan ‘Automatic Briket Maker’ terletak pada efisiensi penggunaan dayanya yang hanya membutuhkan 110V-220V. Fitur pemotong otomatis memastikan setiap briket yang dihasilkan memiliki ukuran yang seragam, yaitu 5 cm.

Proses pengembangan inovasi ini tentu tidak lepas dari tantangan. “Tantangan terbesar adalah memastikan codingan kami dapat terhubung dan terbaca oleh kode mikrokontroler ESP 32 yang juga terhubung dengan software Blynk. Selain itu, ada juga uji coba yang sering gagal, namun berkat kerja sama tim kami dapat mengatasinya,” ungkap Lucky Argo Bramantyas, dikutip dari siaran pers Humas UMM yang diterima Tagar.co, Kamis (23/1/25) sore.

Lucky dan timnya memiliki harapan besar agar ‘Automatic Briket Maker’ dapat terus dikembangkan. Beberapa ide pengembangan yang mereka usung antara lain penambahan fitur pembuat adonan otomatis, pemotong horizontal, dan sensor berat yang berfungsi menghentikan mesin jika bahan baku habis.

Baca Juga:  UMM Jadi Mitra Unesco dalam Misi Pelestarian Air Global

Mereka berharap briket yang dihasilkan dapat menjadi alternatif sumber energi yang ramah lingkungan dan berkontribusi dalam mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi berbasis batu bara. Inovasi ini menjadi bukti nyata komitmen mahasiswa UMM dalam menciptakan solusi berkelanjutan bagi masa depan. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni