
Di antara deretan materi yang disajikan dalam Baitul Arqam Aisyiyah Menganti, ada satu yang begitu menyita perhatian: Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).
Tagar.co – Di lereng Gunung Penanggungan, tepatnya di Villa Padi Park, Pacet, Mojokerto, dinginnya udara seolah tak mampu menandingi hangatnya semangat para perempuan tangguh Aisyiyah. Pada Ahad (19/1/25) itu, puluhan anggota Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) dan Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) se-Kecamatan Menganti, Gresik, tengah ‘khusyuk’ mengikuti Baitul Arqam, sebuah forum pengaderan untuk memperdalam nilai-nilai keislaman dan ke-Muhammadiyahan.
Di antara deretan materi yang disajikan, ada satu yang begitu menyita perhatian: Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).
Aula Villa Padi Park yang biasanya menjadi tempat bersantai, siang itu dipenuhi antusiasme. Ana Abidin, S.Pd., Wakil Ketua PCA Menganti, tampil sebagai pemateri terakhir. Dengan suara yang mantap, dia memandu para peserta untuk memahami lebih dalam tentang PHIWM.
Baca juga: Kisah Pemuda dan Sumur Angker: Pelajaran Berharga di Baitul Arqam Menganti
“PHIWM ini adalah seperangkat nilai dan norma Islami yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunah untuk menjadi pola bagi tingkah laku warga Muhammadiyah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga tercermin kepribadian Islami menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” jelas Ana mengawali materinya.
Dia kemudian menguraikan bahwa PHIWM bukan hanya sekadar dokumen, melainkan panduan hidup yang menyeluruh. “PHIWM ini digunakan sebagai pedoman warga Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam menjalani kehidupan, baik itu sebagai pribadi, dalam keluarga, sosial masyarakat, organisasi, pengelolaan amal usaha Muhammadiyah, berbisnis, profesi, berbangsa dan bernegara, melestarikan lingkungan, ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan dalam mengembangkan seni dan budaya,” ujarnya.

Para peserta tampak menyimak dengan seksama, sesekali menganggukkan kepala tanda mengerti. Ana melanjutkan penjelasannya, memaparkan bahwa PHIWM bersumber dari enam rujukan utama. “PHIWM ini bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Khittah Perjuangan Muhammadiyah, dan HPT (Himpunan Putusan Tarjih),” terangnya.
Ketika seorang peserta bertanya tentang pentingnya PHIWM bagi warga Muhammadiyah, dengan lugas, Ana menjawab, bahwa hal ini bertujuan agar terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang diridai Allah Swt.
Ibu dua anak ini kemudian menjelaskan pentingnya PHIWM dalam berbagai sendi kehidupan. “PHIWM sangat dibutuhkan dalam menjalani berbagai kehidupan baik pribadi, keluarga, sosial masyarakat, organisasi, pengelolaan amal usaha Muhammadiyah, berbisnis, profesi, berbangsa dan bernegara, melestarikan lingkungan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta dalam mengembangkan seni budaya,” paparnya.
Tak hanya menjelaskan PHIWM, perempuan kelahiran Gresik ini juga mengajak peserta memahami Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCHM). “Isi rumusan dari MKCHM ini adalah akidah, akhlak, ibadah, muamalah duniawiyah dan paham kebangsaan,” tuturnya.
Ana menutup sesi dengan sebuah harapan agar ilmu yang didapat bisa diamalkanoleh para pimpinan Aisyiyah baik di tingkat ranting maupun cabang kecamatan Menganti.
Di luar aula, semilir angin di lereng Gunung Penanggungan seolah membawa pesan dari Baitul Arqam kali ini. Sebuah pesan tentang pentingnya berpegang teguh pada nilai-nilai Islami dalam setiap langkah. Bagi para perempuan Aisyiyah ini, perjalanan untuk mengamalkan PHIWM baru saja dimulai, sebuah jalan panjang untuk mewujudkan cita-cita mulia: masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. (#)
Jurnalis Nadhirotul Mawaddah Penyunting Mohammad Nurfatoni












