
Outdoor learning ini menjadi momen yang berkesan bagi siswa kelas 5 Sekolah Kreatif Baratajaya. Tak hanya ilmu yang didapat, tetapi juga pengalaman berharga dalam berorganisasi dan bekerja sama.
Tagar.co – Kamis (16/1/2025) pagi itu, Museum Trowulan di Mojokerto tampak lebih ramai dari biasanya. Sebanyak 93 siswa kelas 5 SD Muhammadiyah 16 Surabaya, atau yang lebih dikenal dengan Sekolah Kreatif Baratajaya, menyemut di pelataran museum. Mereka datang untuk mengikuti Outdoor Learning, menyelami jejak sejarah Kerajaan Majapahit secara langsung.
Tepat pukul 09.30 WIB, rombongan tiba. Suasana langsung berubah riuh, tetapi tetap tertib. Tiga leader of line dari kelas Al-Zahrawi, Shidqiya Aqila Putri, Arwen Maheswari, dan Akila Naila Putri, sigap mengambil alih komando.
Dengan suara lantang, ketiganya memimpin barisan, memastikan seluruh siswa berbaris rapi di depan museum. Pemandangan ini tak ayal menarik perhatian para pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar, membuat mereka berbondong-bondong mendekat, penasaran dengan kerumunan siswa yang tampak antusias.
Baca juga: Sekolah Kreatif Baratajaya Libatkan Siswa Jadi Panitia, Outdoor Learning makin Bermakna
Setelah memastikan seluruh peserta lengkap, dibantu asisten teacher dari kelas Al-Nafis, Azam Mudrik, Muhammad Hasan Abdullah, dan Qisha Qaisyara, rombongan diarahkan memasuki Museum Trowulan.
Sebelum melangkah masuk, Riza Fitriyah, S.S., salah satu guru kelas 5, mengingatkan para siswa untuk menyimak penjelasan pemandu museum. “Yang akan mendampingi kalian berkeliling di museum ini adalah Pak Dimas Widianto dan Bu Reni Puspa Dita, jadi kalian simak apa yang disampaikan oleh beliau berdua,” tegas Ustazah Riza.
Dimas Widianto, sang pemandu, mengajak para siswa memasuki ruang museum. Antusiasme terpancar dari wajah-wajah mungil itu. Sepanjang jalan setapak menuju ruangan, mereka dibuat terheran-heran oleh deretan arca dan artefak kuno yang terpajang rapi. Sesampainya di dalam, Reni Puspa Dita mulai menjelaskan sejarah museum dan keberadaan candi-candi di sekitarnya.
Pukul 10.30 WIB, petualangan berlanjut. Rombongan bertolak menuju Candi Bajang Ratu dan Candi Tikus. Setelah puas menjelajahi kedua candi tersebut hingga pukul 12.00 WIB, perjalanan dilanjutkan ke Candi Kedaton atau yang dikenal juga dengan Sumur Upas. Namun, karena waktu menunjukkan saatnya salat Zuhur, seluruh siswa diajak singgah di Masjid Baiturrahman di Dusun Botok Palung, Desa Temon, Kecamatan Trowulan.
Di masjid ini, sebuah pemandangan menghangatkan hati tersaji. Para siswa dengan khusyuk melantunkan Asmaulhusna, hafal di luar kepala dan penuh semangat. Pak Karmin, marbut masjid, tampak terheran-heran. “Kamu kelas berapa, Nak?” tanyanya pada salah satu siswa. “Saya kelas 5 Sekolah Kreatif SD Muhammadiyah 16 Surabaya, Pak,” jawab Rafie Bakhtiyar Rizqi, salah satu siswa, dengan bangga.
Usai salat, perjalanan dilanjutkan ke Candi Kedaton dan Candi Brahu sebagai destinasi terakhir. Bagi para siswa, outdoor learning ini bukan sekadar tamasya, tetapi juga pengalaman belajar yang berharga. Mereka terlibat langsung sebagai panitia, memikul tanggung jawab sesuai peran masing-masing.
“Aku senang mengikuti outdoor learning ini karena, karena tadi di museum banyak mendapatkan penjelasan beberapa benda bersejarah, ada 9.000 barang koleksi yang dikatakan oleh Pak Dimas,” ucap Ishany Imtiyaz, atau yang akrab disapa Shanaz, salah satu siswa kelas 5 Al-Zahrawi, dengan binar di matanya.
Outdoor learning ini menjadi momen yang berkesan bagi siswa kelas 5 Sekolah Kreatif Baratajaya. Tak hanya ilmu yang didapat, tetapi juga pengalaman berharga dalam berorganisasi dan bekerja sama. Sebuah perjalanan yang tak hanya menyusuri jejak sejarah, tetapi juga menempa karakter dan kepemimpinan mereka. (#)
Jurnalis Ahmad Mahmudi Penyunting Mohammad Nurfatoni












