Feature

Gubuk Nasyiah: Ketika Minyak Jelantah Disulap Jadi Lilin Aromaterapi

27
×

Gubuk Nasyiah: Ketika Minyak Jelantah Disulap Jadi Lilin Aromaterapi

Sebarkan artikel ini
Gubuk Nasyiah yang digagas PDNA Kota Semarang menjadi tempat belajar dan mengasah kreativitas bagi perempuan. Mereka mengajak masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, untuk lebih peduli terhadap pengelolaan limbah rumah tangga dan pentingnya menjaga kesehatan.
Gubuk Nasyiah: Penjelasana pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah (Tagar.co/Istimewa)

Gubuk Nasyiah yang digagas PDNA Kota Semarang menjadi tempat belajar dan mengasah kreativitas bagi perempuan.

Mereka mengajak masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, untuk lebih peduli terhadap pengelolaan limbah rumah tangga dan pentingnya menjaga kesehatan.

Tagar.co – Ahad (12/1/2024) pagi, Kelurahan Meteseh, Tembalang, Kota Semarang diramaikan oleh semangat belajar dan kreativitas. Sebanyak 50 ibu-ibu PKK RW 14 berkumpul, bukan untuk arisan, melainkan mengikuti kegiatan inspiratif bertajuk “Gubuk Nasyiah” yang digagas oleh Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Kota Semarang.

Bekerja sama dengan Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Gubug Nasyiah hadir dengan misi mulia: mengajak masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, untuk lebih peduli terhadap pengelolaan limbah rumah tangga dan pentingnya menjaga kesehatan.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran ibu-ibu PKK RW 14 Kelurahan Meteseh,” ucap Annisa Nurul, Ketua Pelaksana Gubuk Nasyiah, membuka acara dengan penuh semangat. “Kehadiran ibu-ibu di acara ini menunjukkan semangat untuk belajar dan berkontribusi dalam pengelolaan limbah rumah tangga,” imbuhnya, disambut antusiasme para peserta.

Baca Juga:  PCNA Sibar Gelar Kolaborasi Ramadan, Perkuat Ukhuah lewat Takjil dan Kajian
Pemeriksaan kesehatan dalam kegiatan Gubuk Nasyiyah Kota Semarang (Tagar.co/Istimewa)

Dari Limbah Dapur Menjadi Produk Bernilai

Salah satu daya tarik utama Gubug Nasyiah adalah workshop pengolahan limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Annisa menjelaskan alasan di balik pemilihan topik ini, “Masih banyak masyarakat yang menggunakan minyak jelantah berulang kali untuk konsumsi. Hal tersebut memiliki risiko terhadap kesehatan.”

Dengan bimbingan tim instruktur, para ibu diajak untuk menyulap minyak jelantah, yang biasanya terbuang percuma, menjadi lilin aromaterapi yang cantik dan harum. Tangan-tangan cekatan itu pun menuang, mencampur, dan menghias, mengubah limbah dapur menjadi produk bernilai ekonomis.

“Kami berharap ibu-ibu dapat mempraktikkan hasil workshop ini di rumah atau melalui bank sampah lingkungan sebagai bentuk pengelolaan limbah rumah tangga yang lebih sehat,” tambah Annisa, penuh harap.

Baca juga: Dakwah Tak Hanya di Mimbar, Nasyiah Brondong Masifkan lewat Digital

Gubug Nasyiah tak hanya berhenti pada pengolahan limbah. Acara ini juga dilengkapi dengan edukasi kesehatan dan pemeriksaan kesehatan gratis, hasil kolaborasi dengan mahasiswa Program Studi TLM Unimus. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) 2025 yang mereka jalankan.

Baca Juga:  Safari Dakwah NA Brondong: Berburu “Flash Sale” Pahala dengan Strategi Cerdas

“Kegiatan ini juga diisi dengan Pasmina, Emina, dan pemeriksaan kesehatan gratis serta edukasi kesehatan dari Program PKMD 2025 yang bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan ibu-ibu tentang gaya hidup sehat,” jelas Annisa, dikutip dari siaran pers yang diterima Tagar.co, Ahad (12/1/25) siang.

Taman bacaan dalam kegiatan Gubuk Nasyiyah Kota Semarang (Tagar.co/Istimewa)

Apresiasi dan Harapan untuk Masa Depan

Ketua PKK RW 14 Kelurahan Meteseh, Siti Hendri, tak dapat menyembunyikan rasa senangnya atas terselenggaranya Gubug Nasyiah. “Acara ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai ibu rumah tangga. Edukasi seperti ini membantu kami untuk lebih bijak dalam mengelola limbah dan menjaga kesehatan keluarga,” ujar Siti, mengapresiasi inisiatif PDNA Kota Semarang.

Kesuksesan acara ini tak lepas dari dukungan berbagai pihak. “Kami sangat menghargai bantuan dan kerja sama semua pihak. Tanpa dukungan ini, acara hari ini tidak akan berjalan lancar,” tutur Annisa, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para sponsor, termasuk PT. Surya Ultima Nasional, Lazismu Kota Semarang, Bank Syariah BPRS Artha Surya Barokah, RS Roemani Muhammadiyah Semarang, Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Semarang, dan Universitas Muhammadiyah Semarang.

Baca Juga:  DANA dan Pertaruhan Ideologi Kader Nasyiatul Aisyiyah

Menutup acara, Annisa menyampaikan harapannya, “Kami ingin memberikan kontribusi nyata dalam memberdayakan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga, melalui kegiatan edukatif seperti ini. Semoga ke depannya lebih banyak masyarakat yang terlibat.”

Gubug Nasyiah menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dan kesehatan dapat diwujudkan melalui langkah-langkah kreatif dan kolaboratif. Transformasi limbah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi di tangan ibu-ibu Meteseh menjadi inspirasi bagi kita semua untuk lebih bijak dalam mengelola limbah dan menjaga bumi. (#)

Penyunting Mohammad Nurfatoni