Feature

Taawun Napas Gerak Muhammadiyah

18
×

Taawun Napas Gerak Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Psikolog Eko Hardi Ansyah mengupas kunci taawun dalam Segitiga Sukses Ahmad Dahlan pada Pengajian Ramadan 1447 H Muhammadiyah GKB Gresik.
Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim Eko Hardi Ansyah mengupas kunci taawun dalam Segitiga Sukses Ahmad Dahlan. (Tagar.co/Ilham)

Psikolog Eko Hardi Ansyah mengupas kunci taawun dalam Segitiga Sukses Ahmad Dahlan pada Pengajian Ramadan 1447 H Muhammadiyah GKB Gresik.

Tagar.co — Lautan putih memenuhi lantai satu Masjid Al-Mizan, SMA Muhammadiyah 10 GKB Gresik (Smamio), Sabtu (28/2/2026). Guru dan karyawan dari empat sekolah Muhammadiyah GKB duduk berderet rapi dengan busana nuansa putih. Mereka sehari-harinya bekerja di SMP Muhammadiyah 12 GKB Gresik (Spemdalas), SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School), SD Muhammadiyah 2 GKB Gresik (Berlian Primary School), dan Smamio.

Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB Gresik menghadirkan pemateri Dr. Eko Hardi Ansyah, M.Psi., Psikolog, Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur. Eko membedah The Success Triangle of Ahmad Dahlan di hadapan keluarga besar sekolah Muhammadiyah GKB. Setelah mengulas sekilas Segitiga Sukses Ahmad Dahlan, Eko mengajak peserta masuk lebih dalam. Ia sudah membedah kunci pertama: ilmu. Kini, ia melangkah ke kunci kedua—taawun.

Ia membuka dengan firman Allah SWT, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS Al-Maidah: 2).

Baca Juga:  Bumi kian “Mendidih”, Din Syamsuddin Ajak Umat Islam Perlakukan Alam sebagai Subjek

Suasana masjid hening. “Kalau tidak mau menolong orang, hidup akan sempit,” ujarnya tegas. Kalimat itu menggantung di udara, sekaligus mengetuk kesadaran jemaah.

Baca Juga: Segitiga Sukses Ahmad Dahlan di Muhammadiyah GKB

Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim Eko Hardi Ansyah mengupas kunci taawun dalam Segitiga Sukses Ahmad Dahlan. (Tagar.co/Ilham)
Eko Hardi Ansyah di Pengajian Ramadan yang diselenggarakan Majelis Dikdasmen dan PNF PCM GKB. (Tagar.co/Yuanita Anggun Candra Yudha)

Meneladani Sikap Ahmad Dahlan

Eko tidak berhenti pada teori. Ia mengajak jemaah menelusuri jejak Ahmad Dahlan dalam mempraktikkan taawun.

Pertama, ia menyinggung penerapan Teologi Al-Ma’un. Ahmad Dahlan mendirikan pengajian Al-Ma’un dan mengajarkannya berbulan-bulan. Murid-muridnya sempat merasa bosan. Namun, ia tidak sekadar mengajarkan teks. Ia memastikan ajaran itu menjelma tindakan nyata.

Kedua, ia melayani tanpa pandang bulu. Ahmad Dahlan membantu kaum miskin hingga tuntas. “Ia tidak berhenti pada bantuan konsumtif. Ia membangun sistem agar mereka mandiri. Karena masyarakat miskin rentan sakit, ia menggandeng dokter dan mendirikan rumah sakit,” terang Eko yang sehari-harinya menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida). 

Ketiga, ia mengorbankan harta pribadi demi dakwah. Keempat, ia mendirikan MIDI pada 1 Desember 1911. Kelima, ia merintis Amal Usaha Muhammadiyah sebagai instrumen pemberdayaan umat.

Keenam, ia menyelesaikan konflik dengan elegan—baik konflik horizontal dengan masyarakat tradisional maupun konflik vertikal dengan penguasa. Ia menghadapi semuanya dengan istiqamah, kebijaksanaan, dan keteguhan hati.

Baca Juga:  Istikamah Merawat Takwa Pasca Ramadan

“Dari bacaan saya, saya belum tahu Ahmad Dahlan pernah marah. Ketika musalanya dirobohkan dan hancur, beliau berpesan kepada muridnya: yang sabar, jangan sakit hati, yang penting tetap istiqamah di jalan Allah,” tutur Eko.

Ia menatap peserta satu per satu. “Dalam organisasi Muhammadiyah, kita harus meminimalkan konflik.”

Ia menambahkan, “Yang tidak bisa menyatukan adalah sifat dengki. Dengki justru melukai hati diri sendiri sehingga tidak produktif. Legasinya bertahan sampai 114 tahun.”

Pesan itu terasa relevan. Muhammadiyah tidak sekadar bertahan—ia tumbuh karena mampu menjaga ruh kebersamaan.

Baca Juga: Psikolog Eko Hardi Ansyah Membedah Segitiga Sukses Ahmad Dahlan

Taawun sebagai Gerak Kolektif

Bagi Eko, taawun bukan sekadar membantu secara individual. Taawun adalah gerak kolektif. Ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan reflektif yang membuat peserta terdiam.

Tentang sinergi, ia bertanya, “Taawun bukan sekadar membantu, tetapi sejauh mana guru-guru menyatukan kekuatan untuk maslahat?”

Kemudian terkait kolaborasi, ia mengingatkan, “Sejauh mana kita kompak bekerja sama dengan tujuan yang sama?”

Selanjutnya, bicara solidaritas, ia menantang, “Sejauh mana rasa memiliki dan tanggung jawab kolektif kita?”

Baca Juga:  Sidang Isbat: Kritik Kebijakan di Era Hisab Presisi

Tentang ukhuwah, ia menggugah, “Sejauh mana fondasi emosional dan spiritual kerja bersama?”

Adapun terkait komitmen berjemaah, ia menegaskan, “Bagaimana kita bergerak bukan sebagai individu, tetapi sebagai sistem?”

Terakhir, bicara kontribusi, ia bertanya lugas, “Seberapa tertib kita berkontribusi dana ta’awun?”

Satu demi satu pertanyaan itu seperti cermin. Tidak ada yang bisa bersembunyi di balik jabatan atau rutinitas.

Eko juga menyarankan agar kajian semacam ini tidak hanya melibatkan guru dan karyawan, tetapi juga keluarga mereka. Ia menilai keseimbangan rumah tangga akan memperkuat stabilitas kerja dan dakwah.

Menjelang akhir sesi, ia menutup dengan kalimat yang membekas. “Hidup taawun membuat beban yang berat menjadi ringan, dan kebaikan tersebar lebih luas serta membuat kita lebih produktif.”

Di Masjid Al Mizan pagi itu, taawun tidak lagi terdengar sebagai konsep. Ia menjelma komitmen—untuk bergerak bersama, menjaga hati, dan merawat legasi dakwah yang telah berumur lebih dari satu abad. (#)

Jurnalis Sayyidah Nuriyah Penyunting Mohammad Nurfatoni