
Di tengah ujian hidup yang menyesakkan, Karim belajar satu rahasia: bahagia bukan soal menang atau kalah, melainkan rida pada takdir. Namun ujian terbesar datang saat senyum polos seorang bocah direnggut takdir tragis.
Tagar.co – Langit sore merona keemasan, memeluk bumi yang masih lembap setelah hujan. Di beranda rumah kecil di ujung gang, duduk seorang lelaki paruh baya bernama Karim. Matanya menatap kosong pada secangkir teh yang sudah dingin. Wajahnya memendam garis lelah, seakan menyimpan kisah pertarungan batin tanpa suara.
Hari-hari Karim belakangan ini terasa menyesakkan. Apa pun yang ia lakukan selalu tampak salah di mata orang: mengalah dipandang pengecut, melawan dianggap pembangkang, diam tak menyelesaikan masalah, bicara malah dituding mencari masalah. Yang ia inginkan hanya kedamaian, sedikit ruang bernapas, tetapi setiap langkah justru memantik api yang lebih besar.
Baca cerpen lainnya: Cahaya di Balik Jeruji
Ia teringat ketika mencoba mencurahkan isi hati kepada sahabatnya. Ia tak bermaksud berdebat, hanya ingin didengar. Namun sahabatnya menatap sinis, “Kamu itu selalu benar sendiri, Karim. Semua orang salah kecuali kamu.”
Kata-kata itu menghantam dadanya lebih keras daripada badai. Karim memilih diam, bukan karena setuju, tapi karena tak ingin lukanya kian dalam.
Karim menarik napas panjang. Dalam hati ia berbisik, “Ya Allah, sampai kapan aku harus kuat?” Namun ia sadar, kekuatan bukan tentang siapa yang paling lantang bicara, melainkan siapa yang mampu tetap tenang saat badai datang. Ia teringat sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang pernah didengarnya: “Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
Hadis itu bagai tembok yang menahan dirinya dari ledakan emosi. Karim tahu, setan paling suka melihat manusia putus asa dan marah. Karena itu ia memilih tersenyum, meski dadanya terkoyak oleh prasangka.
Menjelang Magrib, Karim melangkah ke masjid. Udara selepas hujan masih terasa segar, bercampur bau tanah basah. Di sudut masjid, ia duduk, memejamkan mata, membiarkan lantunan kalam Allah mengalir dari bibir imam. Ayat 23 Surah Al-Isra menghantam hatinya dengan lembut:
“Maka janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak mereka, tetapi ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Karim tersentak. Firman itu seolah menegurnya: jangan biarkan emosimu melukai orang lain, bahkan dengan kata kecil. Air matanya jatuh, bukan karena marah, tapi karena sadar betapa sering ia ingin bicara keras sekadar agar didengar.
Seusai salat, seorang anak kecil berlari menghampirinya. Nafasnya terengah, matanya berbinar. “Pak Karim, ibu saya titip salam. Katanya, bapak orang baik.”
Karim terdiam. Sesederhana itu ucapan seorang anak, mampu meruntuhkan benteng gundahnya. Ia tersenyum, dan dalam senyum itu melangit doa: semoga Allah menjaga hatinya tetap lembut.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama.
Beberapa hari kemudian, kabar duka datang dari kota seberang: kakak yang selama ini menjadi sandaran, meninggal mendadak. Karim terpukul. Ia baru saja berencana mengunjunginya pekan depan untuk meminta maaf atas kesalahpahaman lama. Takdir berkata lain. Ia terduduk, napas tercekat.
Dalam diam, bisikan setan menyeruak: “Lihat? Allah tidak adil padamu.” Karim menepisnya. Ia mengangkat tangan, berdoa sambil menangis: “Aku rida Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai nabiku.”
Air matanya mengalir, tapi hatinya mantap. Ia tahu, ridha bukan berarti tak bersedih. Ridha adalah percaya bahwa setiap luka membawa hikmah.
Hari-hari setelahnya, Karim tampak berubah. Ia lebih sering tersenyum, bukan karena masalahnya sirna, melainkan karena ia menemukan rahasia bahagia: berdamai dengan takdir. Orang-orang heran. “Kenapa kamu tenang, Karim? Padahal masalahmu banyak.” Ia hanya menjawab singkat, “Karena aku memilih bahagia.”
Namun, kebahagiaan itu kembali diuji.
Suatu malam, saat pulang dari masjid, Karim melihat kerumunan di ujung jalan. Lampu-lampu kendaraan menyilaukan, suara tangis dan teriakan panik membelah udara. Ia mendekat, dan dadanya seolah diremas ketika melihat siapa yang tergeletak di aspal: anak kecil yang beberapa hari lalu menemuinya di masjid. Bocah yang berkata polos, “Bapak orang baik.”
Karim meraih tubuh mungil itu, darah membasahi bajunya. Ia gemetar, matanya basah. Dalam hatinya terucap lirih: “Ya Allah… mengapa bukan aku?”
Kerumunan mendadak sunyi. Hanya isak Karim yang terdengar, memecah malam.
Di ujung keputusasaan itu, ia kembali mengingat kalimat yang menjadi pegangan: bahagia adalah ridha, meski perih, meski luka, meski tak mengerti alasan-Nya.
Karim menutup mata, mengecup kening bocah itu, dan tersenyum di tengah air mata. Senyum yang menampar setan, sekaligus memeluk takdir. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












