Feature

Seminar Nasional di SMA Muhi Bahas Transformasi Perpustakaan

46
×

Seminar Nasional di SMA Muhi Bahas Transformasi Perpustakaan

Sebarkan artikel ini
Seminar Nasional bertema Perpustakaan Artificial Intelligence dalam Pendidikan di SMA Muhi Yogyakarta menghadirkan gagasan baru transformasi perpustakaan menuju pusat pengetahuan modern.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY Achmad Muhammad, M.Ag. (Tagar.co/Yusron Ardi Darmawan)

Seminar Nasional bertema Perpustakaan Artificial Intelligence dalam Pendidikan di SMA Muhi Yogyakarta menghadirkan gagasan baru transformasi perpustakaan menuju pusat pengetahuan modern.

Tagar.co — Perpustakaan masa depan, dari sekadar ruang baca menjadi pusat pengetahuan modern. Hal itu tergambar dalam Seminar Nasional bertema Perpustakaan Artificial Intelligence dalam Pendidikan. Acara ini terselenggara oleh Perpustakaan SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogyakarta bersama Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (Atpusi) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Kamis (25/9/2025).

Bertempat di Grha As-Sakinah SMA Muhi, sebanyak 400 peserta mengikuti rangkaian acara, kegiatan mulai pukul 08.30 WIB dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan lagu Indonesia Raya mengawali acara ini. Seminar Nasional ini menghadirkan Keynote Speaker Ketua Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Nonformal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY Achmad Muhammad, M.Ag.

Selain itu ada dua narasumber utama turut mengisi sesi seminar. Dr. Eng. Ir. Sunu Wibirama, S.T., M.Eng., IPM, dosen Fakultas Teknik UGM, memaparkan aspek teknis Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung layanan perpustakaan, sementara Dr. Muhammad Najih Farihanto, S.I.Kom., MA., dosen Ilmu Komunikasi UAD sekaligus konten kreator, menyoroti perkembangan informasi dan media digital.

Baca Juga:  Menyibak Kabut Merapi: Menilik Sejarah Kelam Bunker dan Menikmati Guyuran Adrenalin

Kepala SMA Muhi Drs. H. Herynugroho, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan komitmen sekolah untuk terus berkolaborasi. “Kami ingin perpustakaan bukan hanya pusat literasi, melainkan juga pusat inovasi yang memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence,” ungkapnya.

AI Generatif Perkuat Perpustakaan

Sunu Wibirama menjelaskan AI generatif adalah teknologi yang mampu menciptakan konten baru semisalnya teks, gambar, musik, video, hingga kode program. Dengan mempelajari pola data yang ada. Berbeda dengan AI tradisional yang hanya fokus pada analisis data, AI generatif bisa menghadirkan karya kreatif seperti karya manusia. Mulai dari seni digital, penulisan otomatis, desain produk, hingga penelitian obat-obatan memanfaatkan teknologi ini.

“Teknologi ini menggunakan model seperti jaringan saraf Generative Adversarial Network (GAN) atau model pembelajaran mendalam lainnya untuk memahami data yang ada, kemudian menghasilkan output yang orisinal dan relevan,” ujarnya.

Namun, Sunu menekankan bahwa penerapan AI tidak bertujuan untuk menyingkirkan peran pustakawan. “AI justru menjadi alat bantu. Banyak pekerjaan pustakawan yang menumpuk dalam waktu singkat, dan teknologi ini bisa meringankan,” jelasnya.

Baca Juga:  Bawakan Bulan di Atas Kamboja, Mupus Spemdalas Unjuk Gigi di Olympicad Ke-8 Makassar

Ia mengingatkan, beberapa aktivitas kepustakawanan memang sudah beralih menggunakan teknologi informasi. Tetapi, keberadaan pustakawan tetap penting sebagai pengarah, kurator, sekaligus pendidik literasi. Dengan dukungan AI, perpustakaan justru dapat semakin relevan dalam meningkatkan literasi peserta didik maupun warga sekolah.

Seminar Nasional bertema Perpustakaan Artificial Intelligence dalam Pendidikan di SMA Muhi Yogyakarta menghadirkan gagasan baru transformasi perpustakaan menuju pusat pengetahuan modern.
Sebagian peserta Seminar Nasional SMA Muhi Yogyakarta. (Tagar.co/Yusron Ardi Darmawan)

Tradisi Membaca Digital

Muhammad Najih Farihanto menjelaskan bahwa budaya membaca digital menawarkan fleksibilitas. Format interaktif, kecepatan akses, serta keragaman konten membuat membaca terasa lebih dekat dengan gaya hidup Generasi Z. Namun, di balik kemudahan itu tersimpan tantangan yakni konsentrasi yang mudah terpecah, informasi dangkal, hingga maraknya hoaks.

“Literasi digital yang kuat menjadi kunci agar generasi ini mampu memilah informasi secara kritis dan tetap menjaga kualitas membaca,” tegasnya.

Seminar ini berlangsung hingga pukul 11.30 WIB. Suasana hangat tercipta lewat sesi tanya jawab, lalu dengan foto bersama, serta penyerahan cinderamata dari Kepala SMA Muhi Yogyakarta kepada para pemateri.

Dalam kesempatan yang sama, Achmad Muhammad mengajak perpustakaan sekolah untuk tidak berhenti berinovasi. “Melalui seminar ini diharapkan muncul gagasan membangun perpustakaan yang optimal dengan manajemen yang baik, serta menyediakan bahan bacaan yang informatif, edukatif, rekreatif, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Baca Juga:  Berbekal Kancing Lepas, Praktik Menjahit di Program Mugres Life Asah Ketelitian

Lebih dari sekadar forum akademik, seminar ini menjadi ruang pertemuan ide tentang bagaimana perpustakaan di masa depan mampu menjembatani tradisi membaca konvensional dengan budaya digital yang tengah mengakar kuat di kalangan generasi muda. (#)

Jurnalis Yusron Ardi Darmawan Penyunting Sayyidah Nuriyah/MS