
Hari-hari terakhir Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Ada keheningan yang terasa lebih dalam, seolah-olah ada sesuatu yang perlahan pergi—dan tidak semua orang menyadarinya.
Oleh Ansorul Hakim, Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA Negeri 1 Bojonegoro, Jawa Timur
Tagar.co – Tanpa terasa, Ramadan telah sampai di penghujungnya. Hari-hari yang dulu terasa panjang kini seolah berlari begitu cepat. Suasana yang beberapa waktu lalu begitu hidup—lantunan ayat suci, salat malam yang khusyuk, dan doa-doa yang lirih di sepertiga malam—perlahan akan menjadi kenangan.
Ramadan, tamu agung itu, sebentar lagi pergi.
Namun di balik kepergiannya, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan dalam-dalam: siapa yang benar-benar merasa kehilangan?
Baca juga: Mengukur Hasil Ramadan: Antara Ibadah dan Perubahan Diri
Tidak semua orang menyambut akhir Ramadan dengan perasaan yang sama. Ada yang menjalaninya seperti bulan biasa—datang dan pergi tanpa kesan berarti. Bahkan, tidak sedikit yang merasa lega saat ia berlalu.
Namun, di sisi lain, ada hati yang justru dipenuhi rasa haru. Ada kegelisahan yang halus, kesedihan yang tak terucap, dan kerinduan yang mulai tumbuh bahkan sebelum Ramadhan benar-benar pergi. Bagi mereka, Ramadhan bukan sekadar bulan—ia adalah pengalaman ruhani yang meninggalkan jejak mendalam.
Perbedaan ini tentu bukan tanpa sebab. Ia mencerminkan seberapa dalam seseorang menjalin hubungan dengan Ramadhan itu sendiri.
Dalam Al-Qur’an, Ramadan disebut sebagai bulan diturunkannya wahyu—petunjuk bagi manusia. Ia bukan sekadar waktu untuk menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum untuk kembali, memperbaiki diri, dan mendekat kepada Allah.
Maka wajar, mereka yang benar-benar menjadikan Ramadhan sebagai ruang perjumpaan dengan Tuhan akan merasakan kehilangan saat ia pergi.
Kita bisa melihat teladan itu dalam kehidupan Nabi Muhammad dan para sahabatnya. Mereka tidak hanya beribadah ketika Ramadhan tiba, tetapi juga merindukannya jauh sebelum ia datang, dan bersedih ketika ia berlalu.
Bagi mereka, Ramadan adalah kesempatan yang tak ternilai—sebuah peluang yang belum tentu hadir kembali dalam hidup mereka.
Para ulama pun menggambarkan hal serupa. Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa orang-orang saleh terdahulu berdoa selama enam bulan agar dipertemukan dengan Ramadhan, dan enam bulan berikutnya memohon agar amal mereka diterima. Ini menunjukkan betapa besar arti Ramadhan dalam kehidupan mereka.
Lalu, kembali pada pertanyaan itu: siapa yang benar-benar merasa kehilangan?
Mereka adalah orang-orang yang menemukan manisnya ibadah. Mereka yang merasakan kedekatan dengan Allah melalui salat malam, tilawah Al-Qur’an, dan doa yang tulus tentu akan merindukan suasana itu ketika Ramadhan berakhir.
Mereka juga adalah orang-orang yang merasakan perubahan dalam dirinya. Ramadan yang melatih kesabaran, menahan emosi, dan memperbaiki akhlak akan meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Perubahan itu bukan hanya terasa, tetapi juga ingin dipertahankan.
Dan yang tak kalah penting, mereka yang menyadari bahwa kesempatan ini belum tentu datang kembali. Kesadaran akan keterbatasan usia membuat Ramadan terasa begitu berharga—bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi peluang yang mungkin tidak akan terulang.
Sebaliknya, mereka yang tidak merasakan kehilangan biasanya adalah mereka yang belum benar-benar “bertemu” dengan Ramadhan. Ibadah dijalani, tetapi belum menyentuh hati. Aktivitas dilakukan, tetapi belum melahirkan perubahan. Ramadan hadir, namun tidak sempat meninggalkan makna.
Karena itu, menjelang kepergiannya, yang terpenting bukan sekadar meratapi, melainkan memastikan bahwa Ramadan meninggalkan jejak dalam diri kita. Nilai-nilai yang ia ajarkan—kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan, dan kepedulian—harus terus hidup, bahkan setelah bulan suci ini berlalu.
Sebab pada akhirnya, Ramadan boleh pergi, tetapi rohnya tidak boleh ikut hilang.
Ukuran keberhasilan Ramadan bukan terletak pada seberapa ramai ibadah yang kita lakukan selama sebulan, melainkan pada seberapa kuat perubahan itu bertahan setelahnya.
Jika kita menjadi pribadi yang lebih baik, lebih dekat kepada Allah, dan lebih peduli terhadap sesama, maka di situlah tanda bahwa Ramadhan benar-benar hadir dalam hidup kita.
Dan hanya hati yang pernah merasakan manisnya iman yang akan benar-benar merindukan Ramadhan—bahkan sebelum ia benar-benar pergi. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












