Feature

Presiden Prabowo Merespons Usulan Marsinah Jadi Pahlawan Nasional

29
×

Presiden Prabowo Merespons Usulan Marsinah Jadi Pahlawan Nasional

Sebarkan artikel ini
Monas bergelora di Hari Buruh Internasional atau May Day 2025. Ribuan suara massa menggema di Monas, menuntut Marsinah menjadi Pahlawan Nasional sebagai penghormatan atas jasanya memperjuangkan buruh. 
Marsinah.

Monas bergelora di Hari Buruh Internasional atau May Day 2025. Ribuan suara massa menggema di Monas, menuntut Marsinah menjadi Pahlawan Nasional sebagai penghormatan atas jasanya. Presiden Prabowo langsung merespons.

Tagar.co — Di bawah langit Jakarta yang membara, ribuan suara buruh menggema dari Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Bukan sekadar peringatan Hari Buruh Internasional biasa, May Day kali ini diwarnai gelombang tuntutan yang lebih dalam: pengakuan negara atas sosok Marsinah, aktivis buruh yang namanya tak lekang oleh waktu.

Di tengah lautan massa yang mengibarkan bendera dan spanduk, satu nama diteriakkan berulang kali: Marsinah! Para buruh, dengan semangat membara, meminta Presiden RI Prabowo Subianto untuk menetapkan aktivis buruh yang gugur pada 1993 itu sebagai Pahlawan Nasional. Sebuah tuntutan yang bukan hanya simbolis, tetapi juga pengakuan atas perjuangan panjang dan berdarah kelas pekerja Indonesia.

Marsinah, buruh perempuan dari PT Catur Putra Surya (CPS) di Sidoarjo, Jawa Timur, bukan sekadar nama dalam catatan sejarah. Ia adalah simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, suara yang lantang menuntut hak-hak buruh di tengah represi Orde Baru. Kepergiannya yang tragis pada 5 Mei 1993, setelah aksi mogok buruh, meninggalkan luka mendalam dan menjadi titik api perjuangan yang tak pernah padam.

Baca Juga:  Board of Peace dan Ujian Konsistensi Politik Luar Negeri Indonesia

“Dia bukan hanya pejuang hak buruh, tapi martir. Kami tidak ingin Marsinah hanya dikenang sebagai korban. Kami ingin negara mengakui perjuangannya,” seru seorang orator dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), suaranya menggelegar dari atas mobil komando.

Respons Prabowo: Sinyal Positif atau Janji Politik?

Presiden Prabowo Subianto, yang hadir langsung di tengah-tengah massa, memberikan respons yang mengejutkan. Di hadapan ribuan buruh, ia menegaskan komitmennya terhadap keadilan sosial dan perlindungan buruh. Namun, yang paling menarik adalah responsnya terhadap usulan penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional.

“Kalau semua komponen buruh di Indonesia sepakat dan mengusulkan secara resmi, saya sebagai Presiden siap mempertimbangkannya secara serius. Bahkan, saya bisa menyetujui penetapannya sebagai Pahlawan Nasional,” ujar Prabowo, disambut gemuruh tepuk tangan dan pekikan dukungan dari layar-layar besar di sekitar panggung utama.

Pernyataan ini dianggap sebagai sinyal positif, sebuah langkah maju yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, pertanyaan besar muncul: apakah ini sekadar janji politik atau komitmen nyata untuk mengakui sejarah kelam buruh Indonesia?

Baca Juga:  Perkara Dianggap Selesai

Respons Prabowo membuka babak baru dalam perjuangan pengakuan Marsinah. Aktivis buruh dan pengamat HAM menyambut baik, tetapi menekankan pentingnya langkah konkret selanjutnya. Ratih Dewanti, tokoh buruh perempuan, menegaskan, “Ini momentum yang tidak boleh terlewatkan. Jika Presiden Prabowo terbuka, maka tugas kita sebagai gerakan buruh adalah menyatukan kekuatan dan mendorong pengusulan resmi secara administratif dan politik.”

Sejarawan Dr. Eko Wahyudi dari Universitas Indonesia menambahkan, “Mengangkat Marsinah sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar penghormatan personal, tapi pengakuan negara atas sejarah buruh Indonesia yang selama ini dikesampingkan.”

May Day 2025 di Monas bukan sekadar peringatan tahunan. Ini adalah titik balik, momen ketika suara buruh bergema hingga ke ruang-ruang kekuasaan. Kini, bola ada di tangan serikat pekerja, aktivis, dan masyarakat sipil.

Akankah mereka mampu menyatukan suara dan menerobos dinding birokrasi? Akankah Marsinah, dari martir buruh, benar-benar diakui sebagai Pahlawan Nasional? Waktu yang akan menjawab. Tapi satu hal pasti: perjuangan untuk keadilan tak akan pernah berhenti. (#)

Baca Juga:  Menunda Tobat, Menunda Selamat

Jurnalis Dwi Taufan Hidayat Penyunting Sayyidah Nuriyah