Opini

Perikanan untuk Program MBG

19
×

Perikanan untuk Program MBG

Sebarkan artikel ini
Perikanan merupakan sektor yang potensi besar untuk memenuhi gizi anak-anak supaya sehat dan cerdas. Sejumlah hambatan ini harus diselesaikan pemerintah.
Ikan melimpah di laut Indonesia untuk program MBG.

Perikanan merupakan sektor yang potensi besar untuk memenuhi gizi anak-anak supaya sehat dan cerdas. Sejumlah hambatan ini harus diselesaikan pemerintah.

Oleh Terry Previo Avianto, Departemen Kelautan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga Surabaya.

Tagar.co – Makan Bergizi Gratis (MGB) menjadi janji politik Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka saat kampanye Pemilu 2024 lalu.

Janji itu sudah dilaksanakan di masa seratus hari memerintah. Tapi hanya di sebagian daerah. Juga sekali saja. Daerah lain menunggu. Ternyata anggarannya sangat besar. APBN tak sanggup merealisasi janji politik itu dilaksanakan serentak seluruh sekolah setiap hari.

Di tengah munculnya masalah dan cibiran atas program ini, pemerintah perlu melihat sektor perikanan sebagai sektor utama pemenuhan kebutuhan pangan nasional.

Indonesia negara maritim. Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah laut. Bukti nyata betapa besarnya potensi perikanan negeri ini.

Oleh karena itu, dalam program MBG seharusnya menjadikan perikanan sektor utama dalam meningkatkan gizi penerima program.

Potensi Perikanan

Luas laut Indonesia 5,8 juta Km persegi. Potensi perikanan sebesar 10,2 juta ton per tahun dari hasil tangkap laut. Ini produksi perikanan tangkap laut kedua terbesar di dunia setelah Tiongkok.

Baca Juga:  Membaca Langkah Prabowo ke Rusia

Laut Indonesia juga memiliki diversitas yang luas. Menjadi sumber pangan dan sumber penghasilan bagi masyarakat pesisir melalui pariwisata.

Berbeda dengan sektor peternakan dan pertanian yang hanya bisa diproduksi di darat dan sangat bergantung dengan tanah, di sektor perikanan, air bisa dibawa ke daratan dalam bentuk akuakultur atau perikanan budidaya.

Saat ini perikanan budidaya mencetak nilai produksi yang jauh lebih besar dari hasil tangkap laut, yaitu 56,8 juta ton per tahun.

Budidaya perikanan mulai diminati masyarakat karena tidak membutuhkan lahan yang luas seperti peternakan maupun pertanian.

Juga tidak membutuhkan perawatan yang intensif. Satu kolam bisa diisi berbagai macam komoditas. Perikanan dapat diintegrasikan dengan mudah ke peternakan dan pertanian, melalui sistem integrated farming.

Kebutuhan pakan sendiri, sektor perikanan dapat menghasilkan pakan alami yang dapat dikonsumsi oleh ikan. Dengan penambahan pakan formula dapat mempercepat proses budidaya hingga mencapai tahap siap panen.

Sumbangan Gizi

Soal gizi yang disumbangkan oleh sektor perikanan mencapai 60 persen dari kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia. Sisanya 40 persen dipenuhi oleh sektor lain seperti peternakan ayam, sapi, kambing, telur, susu.

Baca Juga:  MBG dan Ujian Negara: Dari Dapur Rakyat hingga Mahkamah Konstitusi

Protein merupakan katalis utama untuk pertumbuhan manusia terutama fisik dan otak. Protein juga membantu tubuh membentuk enzim dan hormon yang mendukung sistem kekebalan tubuh.

Dalam program MBG (Makan Bergizi Gratis) untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah dan mengentaskan gizi buruk stunting. Juga mempersiapkan generasi yang sekarang masih tumbuh menjadi unggul untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.

Di tahun itu Indonesia mendapatkan bonus demografi dengan banyaknya masyarakat yang berada di usia produktif.

Oleh karena itu generasi penerus bangsa harus menjadi masyarakat yang unggul cerdas dalam berpikir, kreatif, dan memiliki ketahanan tubuh yang baik.

Sektor ini seharusnya menjadi pilar dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani pada program MBG ini.

Hambatan

Ada beberapa masalah sektor perikanan yang harus diselesaikan sebelum menjadi pilar utama pemenuhan gizi anak-anak secara nasional.

Pertama, sektor perikanan di Indonesia masih underutilize alias kurang dimanfaatkan. Baru 25 persen dari potensinya yang dimanfaatkan.

Perikanan tangkap yang menghasilkan 10,8 juta ton produksi juga memiliki masalah. Yaitu kapal penangkap ikan masih belum menggunakan metode penangkapan modern. Kapal nelayan Indonesia belum menerapkan sistem processing on board. Yaitu ikan yang ditangkap langsung diolah menjadi produk jadi di atas kapal. Proses ini dapat memangkas waktu produksi.

Baca Juga:  Silence of the Experts dan Demokrasi yang Gelisah

Ikan tangkapan tidak perlu dibawa ke darat terlebih dahulu. Jadi bisa memotong biaya transportasi.

Kedua, mahalnya biaya logistik dari fishing ground hingga ke pasar menjadikan harga ikan juga mahal. Dulu pemerintah membuat jalur tol laut yang diharapkan menurunkan biaya logistik namun realisasinya tak jelas.

Perikanan budidaya juga masih banyak kendala soal keterbatasan penggunaan teknologi seperti IoT dan manajemen budidaya. Akibatnya harga ikan tergolong mahal.

Ketiga, unit pengolahan ikan juga harus dialihkan fokus produksinya untuk pasar lokal. Optimasi lini produksi dari penggunaan teknologi dan permesinan juga harus didukung oleh pemerintah untuk menurunkan cost dan menjaga kualitas.

Pemenuhan protein menjadi krusial dalam program MBG. Protein, terutama dari hewan, merupakan komponen utama untuk pertumbuhan otak dan juga membangun antibodi membuat masyarakat lebih sehat dan tahan terhadap berbagai penyakit.

Sebagai penyumbang 60 persen kebutuhan protein hewani masyarakat, pemerintah perlu mendorong produksi hulu hingga hilir produk perikanan menjadi efisien dan berbiaya murah sehingga dapat digunakan menjadi pilar utama MBG. (#)

Penyunting Sugeng Purwanto

Opini

Sorakan terhadap satu pihak sering kali lahir dari…