
Di balik keheningan suaraku yang parau, aku menemukan ruang untuk menulis, merenung, dan menyimak. Tenda Mina menjadi tempat lahirnya hikmah dari sunyi yang penuh makna.
My Journey on Hajj 2025 (Seri 5); Oleh Anandyah RC, S.Psi, Jemaah Haji KBIH Nurul Hayat Surabaya
Tagar.co – Sabtu, 11 Zulhijah 1446 atau 7 Juni 2025. Hari itu, aku dan rombongan jemaah Nurul Hayat yang tersebar di beberapa maktab memutuskan untuk istirahat total. Kami ingin memulihkan tenaga setelah beberapa hari yang sangat padat.
Aku pun memanfaatkan waktu tenang itu untuk menuliskan kisah perjalananku—kisah yang sempat tertunda karena kondisi tubuh yang belum sepenuhnya prima.
Baca juga: Bahagia Menyongsong Armuzna: Instal Ulang Pikiran untuk Kemabruran Haji
Pukul 00.00, aku terbangun. Teringat belum menunaikan salat jamak setelah melempar jumrah. Tubuh terasa segar. Segera kuarahkan langkah ke toilet. Masih sepi, sebagian besar jemaah masih terlelap.
Kusiram wajah, gosok gigi, lalu berwudu. Tenda tempat kami tinggal cukup dingin karena AC menyala penuh. Kembali ke tempat tidur, aku menunaikan salat fardu, dilanjutkan tahajud, dan ditutup dengan witir tiga rakaat.
Perut mulai mengingatkan bahwa aku belum makan. Kucari makan malam yang dititipkan temanku di samping tempat tidur. Meski dingin dan bumbunya terasa asing di lidahku, tetap kulahap—keroncongan tak bisa ditawar. Alhamdulillah, seperempat porsi nasi habis, ditambah lauk daging berukuran besar dan sayur wortel, buncis, serta kacang polong berbumbu sarden.
Setelah merasa cukup kenyang, aku tidur kembali sambil menanti waktu subuh. Ketika azan berkumandang, segera aku tunaikan salat subuh. Usai salat, tilawah satu juz kujalani sambil menanti waktu suruk. Tak lupa kututup dengan salat sunah duha.
Sarapan sudah menanti. Mumpung masih hangat, segera kumakan. Nafsu makan mulai membaik. Mungkin karena memang lapar. Nasi dalam porsi besar itu pun tandas. Aku pun minum vitamin C dan obat tenggorokan. Kata dokter, kunci untuk sembuh adalah istirahat cukup dan asupan vitamin yang memadai.
Karena tak mengantuk lagi, kubuka ponsel. Kutulis ulang pengalaman tiga hari sebelumnya. Satu per satu selesai. Lalu kuunggah ke grup keluarga dan sahabat—agar mereka tahu aku masih hidup dan sehat di sini.
Sebab tak sedikit jemaah yang telah gugur, bahkan sebelum mencapai puncak haji, atau saat menjalani rangkaiannya. Stres, dehidrasi, tekanan darah tinggi, dan kelelahan adalah beberapa penyebab paling umum. Aku ingin mereka yang membaca kabarku, terus mendoakan kami, menyemangati, dan menjaga semangatku tetap menyala di tengah ujian ini.
Alhamdulillah, terima kasih untuk doa-doa tulus itu. Tanpanya, kami mungkin tak sekuat ini.
Hari ini kami tidak melakukan lempar jumrah. Kami diberi waktu istirahat penuh, untuk memulihkan kaki dan punggung yang njarem—kata orang Jawa. Lemparan jumrah hari ini akan digabungkan dengan yang terakhir esok pagi selepas subuh. Pembimbing haji kami menyebutnya tadaruk, penggabungan waktu lempar jumrah kedua dan ketiga, semacam jamak dalam salat.
Kami pun tetap di dalam tenda, beristirahat bersama. Keluar tenda? Panas menyengat. Tenda kami di Mina tak sebesar di Arafah, hanya cukup untuk 34 orang.
Kemarin, selepas lempar jumrah, kami sudah berganti dari pakaian ihram. Wajah-wajah jemaah tampak lega. Ibu-ibu mulai berganti pakaian, memakai bedak, wewangian, dan riasan. Aku hanya menyapukan sedikit bedak ke wajah, agar tak terlihat kumus-kumus—istilah Jawa yang berarti kusut. Tanpa wewangian atau riasan, sesuai kebiasaanku sehari-hari.
Tenda ramai oleh gelak tawa dan obrolan ibu-ibu. Cerita demi cerita mengalir, semua ingin berbagi kisah. Ada yang bersiap jalan-jalan keluar maktab, sebagian lagi menggandeng pasangannya berjalan-jalan ringan. Di luar, suara bapak-bapak juga ramai. Ada yang ngopi, ada pula yang duduk santai di pinggir jalan.
Pagi itu, selepas salat duha, aku memilih berdiam di dalam tenda. Duduk di pojok atas tempat tidurku, kutulis pengalaman yang masih hangat dalam ingatan. Telingaku tetap menangkap suara di sekitarku. Kadang tersenyum mendengar cerita lucu para jemaah yang penuh ekspresi. Tapi aku tak ikut menimpali. Suaraku belum pulih.
Alhamdulillah, di balik ujian pita suara ini, ada hikmah besar. Aku lebih terjaga dalam lisan. Tidak mudah terseret dalam pembicaraan yang tak berguna. Seperti pesan ustazku sebelum berangkat: hindari perdebatan, berbantah-bantahan, hindari celaan, perkataan sia-sia saat di Arafah dan Mina. Isilah waktu dengan membaca Al-Qur’an dan hal bermanfaat.
Waktu benar-benar cukup untuk merangkai kisah perjalananku. Jam 9 pagi, dua tulisan My Journey telah selesai. Aku dan suami pun keluar maktab sebentar, refreshing.
Kami sempat mampir ke Ben Dawood, tapi urung belanja karena antreannya mengular dan suhu mulai panas. Kami memutar arah, lalu berhenti sejenak di depan pos pemadam kebakaran di samping maktab. Senam ringan, agar badan tetap lentur.
Kembali ke maktab, kucari air hangat. Tenggorokanku terasa lebih nyaman. Suara mulai keluar meski masih parau. Kutemui dokter Indonesia, periksa kondisi dan minta obat. Dapat empat macam: batuk, pilek, pengencer dahak, dan antibiotik.
Sampai di tenda, kutelan obat dan kembali tidur hingga waktu zuhur. Kuambil rukhsoh menjamak zuhur dan asar. Setelah itu makan siang dan minum obat lagi. Lalu kuteruskan menulis.
Aku berharap, semua tulisan ini kelak menjadi buku kisah perjalanan hajiku. Bukan sekadar catatan, tapi pengingat akan momen sakral yang akan terus menginspirasi dan menguatkan—agar selepas haji aku tetap menjaga akhlak, memperbaiki diri, dan memberi manfaat bagi umat. Karena itulah hakikat haji mabrur yang selalu kami cita-citakan. (#)
Penyunting Mohammad Nurfatoni












