Feature

Parfum Eight-Blue Karya Siswa Smamdela Kantongi Sertifikat Merek Resmi

17
×

Parfum Eight-Blue Karya Siswa Smamdela Kantongi Sertifikat Merek Resmi

Sebarkan artikel ini
Siswa Smamdelagres sukses ciptakan parfum Eight-Blue yang telah bersertifikat Kemenkumham, diproduksi mandiri, dan telah terjual lebih dari 1.000 botol.
Laboratorium IPA Smamdela sebagai tempat produksi Parfum Eight-Blue. (Tagar.co/Rada Dewi Sinta)

Siswa Smamdela sukses ciptakan parfum Eight-Blue yang telah bersertifikat Kemenkumham, diproduksi mandiri, dan telah terjual lebih dari 1.000 botol.

Tagar.co – Di balik dinding Laboratorium IPA SMA Muhammadiyah 8 Gresik (Smamdela), sekelompok siswa-siswi tak hanya berkutat dengan rumus dan praktikum biasa. Lebih dari itu, mereka tengah meracik sebuah mimpi yang terwujud dalam sebotol parfum. Namanya Eight-Blue.

Kreativitas siswa Smamdela tak bisa dipandang sebelah mata. Berawal dari eksperimen sederhana destilasi kulit jeruk di ruang kelas riset, kini mereka berhasil menciptakan Eight-Blue. Parfum karya pelajar ini sudah mengantongi sertifikat merek resmi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemenkumham).

Berdasarkan sertifikat bernomor IDM001241016, Eight-Blue resmi terdaftar sejak 17 Januari 2024, dengan masa perlindungan 10 tahun. Dengan sertifikat merek ini, Eight-Blue secara resmi mendapat pengakuan negara. Alhasil, produknya terlindungi secara hukum dan lebih leluasa mereka pasarkan secara luas.

Menariknya, semua lini produksi parfum ini siswa sendiri yang mengerjakan. Tak hanya meracik parfum, mereka juga mendesain kemasan bersama teman-teman dari ekstrakurikuler Desain Komunikasi Visual (DKV).

Baca Juga:  Ketika Kepala Spemdalas Lantumkan Lagu Sepohon Kayu di Leadership Training PR IPM

Seluruh proses produksi, mulai dari peracikan hingga pengemasan, langsung di Laboratorium IPA Smamdelagres yang disulap menjadi “pabrik” mini. Eight-Blue saat ini tersedia dalam tujuh varian aroma. Ada Citrus, Baccarat, Coffee, Vanilla Rose, Baby, Popcorn, dan Bubblegum.

Parfum ini dikemas dalam botol ukuran 25 ml (Rp7.000) dan 55 ml (Rp12.000). Meski terbilang usaha kecil, penjualannya rata-rata mencapai 20 botol per varian per bulan. Penjualan dengan sistem pre-order (PO) melalui WhatsApp resmi atau TikTok Shop @m8officialshop. Sejak 2022, total lebih dari 1.000 botol sudah terjual.

Setiap botolnya seolah menyimpan cerita dan kerja keras para siswa. Dengan sentuhan kemasan yang apik, parfum ini siap bersaing di pasar lokal.

Siswa Smamdelagres sukses ciptakan parfum Eight-Blue yang telah bersertifikat Kemenkumham, diproduksi mandiri, dan telah terjual lebih dari 1.000 botol.
Tim Kelas Riset Generasi Ketiga. (Dokumentasi Motreight-Tim DKV Smamde)

Dari Generasi ke Generasi

Proyek ini sudah berjalan lintas generasi. Generasi pertama oleh Dian Saputri, Naura Fairuz, dan Tyara Gadiz N. Sementara kini telah memasuki generasi ketiga. Selama perjalanan, tentu tidak selalu mulus.

“Anak-anak pernah mengalami kegagalan, mulai dari aroma yang kurang tahan lama, kemasan bocor, atau strategi pemasaran yang salah,” kata Diana Ekowati, S.Si, pembina Kelas Riset.

Baca Juga:  Dapat Penghargaan, Polisi Cilik Mugeb Berdiri di Barisan Kehormatan Polres Gresik

“Tapi mereka selalu kami ajak evaluasi bersama, menganalisis masalah, dan mencari solusi. Prinsipnya, berani mencoba, berani gagal, dan terus berbenah,” imbuhnya.

Tyara Gadiz N., salah satu siswa generasi pertama, mengaku bangga dengan pencapaian ini. “Rasanya seperti mimpi. Awalnya hanya proyek kecil di kelas, sekarang Eight-Blue sudah punya sertifikat resmi dan bisa dijual lebih luas,” katanya antusias.

Eight-Blue hanyalah awal. Siswa kelas riset juga tengah mengembangkan dua merek baru: Atheera untuk lilin aromaterapi dan Arum untuk sabun hand made. Keduanya direncanakan juga akan diajukan hak patennya.

Dengan semangat, dedikasi, dan dukungan penuh, impian itu tak lagi sekadar wacana. Dari laboratorium sederhana di Gresik, aroma harapan itu kini mulai menyebar. Siapa tahu, suatu hari parfum Eight-Blue bisa bersaing di etalase toko nasional, atau bahkan go international sebagai karya anak bangsa. (#)

Jurnalis Liset Ayuni Penyunting Sayyidah Nuriyah