Feature

Media Indonesia Hadapi Era ‘Ter-AI-kan’

157
×

Media Indonesia Hadapi Era ‘Ter-AI-kan’

Sebarkan artikel ini
Media Sustainability Forum 2025, di Jakarta, Rabu (3/12/25)

Perkembangan AI mengubah wajah jurnalisme, tapi para jurnalis Indonesia harus tetap menekankan verifikasi dan tanggung jawab editorial.

Tagar.co – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) terus mengubah wajah dunia pers. Hal ini mendorong lembaga media untuk memperkuat pemahaman sekaligus adaptasi terhadap teknologi yang bergerak cepat tersebut.

Menjawab tantangan ini, Media Sustainability Forum 2025 digelar dengan fokus pada pemanfaatan AI dalam produksi konten kreatif di era digital. Forum berlangsung pada Rabu, 3 Desember 2025, di Antara Heritage Center, lokasi bersejarah yang menjadi pusat aktivitas informasi di Jakarta Pusat.

Kegiatan ini menghadirkan beragam pemangku kepentingan industri media untuk membahas strategi penguatan kualitas jurnalisme di tengah derasnya inovasi teknologi. Forum diselenggarakan oleh Dewan Pers, Indonesian Digital Association (IDA), dan Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB).

Baca juga: Peran Baru Jurnalis, Melatih AI Menulis Berita

Ketiga institusi ini memiliki satu misi besar: memastikan keberlanjutan industri media di tengah pergeseran pola konsumsi informasi masyarakat. Salah satu agenda utama forum adalah pelatihan “AI untuk Produksi Kreatif Media”, yang memperkenalkan fungsi AI dalam mendukung proses kreatif di ruang redaksi, mulai dari riset, kurasi data, hingga produksi visual.

Baca Juga:  Senyum yang Kembali Tumbuh di Pacitan: Omah Balam Hadir untuk Penyandang Disabilitas Berat

Format hybrid yang diterapkan memungkinkan partisipasi luas, baik dari peserta yang hadir langsung maupun masyarakat yang mengikuti melalui siaran streaming di kanal YouTube Dewan Pers. Forum ini memberi peserta pemahaman mendalam tentang teknologi AI, khususnya dalam penyusunan laporan jurnalistik dan pengembangan konten digital.

Dalam sesi awal, AI dipaparkan sebagai teknologi yang membawa peluang sekaligus risiko dalam kerja jurnalistik modern. AI mampu mempercepat produksi berita, menyediakan data awal, dan mendukung analisis konten dalam waktu singkat. Namun, penggunaannya juga berpotensi menimbulkan persoalan, seperti akurasi informasi, bias data, hingga risiko penyalahgunaan untuk konten menyesatkan.

Rosarita Niken Widiastuti, anggota Dewan Pers, mengingatkan bahwa informasi dari AI tidak selalu tepat. Proses verifikasi tetap menjadi langkah krusial sebelum konten dipublikasikan. Ia juga memaparkan konsep mediamorphosis, yaitu perubahan bentuk media akibat teknologi, dinamika sosial-politik, dan transformasi perilaku konsumsi informasi masyarakat.

Sementara itu, Dian Gemiano, Ketua Umum IDA, menyebut bahwa dunia kini memasuki fase baru yang ia sebut “era ter-AI-kan”. Ia menekankan pentingnya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia agar mampu memanfaatkan AI secara produktif dan bertanggung jawab.

Baca Juga:  AI, Koding, dan Tantangan Mencetak Generasi Berakhlak

Dian menambahkan bahwa sejak kemunculan AI generatif pada 2023, banyak perusahaan media dan industri kreatif mengalami efisiensi biaya produksi yang signifikan. Mengutip kajian McKinsey & Company, Dian menyebut perusahaan dengan pemanfaatan AI tinggi umumnya memiliki kinerja lebih unggul dan mampu bersaing secara global.

Meski demikian, Dian menegaskan, penggunaan AI tidak boleh mengabaikan nilai utama jurnalisme: keakuratan, kejelasan, dan tanggung jawab editorial. Rosarita menambahkan, Dewan Pers telah menerbitkan pedoman penggunaan AI sejak Januari 2025, menegaskan AI hanya sebagai alat bantu kreatif, bukan pengganti jurnalis. Setiap konten yang melibatkan AI tetap menjadi tanggung jawab penuh institusi media.

Melalui forum ini, para pemangku kepentingan berharap dunia pers Indonesia tetap relevan, adaptif, dan mampu menjaga kepercayaan publik di tengah arus transformasi teknologi yang terus berkembang.

Jurnalis Edi Susanto Penyunting Mohammad Nurfatoni