
Universitas Airlangga kukuhkan lima Guru Besar Fakultas Sains dan Teknologi (FST) dengan riset mutakhir di bidang farmasi, sensor kimia, bioteknologi, biomaterial, dan lingkungan. Lima inovasi untuk mendorong kemandirian bangsa.
Tagar.co — Kamis pagi itu, Aula Garuda Mukti Kampus C Universitas Airlangga (Unair) terasa lebih khidmat dari biasanya. Di hadapan para sivitas akademika, mitra institusi, dan keluarga besar, lima ilmuwan terbaik Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Unair berdiri gagah. Mereka bukan sekadar menyandang gelar baru—tetapi membawa gagasan besar yang berpotensi mengubah wajah sains dan teknologi Indonesia.
Dalam sidang terbuka tersebut, Unair mengukuhkan lima guru besar dari berbagai disiplin ilmu. Bukan hanya simbol prestasi akademik, pengukuhan ini menandai lahirnya terobosan-terobosan ilmiah yang siap menjawab tantangan zaman dan mendorong kemandirian bangsa.
Menjawab Tantangan dengan Ilmu
Prof. Dr. Hery Suwito, Drs., M.Si., membuka rangkaian orasi ilmiah dengan tema Inovasi Desain dan Sintesis Senyawa Bioaktif. Ia menyoroti pentingnya riset bahan baku obat agar Indonesia tidak lagi bergantung pada impor.
“Dengan inovasi sintesis senyawa, kita bisa menghadirkan solusi obat yang terjangkau dan berkualitas bagi rakyat,” ujarnya.
Dari laboratorium sensor kimia, Prof. Dr. Muji Harsini, Dra., M.Si., memaparkan peran teknologi elektrometri dalam menciptakan sensor berakurasi tinggi untuk mendeteksi bahan berbahaya. “Sensor kimia yang andal akan menjadi tulang punggung industri kesehatan dan lingkungan ke depan,” katanya.

Mikroba, Biomaterial, dan Harapan Baru
Sementara itu, Prof. Dr. Sri Sumarsih, Dra., M.Si., membawa audiens ke dunia mikrobiologi. Dalam orasinya Inovasi Pengembangan Lipase Unggul, ia menjelaskan bagaimana mikroba lokal dapat menghasilkan enzim lipase yang sangat dibutuhkan industri pangan dan energi terbarukan.
Baca juga: Prof. Muhammad Madyan Terpilih sebagai Rektor Unair, Siap Wujudkan Target 200 Besar Dunia
Di bidang kesehatan, Prof. Dr. Prihartini Widiyanti, drg., M.Kes., S.Bio., memukau hadirin dengan orasi tentang Rekayasa Jaringan dan Organ Buatan Berbasis Biomaterial Inovatif. Penelitiannya membuka jalan bagi penyembuhan cedera tubuh manusia dengan biomaterial canggih.
Adapun Prof. Dr. Salamun, Drs., M.Kes., menutup sesi dengan membahas Prospek Agensia Hayati Bacillus spp. Mikroba ramah lingkungan ini, menurutnya, dapat menjadi solusi multifungsi di sektor pertanian, kesehatan, hingga pengelolaan lingkungan.
Bukan Sekadar Gelar, tetapi Tanggung Jawab Bangsa
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Mohammad Nasih, S.E., M.T., Ak. menekankan bahwa pengukuhan ini bukan hanya pengakuan prestasi akademik, tetapi juga panggilan untuk berkarya nyata.
“Karya-karya ilmiah ini bukan untuk lemari arsip, tapi untuk masyarakat. Untuk kemajuan Indonesia,” tegasnya.
Suasana Aula Garuda Mukti dipenuhi rasa bangga. Kelima guru besar tidak hanya menjadi simbol keberhasilan pribadi, tetapi juga lentera bagi masa depan ilmu pengetahuan Indonesia. (#)
Jurnalis Muhammad Hidayatulloh












